Cinta Gila

Cinta Gila
20. VERO MENGAMBIL LANGKAH


__ADS_3

Setelah kepergian dokter Heri bu Hamidah berlari menuju ruangan dan tangisnya pecah tatkala melihat putrinya terpasang beberapa selang. Tubuhnya luruh ke lantai dan tangannya membekap mulut agar tidak menimbulkan suara. Handoko yang hanya bisa mengintip dari kaca pintu merasa sangat sedih atas musibah yang menimpa Ariana. Getar gawai membuyarkan pikiran Handoko, segera meraih dan mengangkat telfon dari istrinya.


"Assalamualaikum iya Bu" ucap Handoko pada Vero di seberang sana.


"Waalaikum salam. Ayah dimana jam segini kok belum pulang" tanya Vero dari seberang.


"Ayah belum selesai Bu. Mungkin malam ini Ayah tidak pulang. Ibu tidur lah sudah malam" jawab Handoko.


"Ayah jangan pernah bohongin Ibu ya" ucap Vero tegas.


"Ibu! Mana mungkin Ayah berani bohong sama Ibu" rayu Handoko.


"Pokoknya Ayah harus hati-hati. Jangan sampai bangkai itu tercium Ibu" Vero memperingatkan.


"Ibu ngancam Ayah? Ya sudah percuma ngomong sama Ibu!" Tut tut tut Handoko mematikan telponnya tanpa mengucap salam.


"Sepertinya Vero mulai curiga" batin Handoko Frustasi


"Bu, saya harus pulang. Apa ibu bisa mengurus Ariana sendiri. Nanti kalau dia sudah boleh di bawa pulang hubungi saya Bu. Sudah saya urus pendaftarannya" ucap Handoko menemui bu Hamidah ketika memasuki waktu subuh.


"Pulanglah" jawab bu Hamidah ketus.


"Kalau ada apa-apa hubungi saya, Bu. Dan ini uang untuk pegangan Ibu selama disini" Handoko menyodorkan amplop coklat berisi uang tunai.


Bu Hamidah menerima amplop pemberian Handoko tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Wanita ini pikirannya sedang kalut karena putrinya belum juga sadar. Sedangkan Handoko bergegas menuju halaman parkir dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Semalaman ia terjaga maka tak ingin hal buruk terjadi padanya. Setelah lima jam lebih mengemudi akhirnya ia sampai juga di rumah dan langsung menuju meja makan karena perut terasa sangat lapar.


"Bik dimana Ibu" tanya Handoko pada bik Minah yang sedang menyiapkan menu makan siang.


"Ibu tadi pergi ke pengajian Pak" jawab bik Minah.


Tanpa menjawab lagi Handoko langsung menuju kamar setelah menghabiskan makanan yang ada di piring. Disambarnya handuk dan berjalan menuju kamar mandi. Setelah selesai ia beralih menyambar kaos oblong dan celana pendek. Dihempaskan tubuhnya di atas tempat tidur dan berusaha melupakan  masalah yang sedang dia hadapi. Tanpa menunggu waktu lama terlelap sudah Handoko ditandai dengkuran keras di setiap nafasnya.


Setelah kembalinya Vero dan melihat Handoko yang masih tertidur pulas, Vero menyambar ponsel milik Handoko yang berada di atas meja. Diusapnya perlahan benda pipih persegi empat itu tetapi ternyata ponsel itu menggunakan sandi. Vero duduk di lantai bawah tempat tidur dan mulai menebak sandi, bagi vero butuh waktu lama untuk membuka ponsel milik suaminya.


"Heran aku, sejak kapan Ayah gunakan sandi" batin Bero.


Akhirnya vero menyerah dan meletakkan ponsel Handoko di tempat semula. Kini pikirannya beralih ke plastik hitam pembungkus baju berdarah. Diraihnya plastik yang masih berada di pojokan lemari dan di simpannya di tempat rahasia.


"Kalau kau terbukti bermain api, lihat saja apa yang akan kamu dapatkan" batin Vero dengan menatap tubuh suaminya.


Belum puas dengan semua itu Vero beralih menuju tempat keranjang baju kotor. Disana ia membolak balik pakaian Handoko yang dikenakan kemarin sore. Namun ia tak menemukan apa yang dicari. Rasa curiga terhadap suaminya kian menjadi. Sampai baju kotor saja disembunyikan.


"Bik apa sudah nyuci baju Ayah yang tadi malam dipakai?" tanya Vero setelah berada di dapur.

__ADS_1


"Belum Bu. Saya nyucinya tadi pagi pas Bapak belum pulang" jawab bik Minah polos.


" hm … gitu ya" gumam Vero.


Vero merenungkan masalah ini sendiri. Ia tak ingin bercerita dengan siapapun karena ia sangat yakin bahwa didunia ini hanya satu dalam seribu orang yang bisa dipercaya. Tetapi sejujurnya dia juga membutuhkan seorang teman curhat tapi siapa? Tidak mungkin pada pembantunya itu.


"Bik buat bumbu sayur asem sama rica-rica ya. Nanti biar saya yang masak" perintah Vero pada pembantunya, sejenak ia ingin melupakan masalah yang dihadapi dengan berkutat bersama wajan dan cabai.


"Baik Bu. Kalau begitu sayuran ini buat besok saja ya Bu" tunjuk bik Minah pada majikannya.


"Iya. Simpan saja di kulkas. Saya lagi pengen makan sayur asem dicampur rica-rica" jelas Vero yang asik membersihkan daging ayam.


"Enak itu Bu. Saya jadi lapar mendengarnya saja" canda bik Minah tersenyum lepas.


"Tambahin cabe rawitnya Bik" ucap Vero yang melihat pembantunya sedang membuat bumbu halus.


"Baik Bu" jawab bik Minah seraya menyomot beberapa biji cabe rawit lagi.


Setelah semuanya selesai dan sudah tersaji di meja makan bergegas Vero melangkah menuju kamar dan membangunkan suaminya.


"Yah bangun! Yok makan siang"ajak Vero dengan mengguncang-guncangkan tubuhnya.


"Hm nanti. Saya pasti tanggungjawab" ucap Handoko masih dengan mata terpejam.


"Tanggung jawab? Apa Ayah ngigau?" Vero menebak-nebak dan berlalu meninggalkan suaminya.


"Iya Bu nanti saja" tolak bik Minah.


"Ayo to bu temenin aku makan. Azam tidur, Ayah juga tidur. Saya laper banget. Tadi di pengajian nggak sampai selesai karena Azam rewel mau tidur" paksa Vero pada pembantunya.


"Baik Bu" jawab bik Minah ragu. Selama ia bekerja disini memang belum pernah makan satu meja dengan majikannya itu.


"Bik apa tadi Ayah sudah makan?" tanya Vero disela suapannya.


"Sudah Bu. Tadi baru pulang langsung makan" jawab bik Minah.


"Emang pulang jam berapa Ayah" tanya Vero.


"Sekitar jam sepuluh Bu"


"Hm …" 


Tidak ada lagi percakapan di antara majikan dan pembantu hingga mereka menyelesaikan makanan masing-masing. Setelah itu Vero beranjak menuju kamar Azam, dan dilihatnya Azam masih tertidur pulas. Ia beralih menuju kamarnya hendak sholat dan juga beristirahat. Namun manik hitam menangkap sosok suaminya sedang duduk di pinggir jendela dengan melamun.

__ADS_1


"Sudah bangun Yah" tanya Vero basa-basi tetapi tidak ada jawaban dari suaminya.


"Emang masalahnya sangat runyam ya Yah sampe ngga pulang dan sekarang juga masih dipikirin" sindir Vero dengan volume sedikit keras.


Handoko yang baru saja menyadari kehadiran Vero sedikit gugup. Tatapannya beralih pada tubuh istrinya yang sudah berubah. Untuk menghilangkan rasa gugup, Handoko meraih sebatang rokok filter dan menghisapnya perlahan, sesekali menghembuskan nafas kasar sehingga membuat gumpalan asap didepan mata.


"Sudah pulang dari tadi ya Bu?" tanya Handoko tanpa menjawab pertanyaan Bero.


"Sudah dari tadi Yah. Ibu juga sudah masak, sudah makan juga" ucap Vero sedangkan tangannya sibuk merapikan tempat tidur.


"Kok Ayah tidak tau" tanya Handoko.


"Gimana  mau tau. Ayah masih ngorok" jawab Vero.


"Yah, ibu mau pinjem ponsel Ayah" lanjut Vero 


"Untuk apa" handoko mengernyitkan dahi.


"Ngabarin ibi-ibu. Rutinan senam di tunda"


"Ya udah pake ponsel ibu aja" sergah Handoko.


"Paketannya habis Yah" ucap Vero.


"Kalau gitu nanfi sore aja, ni Ayah masih nunggu kabar"


"Kabar apaan"


"Tentang rapat kemarin" ucap Handoko berbohong.


"Rapatnya dirumah siapa Yah. Biasanya Kan kalau ada Rapat selalu di rumah kita" tanya Vero penuh selidik. Ia tahu suaminya sedang menyembunyikan masalah besar.


"Di kepala dusun tiga" jawab Handoko singkat.


"O … di dusun tiga. Tumben banget ya Yah, ya udah Ibu mau sholat dulu keburu telat" pamit Vero menghindari semprotan dari suaminya. Sudah hal biasa kalau Vero menyindir suaminya pasti berujung pertengkaran.


Setelah menyelesaikan sholat, Vero berdoa pada sang pemilik kehidupan untuk selalu menjaga keluarganya supaya tetap utuh dan barokah. Setelah itu meraih mushaf dan membacanya walau sedikit. Membaca mushaf sudah seperti wiridan untuk Vero meski hanya satu ayat. Sesekali melirik suaminya yang gelisah dengan menggenggam erat ponsel di tangan. Vero yang melihat kondisi suaminya langsung bangkit dan mencium takzim tangan suaminya.


"Kalau ada masalah cerita sama Ibu Yah. Jangan di pendam sendiri" ucap Vero setelah duduk di samping suaminya.


"Ayah nggak ada masalah Bu. Ibu nggak usah mikirin macem-macem" kilah Handoko.


"Ayah bisa berbohong tapi Ibu tidak bisa dibohongi Yah. Sejak perginya Fauzan, sepertinya Ayah memikirkan yang lain" ucap Vero.

__ADS_1


"Tidak ada yang lain. Ayah cuma mikirin keadaan Fauzan" ucap Handoko berbohong.


"Kalau Ayah nggak mau cerita ya sudah. Ibu nggak maksa tapi ada saatnya Ibu mengetahui apa yang sedang Ayah sembunyikan" tegas Vero dan beranjak merapikan sajadah.


__ADS_2