
Air mata Mitha tak terbendung lagi, mengalir deras bak air hujan yang turun dari langit. Tangan kecilnya mengusap pipi menghalau air yang terus menetes. Langkah kakinya dipercepat agar bisa segera memeluk sang suami yang telah lama dirindukan.
"Sayang," panggil Celo lirih dengan kedua tangan membentang siap menerima sang kekasih masuk ke dalam pelukannya.
Mitha menubrukkan tubuhnya ke dalam pelukan sang suami. Tangis yang tadi sempat berhenti, kini mulai membanjiri momen penting itu. Marcelo memeluk erat tubuh sang istri, seolah tak bisa dipisahkan lagi.
Marcelo melepas pelukannya, tangan laki-laki tampan itu terulur untuk mengusap sisa air mata sang istri. Matanya memindai sang istri dari atas kepala hingga ke kaki. Ada yang berbeda tetapi dia sangat suka dengan perubahan sang istri.
Walaupun badannya tidak ada perubahan kecuali perut yang membuncit. Tangan Celo terulur mengusap perut sang istri yang tampak bulat dan membuncit. Hatinya bergetar seperti memiliki ikatan batin dengan janin dalam rahim sang istri karena janin itu tiba-tiba bergerak seolah menyapa.
"Anakku?" tanya Marcelo dan diangguki oleh Mitha.
Marcelo kembali memeluk sang istri, tak lupa memberikan kecupan-kecupan kecil pada puncak kepalanya. Mata laki-laki itu berkaca-kaca, rasa bahagia bercampur haru membuatnya meneteskan air mata. Air mata bahagia mengiringi pertemuan sepasang kekasih yang telah lama berpisah.
Mitha mengajak sang suami masuk ke dalam kios yang digunakan untuk kamar. Walaupun ruangan itu kecil, tetap bersih dan rapi, sehingga menimbulkan rasa nyaman bagi penghuninya.
"Kamu tinggal di ruangan sempit ini, Sayang?" tanya Celo dengan suara yang menyiratkan kesedihan dan penyesalan.
__ADS_1
"Ini mah lebih mending, Kak. Sebelum-sebelumnya lebih parah lagi. Tidur di atas tanah ditungguin sama harimau aja pernah," jawab Mitha dengan senyum mengembang karena bisa bertemu sang pemilik hati.
Celo tercengang mendengar cerita sang istri yang hanya tidur di atas tanah tanpa alas apapun. Sungguh malang nasib istrinya itu sejak dia mengenalnya. Tinggal bersama mertua dijadikan babu, keluar dari rumah itu diculik dan dibuang ke hutan. Kini, hidup serba pas pasan dalam keadaan hamil.
"Maaf, maaf karena belum bisa membuatmu bahagia. Maaf juga tidak bisa melindungi kamu dari kedzoliman mami." Marcelo meminta maaf pada sang istri dengan bersujud di kaki Mitha.
Dengan susah payah Mitha membantu sang suami berdiri. Wanita itu tidak ingin suaminya sampai merendahkan diri di hadapannya hanya demi sebuah kata maaf.
"Kak Celo bangun dulu. Sebelum Kak Celo meminta maaf, sudah Mitha maafkan. Mitha yang seharusnya minta maaf karena belum bisa menjadi istri yang baik untuk Kak Celo, juga belum bisa menjadi menantu yang baik buat mama papa," sahut Mitha dengan air mata bercucuran.
"Gombal!"
"Kok gombal sih? Aku tuh ngomong apa adanya loh, jujur. Apa yang aku katakan itu berdasarkan kenyataan."
Bu Wiwin yang mendengar perdebatan suami istri itu, ikut merasa bahagia. Apalagi saat tadi tidak sengaja melihat betapa manjanya Mitha terhadap sang suami. Benar-benar membuat Bu Wiwin merasa sangat bersyukur bisa bertemu dengan wanita sebaik Mitha, padahal usianya masih sangat muda untuk ukuran rumah tangga.
Usai melepas rindu di dalam kamarnya, pasangan muda itu keluar untuk membantu Bu Wiwin. Namun, wanita paruh baya itu menolak bantuan dua sejoli itu. Dia tahu pasangan itu pasti masih sangat merindu.
__ADS_1
Sore harinya, Marcelo meminta izin pada Bu Wiwin untuk membawa sang istri pulang. Istirahatnya sudah cukup tadi siang, sekarang saatnya untuk kembali melakukan perjalanan. Mitha sebagai seorang istri hanya bisa patuh dan menurut keinginan sang suami.
"Sebenarnya berat hati ibu melepaskan kalian pergi dari rumah. Tetapi ibu sadar kamu sudah berkeluarga. Hati-hati di jalan, Nak. Jangan lupakan wanita miskin yang tak berharga ini," ucap Bu Wiwin sambil menahan tangis.
Ibu dan anak yang tidak memiliki hubungan darah itu saling berpelukan seolah tak ingin terpisahkan. Kebersamaan mereka walau hanya sebentar, tetapi mampu meninggalkan kenangan indah bagi keduanya.
Marcelo ikut pamitan pada wanita paruh baya yang telah menolong istrinya itu. Laki-laki itu sangat berterima kasih pada Bu Wiwin dan merasa berutang budi.
Sementara di kota Kecil, Damian sedang kalang kabut ketika mendapat telepon dari pihak berwajib, jika sang anak mengalami kecelakaan dan terluka parah. Konsentrasi laki-laki berwajah bule itu pun menjadi buyar. Pikirannya kalut tidak menentu mendengar kabar itu.
*
*
*
__ADS_1