
"M-mama?"
"Kenapa kaget? Ketahuan busuknya kamu," tanya Rosita dengan tatapan tajam siap menghunus.
"M-maksud Mama apa ngomong seperti itu?'"
"Heh, tak usah banyak drama kamu! Bak kura-kura dalam perahu. Semakin kamu ingin menguasai Celo, semakin aku akan memisahkan kalian!" Rosita meninggalkan menantunya mematung di teras, setelah memberikan kalimat pedas dan ancaman.
Mitha hanya bisa meneteskan air matanya mendengarkan setiap kata yang terlontar dari bibir sang mertua. Sungguh tak ada maksudnya untuk menguasai sang suami, bahkan mempengaruhinya untuk melawan orang tua, terlebih ibunya. Namun, sepertinya sang ibu mertua salah mengartikan alasan sang anak yang selalu membangkang.
Rasa sakitnya selama menjadi istri seorang Marcelo Weasley, sama sekali tidak merubah rasa cintanya pada sang suami. Biarlah dia dikatakan gila karena terlalu mencintai Marcelo. Mungkin inilah yang dinamakan cinta gila karena rela menderita bahkan gila karena cinta.
Mitha menghapus air matanya, lalu masuk ke rumah besar itu untuk melanjutkan aktivitas seperti biasa. Walau perutnya telah membesar karena usia kandungan yang telah menginjak dua puluh empat minggu, tak menyurutkan keinginan istri Marcelo itu untuk beraktivitas seperti ibu rumah tangga pada umumnya.
"Non, biar Tinah saja yang kerjakan. Kasihan dedeknya pasti ikut capek," ucap TInah sang asisten rumah tangga yang usianya sama dengan Marcelo.
__ADS_1
"Gak pa-pa, Mbak. Sekalian olah raga, biar tetap fit badanku," sahut Mitha sambil mengambil pakaian dari mesin pengering.
"Kamu jemurin aja, biar aku lanjut nyuci," sambung istri Celo itu dengan senyum mengembang.
Tinah dengan patuh langsung mengangkat keranjang cucian yang terisi penuh. Masih satu kali putaran lagi cucian yang harus diselesaikan oleh menantu Weasley satu-satunya itu. Walaupun setiap hari harus memasak dan mencuci pakaian, Mitha menjalani semua itu dengan hati riang gembira.
Wanita yang berperut buncit itu malah senang memiliki kegiatan, sehingga badannya bisa tetap bergerak aktif demi menjaga kesehatan. Jika dia malas-malasan, tidak melakukan aktivitas apa pun pasti akan sangat berpengaruh pada kesehatan juga kandungannya. Selagi pekerjaan yang dilakukan masih sanggup dia kerjakan, akan dikerjakannya tanpa menunggu diperintah oleh siapa pun juga.
Selesai mencuci pakaian, wanita hamil itu duduk di matras sambil melakukan yoga. Dengan senam yoga, pikirannya menjadi lebih tenang selain itu badannya terasa bugar. Marcelo sendiri tidak pernah melarang sang istri melakukan kegiatan apa pun asalkan tidak mengganggu kesehatan janin dan ibunya.
Setelah satu jam berperang dengan perkakas masak, akhirnya semua menu makan siang sudah terhidang di atas meja makan. Setelah itu, Mitha masuk ke kamar untuk membersihkan diri karena waktu dhuhur tinggal beberapa menit lagi.
Sebelum pergi ke kamarnya, istri Marcelo itu sudah berpesan pada Mbok Surti dan Mbak Tinah untuk menyiapkan apa saja yang belum ada di meja makan. Setelah itu barulah Mitha bisa istirahat di kamarnya dengan tenang.
Saat menunaikan ibadah sholat, sang suami masuk ke dalam kamar. Laki-laki itu terus berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.
__ADS_1
"Kenapa tidak menunggu kakak, hmm?" tanya Celo begitu keluar dari kamar mandi mendapati sang istri baru saja melipat mukenahnya.
"Mitha pikir Kak Celo tidak pulang. Jadi, langsung aja sholat. Ya maaf," jawab Mitha seraya mengulas senyum termanisnya.
Marcelo mengangguk lalu langsung mengenakan baju koko dan sarung yanng sudah disiapkan oleh sang istri. Mitha memilih duduk di sofa menunggu sang suami selesai menjalankan kewajibannya.
"Kenapa masih di sini? Apa kamu belum lapar, hmm?"
"Sengaja menunggu Kakak, biar bareng jalannya," sahut Mitha tersenyum.
Pasangan muda itu keluar dari kamar dengan tangan saling bertaut, seolah tak terpisahkan. Mereka tiba di ruang makan saat semua keluarga sudah berkumpul di sana.
"Maaf lama, tadi laporan dulu," ucap Celo nyengir, menampakkan deretan gigi putihnya.
Ternyata ucapan Celo diartikan lain oleh sang ibu, sehingga wanita usia empat puluh dua tahun itu murka.
__ADS_1
"Memangnya kamu itu siapa? Sampai anakku harus melaporkan setiap apa yang dikerjakan," cecar Rosita begitu saja sesaat setelah sang anak berbicara