
"Aaaargh!"
Terdengar suara jeritan yang melengking dari dalam rumah. Surti dan Tinah yang sedang sibuk mencuci serta membersihkan rumah pun terkejut, lalu meninggalkan pekerjaannya berlari menuju arah suara berasal.
"Allahu Akbar! Non Laras!" pekik Surti seraya berlari kecil mendekati sang majikan.
Rosita berjalan cepat menuju sumber suara keributan yang berasal dari arah ruang tengah. Sementara itu, Tinah yang sedang membersihkan teras pun ikut berlari masuk mendatangi suara Surti.
"Laras!" jerit Rosita saat melihat sang menantu kesayangan sudah bersimbah darah tergeletak di lantai dekat tangga.
"Panggil Parjo dan Budiman, cepat!" Rosita kembali berteriak memerintahkan pembantunya untuk mencari bantuan untuk mengangkat Laras.
Betapa terkejutnya Mitha yang tengah menggendong sang bayi. Istri pertama Marcelo itu membatu di tempat sambil memeluk anaknya. Sungguh kejadian ini membuat dia syok karena melihat genangan darah serta keadaan Laras yang sudah tidak bergerak lagi.
Satu jam kemudian, tampak Marcelo berlari mendekati sang ibu yang sedang gelisah di depan ruang operasi. Damian masih ada urusan dengan perusahaan rekanan, sehingga belum bisa datang saat dikabari oleh sang istri.
"Bagaimana keadaan Laras, Mi?" tanya Marcelo penuh kekhawatiran.
__ADS_1
Wajar saja jika Marcelo khawatir karena Laras tengah mengandung penerus Weasley, walaupun bukan darah dagingnya. Beberapa bulan tinggal bersama Laras dan tahu bagaimana sikap istri keduanya itu, membuat suami Mitha dan Laras menaruh rasa simpati. Pengorbanan Laras yang mau mempertahankan kandungan tanpa orang yang dicintai, memiliki nilai tersendiri di mata penerus Weasley itu.
Rosita hanya menggeleng menanggapi pertanyaan sang anak. Hatinya terasa hancur melihat keadaan sang menantu kesayangan. Kepala Laras mengeluarkan banyak darah, begitu juga dengan selangkangannya.
Dokter yang pertama kali menangani tadi berbisik dengan tenaga medis lainnya dan sempat tertangkap oleh indra pendengaran Rosita. Dokter itu mengatakan kemungkinan pasien selamat sangat kecil. Namun, wanita yang melahirkan Marcelo itu memilih bungkam karena berharap akan adanya keajaiban dari Tuhan.
Dua jam kemudian, Marcelo diberitahu jika janin dalam kandungan Laras telah selamat. Namun, keadaannya sangat memprihatinkan karena umurnya masih belum cukup untuk lahir, baru menginjak dua puluh tujuh minggu. Bayi itu langsung dimasukkan ke dalam inkubator begitu selesai dibersihkan.
Laras dipindahkan ke ruang ICU setelah selesai menjalani operasi caesar dan juga pembedahan kepalanya untuk menghentikan pendarahan. Istri kedua Marcelo itu masih dalam tahap observasi.
Marcelo mendatangi ruang bayi di mana keponakan yang menjadi anaknya itu dirawat. Dia mengundangkan iqomah. Bayi mungil dengan berat badan hanya seribu dua ratus gram juga panjang badan empat puluh lima sentimeter itu memiliki wajah sang ayah.
Selama memiliki dua istri, dirinya belum bisa berbuat adil untuk para istrinya. Hatinya terlalu condong pada istri pertama, walaupun dia juga memberikan perhatian pada istri kedua.
Saat Mitha melahirkan baby Kenzo, tidak pernah sekalipun dia mengingat Laras. Kini, saat Laras dalam keadaan koma, pikirannya masih dipenuhi oleh istri pertama dan anaknya. Jika dikaji lebih jauh, seharusnya keadaan Laras yang harus dipikirkan dan diperhatikan.
"Mami sama papi pulang saja, biar aku yang jagain Laras. Mama dan papa juga pulang saja. Besok pagi gantian kalian yang menjaganya karena aku harus ke kantor," ucap Marcelo pada orang tua dan kedua mertuanya.
__ADS_1
"Biarkan kami di sini, Nak. Pak Damian dan Ibu Rosita saja yang pulang karena ada cucu yang menunggunya. Laras anak kami satu-satunya, biarkan kami ikut menjaganya," ucap Ratnasari.
Akhirnya, Damian dan Rosita berpamitan. Namun, baru beberapa langkah dari ruangan itu tiba-tiba saja dokter dan beberapa perawat mendatangi ruang ICU. Rosita melihat ke belakang, tampak Ratnasari memeluk sang suami dengan air mata berderai.
"Pi, kok perasaanku gak tenang, ya?" tanya Rosita sembari menarik tangan sang suami.
Mereka berdua langsung berhenti dan menoleh ke belakang. Setelah itu, memutar arah kembali lagi ke ruangan sang menantu dirawat.
"Cel? Laras kenapa?" tanya Rosita dengan mata berkaca-kaca.
Marcelo hanya meneteskan air mata tanpa menjawab pertanyaan sang ibu. Melihat sang anak yang menangis, Rosita memutuskan untuk bertanya pada besannya. Namun, wanita itu mengurungkan niatnya saat melihat sang besan yang menangis sesenggukan.
Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka, dokter dan salah seorang perawat mendatangi kedua keluarga itu. Dengan berat hati sang dokter menyampaikan berita duka. Laras telah berpulang lima menit yang lalu
"Tidaaakkk!" jerit dua ibu yang begitu menyayangi Laras.
Marcelo menerobos masuk ke ruangan ICU. Tampak olehnya sang istri yang sudah tertutupi kain putih sekujur tubuhnya.
__ADS_1
"Laras, aku minta maaf atas segala salah yang aku lakukan padamu selama ini. Bangunlah, jangan hukum aku seperti ini!"