
"Zeera! Kamu ngomong apa? Papi bukan tidak peduli dengan kakak-kakak kamu. Banyak yang papi urus. Jadi, kalau papi tidak bisa fokus pada pencarian kakak ipar kamu, bukan berarti tidak peduli. Sejak diketahui kakak ipar kamu hilang, papi langsung mengerahkan semua orang-orang untuk mencari dia. Kalau sampai sekarang belum ditemukan, apa itu salah papi?" cerca Damian menekan amarahnya.
Tanpa mereka tahu, jika di depan pintu ruangan itu ada seseorang yang mencuri dengar percakapan ayah dan anak tersebut.
Zeera tampak kecewa mendengar penjelasan sang ayah yang tidak kunjung menemukan sang kakak ipar, padahal gadis remaja usia lima belas tahun itu sangat berharap ayahnya segera menemukan istri kesayangan kakaknya. Melihat si bungsu yang mematung dengan tatapan kecewa, membuat suami Rosita itu pun turut sedih. Walau bagaimanapun juga, Mitha sekarang sudah menjadi tanggung jawab dia, sudah seharusnya dia melindungi sang menantu.
Zeera meninggalkan ruang kerja sang ayah setelah terdiam cukup lama di ruangan itu. Damian memang sengaja tidak mau membahas lagi kegagalannya menemukan sang menantu, agar si bungsu segera meninggalkan dirinya yang sedang bekerja. Sepeninggal sang anak, laki-laki itu kembali melanjutkan kerja.
Sementara itu, Zee setelah dari ruang kerja sang ayah, memilih tidur di kamar sang kakak. Rasa sayang yang begitu besar karena ikatan batin yang kuat, membuat Zee lebih senang menghabiskan waktu bersama Marcelo, walaupun ada Mahesa di rumah itu.
"Kakak cepat sembuh, ya. Biar bisa bawa Kak Mitha pulang. Zee sudah sangat merindukan dia. Sudah satu bulan lebih dia pergi," ucap Zee sambil memeluk sang kakak dan menangis di atas dada Marcelo.
Marcelo merasa ada sesuatu yang berat menimpa tubuhnya, matanya pun terbuka. Senyuman mengembang kala melihat sang adik memeluk erat tubuh kurusnya. Sudah lama mereka tidak seperti ini, saling berpelukan dan bercanda.
Suami Mitha itu memencet hidung sang adik untuk membangunkan. Zee tertidur pulas dengan posisi kepala di atas dada sang kakak dan tangan membelit perut rata Marcelo. Zee yang baru saja mengarungi lautan mimpi tidak memberikan reaksi apapun.
"Dasar kebo! Kalau sudah tidur susah dibangunin," ucap Marcelo seraya melepaskan belitan tangan sang adik.
Kakak Zeera itu memindahkan posisi tidur sang adik. Setelah itu, Marcelo turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Di kamar mandi hanya sepuluh menit saja, lalu keluar lagi dengan wajah yang basah.
Terlalu banyak tidur saat tubuhnya sangat lemas, membuat pemuda itu tidak bisa tidur nyenyak lagi setiap malam. Di saat seperti ini, biasanya dia mengenang saat-saat bersama sang istri. Sayangnya apa yang dia lakukan itu hanya menambah rasa rindu pada kekasih halalnya.
Laki-laki itu berjalan mondar-mandir keluar masuk kamar dan balkon. Setiap berada di balkon pandangan matanya selalu tertuju pada paviliun yang pernah ditempati bersama sang istri. Di paviliun itulah kebahagiaan yang sesungguhnya, walaupun makan seadanya tetapi membuat bahagia.
__ADS_1
"Kamu di mana, Sayang? Aku rindu," gumam Marcelo sendu.
Akhirnya Marcelo masuk dan mengunci pintu. Tak lupa memasang gorden agar besok pagi matahari tidak bisa menembus masuk ke kamar. Setelah itu kembali merebahkan badannya di samping Zee yang tidur pulas memeluk guling.
***
Sementara itu, Mahesa dan Laras tidak langsung pulang setelah acara pertunangan mereka tadi. Laki-laki itu membawa tunangannya ke sebuah kafe yang buka dua empat jam. Kafe khusus yang biasanya anak muda nongkrong.
Mahesa merasa belum puas memandangi wajah sang pujaan hati. Rasa rindunya yang dia pendam selama empat tahun, kini sudah mulai terobati. Saling bercerita dan menumpahkan segala rasa yang selama ini terpendam.
Kehidupan bebas selama tinggal di luar negeri, membuat anak pertama Weasley itu melupakan di mana saat ini dia berada. Mahesa bukannya mengantarkan sang tunangan ke rumah orang tuanya, malah membawa ke hotel dengan alasan masih merindukan sang pujaan hati.
"Kak Esa, kenapa kita ke sini? Mommy sama daddy pasti sudah menunggu Laras sejak tadi. Sebaiknya kita pulang saja," tanya Laras antara bingung dan khawatir.
"Tidak harus sekarang juga, Kak, melepas rindunya. Besok masih ada hari, masih bisa bertemu lagi. Sekarang, tolong antar Laras pulang, sudah mengantuk, capek juga," ujar Laras dengan tatapan penuh permohonan.
Mahesa masih berusaha membujuk sang kekasih hati, tetapi Laras juga tetap bersikukuh tidak mau turun dari mobil itu. Mereka tetap pada jalan pikiran masing-masing tanpa ada yang mau mengalah. Keduanya sama-sama merasa paling benar, sehingga perdebatan mereka terjadi cukup panjang dan lama.
Seorang satpam mendekati mobil yang tampak bergoyang dari luar, padahal mereka hanya berdebat saja. Perdebatan yang diikuti gerak tubuh membuat mobil bergoyang dan orang yang melihatnya dari luar akan berpikir negatif. Satpam hotel itu mengetuk kaca pintu sebelah kanan, di mana Mahesa duduk.
"Maaf, mengganggu. Jika kalian ingin melakukan sesuatu sebaiknya check in saja langsung. Jangan di parkiran seperti ini! Nama baik kalian dan hotel ini yang menjadi taruhannya," tegur satpam tersebut.
Mendengar teguran itu, Mahesa membuka pintu mobil lebar-lebar.
__ADS_1
"Bapak lihat sendiri kami sedang apa! Pikiran Bapak sudah waktunya dicuci pakai deterjen biar bersih," cibir Mahesa kesal.
Mahesa dan Laras memang tidak melakukan tindakan yang memalukan, mereka hanya berdebat di dalam mobil.
"Kami sedang berdiskusi untuk pulang atau menginap di hotel ini, Pak. Bapak jangan khawatir kami cukup tahu diri," ujar Laras memotong pembicaraan Mahesa dengan satpam yang bernama Suryo, dapat diketahui dari tanda pengenal yang dikenakan.
"Aah, sudahlah! Kita pulang saja, Honey," teriak Mahesa tiba-tiba dengan suara sarat kekesalan.
Coba sedari tadi nurut, gak bakalan kena tegur satpam dan malu. Lagian kalau pulang sejak tadi enak, sudah bisa beristirahat.
Keduanya sama-sama diam selama dalam perjalanan. Waktu sudah menunjukkan jam dua belas malam, mobil yang dikendarai Mahesa telah sampai di rumah mewah milik Sapto Hudoyo, calon mertua Mahesa. Laras tampak tertidur pulas, sehingga sang tunangan pun berusaha membangunkan.
Setelah lima menit memanggil tidak ada jawaban ataupun pergerakan dari sang pujaan hati, Mahesa pun turun dari mobil. Pemuda itu mengitari mobil untuk membuka pintu bagian Laras. Laki-laki itu kembali mencoba membangunkan sang calon istri, tetap sama tidak mau bangun.
Akhirnya, Mahesa memutuskan untuk menggendong sang tunangan saja dari pada menunggu lama. Laki-laki itu mengangkat Laras dan menggendongnya dengan membopong Laras. Kepala Laras bersandar pada dada bidang Mahesa.
"Kamu apakan anakku? Kenapa jam segini baru kamu antar? Sebenarnya kalian dari mana tadi?" cerca tuan Sapto Hudoyo pada sang calon menantu.
*
*
*
__ADS_1