
Mitha terbangun saat suara adzan subuh berkumandang. Badannya terasa lemas sekali tidak seperti biasanya. Walaupun sedang hamil muda, dia tidak pernah mengalami morning sicknes apalagi sampai lemas tak bertenaga seperti pagi ini.
"Aku kenapa? Badanku seperti tidak ada tenaga. Astaghfirullah," gumam Mitha lirih seraya menggeser tubuhnya agar bisa pindah posisi.
Bu Wiwin sendiri sudah terbangun dan bersiap untuk menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim. Hari ini mereka tidak pergi ke pasar untuk belanja karena sudah ada bahan makanan yang akan dimasak untuk menu hari ini. Sayuran dan ikan sudah dicuci bersih hanya tinggal mengolah saja.
Dengan tekat yang kuat, Mitha akhirnya bisa ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai membersihkan diri, istri Celo itu segera menunaikan sholat subuh. Selesai sholat, wanita itu menyempatkan untuk membaca Al Qur'an, sementara Bu Wiwin siap-siap bertempur bersama alat masaknya.
Setengah jam kemudian, Mitha menyusul sang ibu untuk membantu masak seperti biasa.
"Bu, kenapa Ibu tidak belanja secara online saja? Lebih gampang gak usah repot-repot mendatangi penjual, bahan yang akan kita olah datang dengan sendirinya," tanya Mitha seraya menjelaskan keuntungan belanja online.
Bu Wiwin mengangguk tanda paham atas ucapan yang disampaikan oleh Mitha. Dia pun setuju dengan usul yang disampaikan sang anak. Ide yang sangat menghemat tenaga dan waktunya.
Mereka melanjutkan masak untuk jualan hari ini. Selain sayur dan lauk, Mitha membuat kue basah agar pembeli yang belum begitu lapar dan tidak memesan nasi bisa membeli kue tersebut sebagai pendamping minuman yang mereka pesan. Oleh karena itu, warung Bu Wiwin selalu ramai pembeli.
Makanan yang beraneka ragam dan menggugah selera menjadi daya tarik sendiri. Secara tidak langsung itu adalah bentuk promosi mereka. Selain menu yang beragam, adanya diskon pada hari atau jam tertentu juga menjadi alat promosi.
Setelah memutuskan belanja online, Bu Wiwin dan Mitha jarang sekali keluar dari kios yang menjadi rumah mereka. Bidan desa akan datang dua minggu sekali sesuai jadwal periksa. Bidan itu bisa memaklumi keadaan bumil itu dan merasa kasihan sehingga dengan suka rela mendatangi Mitha.
Waktu terus berjalan, Mitha dan Bu Wiwin sudah bisa menjalani aktivitasnya tanpa merasa ketakutan atau khawatir akan diikuti. Hubungan Laras dan Mahesa juga berjalan lancar, bahkan keduanya tampak semakin lengket satu sama lainnya. Sesuai kesepakatan bersama, pernikahan Laras dan Mahesa akan dilaksanakan dua bulan setelah hari pertunangan.
Tesis yang dibuat oleh Mahesa telah selesai tinggal mengajukan sidang, kemudian wisuda. Hari ini adalah keberangkatan Mahesa untuk kembali ke negara di mana dia menempuh pendidikan. Satu minggu lagi dia akan mengikuti sidang tesis.
__ADS_1
Marcelo sudah dinyatakan sembuh dan beraktivitas seperti orang pada umumnya. Walaupun begitu, dia belum ingin melanjutkan pendidikannya yang sempat berhenti di tengah jalan. Dia ingin menemukan istrinya saat ini sedang hamil.
Marcelo sangat yakin jika saat ini sang istri sedang hamil, seperti diagnosa dokter yang pernah menanganinya. Hal ini dikarenakan mereka sudah melakukan hubungan suami istri beberapa kali tanpa pengaman.
Setelah mengantar sang kakak ke bandara, anak kedua Weasley itu memutuskan untuk menjemput sang istri di kota T. Sang ayah sendiri yang mengatakan jika saat ini istrinya itu tinggal di kawasan terminal kota T.
Dengan diantar sopir dan dikawal oleh beberapa bodyguard pilihan, Marcelo pergi ke kota T. Sebenarnya, dia sudah ingin menjemput sang istri beberapa hari yang lalu. Namun, sang ayah melarangnya dengan alasan kesehatan.
Walau sudah dinyatakan sembuh, badan Marcelo masih lemas, sehingga belum bisa melakukan perjalanan jauh. Jarak tempuh kota T dengan tempat tinggalnya saat ini membutuhkan waktu kurang lebih sepuluh jam jika menggunakan kendaraan pribadi. Damian tidak menginginkan sesuatu terjadi pada sang anak, sehingga menyuruh untuk menunda demi kebaikan bersama.
Sementara itu di kawasan terminal kota T, dua orang kepercayaan Damian sedang menyamar menjadi pembeli di warung Bu Wiwin. Mereka berdua makan dengan lahapnya seperti pembeli yang lain.
"Bu, masakannya enak sekali. Ayam goreng menteganya satu porsi lagi," pinta Nanang pada Bu Wiwin.
"Saya juga tambah satu porsi cah kangkung sama cumi asam manisnya." Bowo teman karib Nanang menimpali.
"Iya, tunggu sebentar! Sabar, semua masih banyak. Tangan ibu cuma dua, jadi gantian," jawab Bu Wiwin.
Sementara Bu Wiwin sibuk melayani pembeli, Mitha sibuk memasak sayur yang lebih enak dimasak mendadak ketika mendapat pesanan seperti cah kangkung, pesanan Bowo. Tangan wanita yang berbadan dua itu cekatan memasak setiap menu pesanan. Dulu sebelum ada Mitha, Bu Wiwin terbiasa memasak semua sayur dan lauk sebelum membuka warungnya.
Kini, sistem yang dipakai Mitha sangat menguntungkan Bu Wiwin karena dengan menghidangkan makanan yang baru dimasak membuat cita rasa masakannya lebih enak. Oleh karena itu, warung Bu Wiwin selalu banjir pembeli. Sistem memasak yang seperti restoran besar dengan harga terjangkau masyarakat menengah ke bawah, membuat warung Bu Wiwin menjadi terkenal.
Usia kehamilan Mitha yang menginjak tujuh belas Minggu, membuat perutnya sudah mulai membuncit dan membatasi ruang geraknya. Namun, istri Marcelo itu tidak merasa terganggu sama sekali. Dia sangat menikmati kehamilannya, terutama sejak janin di dalam perutnya sudah mulai bergerak perlahan.
__ADS_1
Sambil memasak, tangan dan bibir Mitha tidak pernah berhenti. Tangan kirinya sesekali mengusap perut ketika sang janin bergerak, tangan kanan memasak, sedangkan bibirnya menggumamkan sholawat, dzikir dan istighfar secara bergantian.
Gumaman sholawat terdengar sampai di depan, bahkan para pembeli pun bisa mendengar suara merdu yang keluar dari bibir mungil Mitha.
"Itu suara siapa, Bu? Ibu punya anak gadis kok disimpan?" tanya Nanang bertubi-tubi sembari mengunyah makannya.
"Iya, itu anak ibu. Dia yang memasak ini semua. Anak gadis memang harus disimpan biar tidak diambil para laki-laki hidung belang," sahut Bu Wiwin apa adanya.
"Boleh kenalan nggak, Bu?" Lagi-lagi Bowo hanya menimpali ucapan sang sahabat.
"Tidak boleh! Dia hanya boleh bertemu dengan laki-laki yang menjadi suaminya." Bu Wiwin menanggapi setiap ucapan pembelinya sambil melayani pembeli.
Bu Wiwin seorang pedagang yang ramah pada semua pembelinya. Walaupun begitu, dia tidak pernah kelewat batas. Baginya, pembeli adalah raja, jadi dia sudah seharusnya melayani dengan baik dan ramah, agar pembeli datang lagi lain kali.
Saat Bowo mengajak Bu Wiwin ngobrol, Nanang membuat laporan pada sang majikan, yaitu Tuan Damian Weasley. Apalagi menurut sang majikan, anaknya akan menjemput sang menantu kesayangan itu besok pagi.
"Bu, anak Ibu buat saya saja, ya?" pinta Bowo sambil memainkan matanya.
*
*
*
__ADS_1