
Rosita terdiam merenungi perkataan sang menantu kesayangan. Dalam pikirannya membenarkan setiap ucapan sang menantu, tetapi hati kecilnya sulit menerima itu. Rasa sakit hatinya atas penolakan Cakrawala di masa lalu, membuat istri Damian itu sulit menerima Mitha dengan lapang dada.
Walaupun hati kecil Rosita belum bisa menerima Mitha sepenuhnya, wanita itu masih memakai logikanya untuk berlaku baik pada sang menantu. Apalagi ada Laras yang selalu mengingatkan sang mertua untuk bersikap baik pada istri pertama Celo. Selain itu, kesabaran dan kebaikan sang menantu pertama mampu membuka jalan pikiran dia.
"Mitha! Cepatlah sedikit!" perintah Rosita dengan suara menggelegar.
"Dasar lambat, kek siput!" gerutu nyonya rumah itu pelan. Wajahnya tampak kesal karena terlalu lama menunggu sang menantu.
Mitha mempercepat jalannya. Perempuan itu tampak kepayahan berjalan karena perutnya yang seperti membawa bola kemana-mana. Namun begitu, gerakannya masih sangat lincah seperti tidak membawa apa-apa.
__ADS_1
"Maaf, Mi. Tadi ke kamar mandi sebentar. Akhir-akhir ini Mitha sering kebelet pipis," ucap Mitha begitu berada di dekat sang ibu mertua.
"Cepat masuk! Keburu siang," perintah Rosita yang langsung dilakukan oleh sang menantu pertamanya.
Laras sudah menunggu di dalam mobil. Dia sengaja memilih duduk di kursi depan, di samping Parjo, sopir keluarga Weasley. Mitha duduk di belakang bersama sang ibu mertua. Mobil segera melaju setelah para nyonya Weasley sudah duduk nyaman di kursi masing-masing.
Siang ini mereka berencana untuk berbelanja membeli keperluan bayi Mitha dan Marcelo. Usia kandungan menantu pertama Weasley itu sudah memasuki bulannya sehingga mereka harus menyediakan semua perlengkapan bayi. Marcelo tidak bisa mengantarkan sang istri belanja karena sibuk mengurus perusahaan yang mulai dipindahtangankan sebulan yang lalu.
"Mitha, anakmu laki-laki atau perempuan?" tanya Laras penasaran.
__ADS_1
Mitha hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala saja. Dia dan Marcelo sengaja tidak ingin mengetahui jenis kelamin janin yang dikandungnya. Mereka sengaja ingin mendapatkan kejutan.
Bagi Mitha dan Marcelo jenis kelamin anak tidak mempengaruhi rasa bahagia dan syukur mereka atas kehadiran sang buah hati. Laki-laki atau perempuan sama saja, sama-sama merupakan anugerah terindah dari Tuhan.
Saat menantu dan mertua itu sibuk memilih perlengkapan bayi, Mitha bolak-balik ke kamar mandi yang ada di mall itu. Akhir-akhir ini air seninya sudah tidak tertahankan lagi. Lelah berjalan bolak-balik, akhirnya istri pertama Marcelo memilih duduk di kursi yang tidak jauh dar toilet umum tadi
Tiba-tiba saja perut Mitha terasa kram dan tegang. Perempuan berusia dua puluh tahun itu menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan untuk meredakan rasa sakit di perutnya. Dia tampak tenang duduk bersandar, sesekali tangan kecilnya mengusap perut pelan.
Sementara itu, Laras tampak gelisah karena sudah lima belas menit menunggu, Mitha tidak kunjung kembali. Perasaannya tidak tenang. Tadi sebelum berangkat ke kantor, Marcelo sudah mewanti-wanti dirinya juga sang ibu mertua agar menjaga istri pertamanya dengan baik. Namun, perempuan itu kini menghilang.
__ADS_1
"Mi, aku cari Mitha dulu. Sudah terlalu lama dia meninggalkan kita," pamit Laras pada sang ibu mertua.
"Iya, semoga tidak terjadi apa-apa padanya. Kamu segera hubungi mami kalau sudah bertemu dengannya."