
"Mami .... Mami jangan marah dulu! Celo tidak membuat laporan pada Mitha, tadi Celo terlambat pulang karena banyak sekali laporan yang harus segera diselesaikan sebelum jam istirahat. Oleh karena itu, Celo terlambat sampai rumah dan Mitha menunggu Celo untuk makan siang bersama," jelas Marcelo pada sang ibu agar reda amarahnya.
Rosita hanya melengos, lalu melanjutkan makan siangnya. Damian yang melihat hal itu hanya bisa menggelengkan kepala. Laki-laki paruh baya itu memilih diam daripada harus adu mulut saat makan, bisa-bisa mood-nya hilang saat itu juga.
Seperti biasa, Mitha akan melayani sang suami terlebih dahulu baru mengambil nasi untuk dirinya sendiri. Walaupun sering mendapatkan amukan sang ibu mertua, istri Marcelo itu tetap memilih diam. Baginya diam lebih baik daripada bersuara tetapi menambah dosa.
Setengah jam kemudian, mereka sudah selesai makan bersama. Namun, Damian meminta semuanya untuk tetap duduk di tempat.
"Lain kali jangan asal tuduh saja, Ros. Kamu bisa bertanya baik-baik kenapa Celo terlambat bergabung di meja makan. Hari ini Celo, besok bisa saja aku atau Zee yang terlambat.
Setiap orang pasti memiliki alasan tersendiri kenapa bisa terlambat. Kalau seperti tadi kejadiannya dan kebetulan ada tamu, kamu sendiri yang malu. Untung saja hari ini hanya kita saja. Jadi, jangan terulang lagi.
__ADS_1
Untuk kalian, Celo, Zee dan juga Mitha. Jika terlambat bergabung kabari orang yang ada di rumah ini. Biar tidak terjadi salah paham lagi. Mengerti kalian semua?" tutur Damian menasehati istri dan anak-anaknya.
Mereka semua serempak mengiyakan apa yang dikatakan oleh pemimpin keluarga Weasley itu.
Walaupun sudah mengiyakan, Rosita tetap mengeluarkan suara yang berbeda.
"Aku hanya tidak suka anakku diperlakukan seperti babu oleh istrinya, Pi. Lebih baik Laras dia tidak akan mencuci otak Celo. Huh, sudah miskin belagu! Pakai nyuci otak anakku lagi," ucap Rosita kembali membantah ucapan sang suami.
"Kenapa melenceng ke situ, Ros? Aku tadi hanya bahas terlambat bergabung ke meja makan loh, bukan untuk membahas menantu kita dengan orang luar," tanya Damian dengan dahi mengkerut penuh keheranan.
"Terserah kamu saja, aku harus segera kembali ke kantor." Damian menyahuti seraya berjalan meninggalkan istri dan anak-anaknya.
__ADS_1
Setelah itu, semua penghuni rumah satu persatu meninggalkan meja makan dan keluar dari rumah untuk melanjutkan aktivitas masing-masing.
Rosita akan menjenguk Ratnasari di rumah sakit. Tadi pagi, dia mendapat kabar itu dari Laras. Suara gadis itu sangat panik saat menelepon dirinya, sehingga dia berjanji akan menjenguk calon besan siang ini.
Zee sendiri pergi ke tempat bimbel dengan diantar oleh sang ayah yang kebetulan searah. Sementara Celo langsung kembali ke kantor karena masih banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan sebelum sang bos nagih dan ngamoook.
Sepeninggal orang-orang itu, Mitha memilih istirahat di kamarnya. Badannya akhir-akhir ini sering merasa lelah, sehingga dia akan menghabiskan waktunya dengan tidur atau sekedar membaca buku parenting atau seputar kehamilan.
Sementara itu, Rosita yang mengendarai mobil sendiri tampak memasuki sebuah rumah sakit modern yang mewah. Begitu memasuki lobi rumah sakit, dia menanyakan di mana sang calon besan dirawat.
Rosita mengetuk pintu ruangan di mana sang calon besan dirawat. Perempuan itu membuka pintu, setelah ada aba-aba dari tuan rumah. Istri Damian itu tercengang melihat keadaan Ratnasari yang terbaring lemah tak berdaya.
__ADS_1
"Aduuhhh, kenapa bisa seperti ini, Jeng? Kamu mikirin apa? Pernikahan anak-anak kita, iya?" berondong Rosita begitu masuk ke ruangan itu.
Ratnasari hanya menanggapi dengan senyuman yang merekah. Dia sangat bahagia calon besan datang. Ini akan menambah kesempatan baginya untuk berbicara.