
"Yakin mau sama anak saya? Anak saya itu sudah tidak pe Ra wan lagi loh. Malah saat ini di sedang hamil, tapi ibu tidak tahu siapa ayah bayi itu."
Bu Wiwin mendramatisir keadaan Mitha, padahal setiap wanita yang sudah menikah hamil itu suatu hal yang wajar dan umum terjadi. Selain itu, Bu Wiwin juga belum pernah bertemu dan berkenalan dengan suami Mitha. Jadi, apa yang dia ucapkan bukanlah suatu kebohongan.
"Gaklah, Bu! Masak saya yang harus bertanggung jawab atas kehamilan anak ibu. Nggak, nggak jadi anak ibu buat saya. Saya cari gadis lain saja," tolak Bowo bergidik ngeri membayangkan menikahi wanita hamil di luar nikah.
Bu Wiwin yang melihat wajah Bowo saat ini pun tak sanggup menahan tawanya. Tadi terlihat sangat antusias ingin berkenalan dan dijodohkan dengan anaknya. Begitu diberi tahu jika sang anak dalam keadaan hamil, langsung menyerah begitu saja.
"Gayamu, Wo! Sok gak laku. Mau menampung semua perempuan, seolah-olah lo mampu. Binik satu aja, lo tinggal terus. Mana uang belanja pas-pasan lagi," ejek Nanang penuh cibiran.
"Ingat Wo, perempuan itu menantu kesayangan bos besar. Jangan macam-macam!" bisik Nanang tepat di belakang telinga Bowo.
__ADS_1
"Iya, iya, aku tahu! Tadi itu aku cuma memancing kejujuran ibu warung itu saja," jawab Bowo dengan berbisik juga.
Maksud ucapan Bowo sebenarnya hanya untuk memancing Mitha untuk keluar menemui dirinya dan Nanang. Namun, sepertinya Bu Wiwin menjaga menantu kesayangan bosnya dengan ketat. Selama mereka mengawasi tempat itu, jarang sekali bisa melihat sang menantu kesayangan bos keluar melayani pembeli atau keluar dari tempat tinggalnya.
Usai memasak, Mitha merebahkan tubuhnya di depan televisi. Pinggangnya terasa pegal dan panas karena sejak baru bangun tidur sampai siang ini baru beristirahat. Sejak hamil, dia merasa mudah lelah dan kehilangan tenaga, tetapi dia tidak pernah putus asa.
Mitha menjalani hari-harinya dengan banyak bersyukur karena bisa bertemu dengan janda tanpa anak. Meskipun tidak memiliki anak, Bu Wiwin keibuan dan sangat menyayangi dia seperti anak sendiri. Dengan begitu, kerinduannya pada ayah dan ibunya bisa sedikit terobati.
Marcelo memilih menunggu kios buka baru dia mendatangi istrinya. Untuk sementara waktu, menunggu pagi, suami Mitha itu memutuskan tidur di dalam mobil dengan jendela mobil terbuka. Sang sopir pun ikut tidur dengan posisi duduk di balik kemudi.
Jam tujuh pagi, Mitha membuka pintu kios karena sembari membersihkan kios. Semua pintu model rolling door itu dia buka, sehingga menimbulkan suara berisik dan mengundang perhatian beberapa orang yang kebetulan sedang melewati depan kios tersebut.
__ADS_1
Marcelo terbangun karena mendengar suara berisik kendaraan berlalu lalang serta suara orang-orang beraktivitas di terminal. Calon ayah itu bergegas turun untuk mencuci wajahnya agar terasa lebih segar dan hilang rasa kantuknya. Usai dari kamar mandi, dia langsung berjalan menuju tempat di mana sang istri selama ini tinggal.
Dengan mengumpulkan segenap keberaniannya, Marcelo mengetuk lemari etalase makanan. Sambil menunggu sang tuan rumah muncul di pintu, Celo duduk dibangku kayu panjang yang ada di depan kios yang tertutup. Matanya memindai ruangan kios yang tidak begitu luas itu.
"Kak Celo?"
*
*
*
__ADS_1