Cinta Gila

Cinta Gila
12. Bermalam di Hutan


__ADS_3

Tanah yang lembab dan sedikit licin sehingga Fauzan berjalan tertatih dengan tangan yang memegangi perutnya. Rasa nyeri di ulu hati membuat perutnya keram. Ia mencari tempat yang kering untuk bersandar dan sedikit memjauh dari tempat itu. Di bawah pohon yang sudah mengering Fauzan terduduk lemas seraya memperhatikan pangkal kayu yang terasa aneh menurutnya. Jarak yang tidak begitu jauh antara dirinya dan pangkal kayu tersebut sehingga dengan jelas Fauzan bisa melihat apa yang terjadi di sekitarnya. Banyak lalat yang hinggap di pangkal kayu tersebut membuat Fauzan penasaran apalagi setelah sinar matahari menembus dahan-dahan pohon terlihat ada kilatan di antara pangkal kayu. Karena penasaran Fauzan berjalan mendekat dengan mencapit hidungnya menggunakan kedua jari. Berjalan dari satu sisi ke sisi yang lain memperhatikan secara detail.


"Astagfirullah" Fauzan memekik lirih tatkala melihat sesuatu yang dirasa aneh.


"Ini ular" lanjutnya lagi setelah memastikan bahwa kilatan cahaya tadi adalah mata ular dan tanah yang lembab itu berasal dari tetesan air liur.


Fauzan melangkah mundur secara perlahan setelah menyadari reptil itu mulai menggeliat dan menurunkan rahangnya yang terbuka sejak tadi. Sebelumnya ia berpikir bahwa itu hanyalah kayu yang berlubang di tengahnya bukan lah mulut binatang. Melihat tidak ada perlawanan dari reptil yang berbahaya itu, Fauzan kembali mendekat dengan berbagai pendapat.


"Mungkin dia sudah lumpuh" Fauzan mendekat dan menempelkan telapak tangan di dekat mata reptil tua itu. Sedikit berlendir tetapi ada jejak air mata yang tertinggal di bawah lingkaran matanya.


"Mungkin dia menangis karena lapar" Fauzan mengoceh sendiri. 

__ADS_1


Ia membuka ransel dan meraih botol air yang tersisa sedikit. Ia membuka tutup botol tersebut dan mencipratkan air ke wajah reptil tua itu. Seketika mulutnya terbuka lebar dengan taring yang panjang di sisi kanan dan kirinya. Bau tak sedap kembali menyengat hidung, bergegas Fauzan menuang air kedalam mulutnya dengan sangat hati-hati. Ia tahu benar walaupun tubuh reptil itu sudah lumpuh tetapi bisa nya tidaklah lumpuh. Setelah kosong botol airnya, Fauzan kembali memasukkan kedalam tas ransel dan melangkah pergi setelah mengatakan kalimat perpisahan pada reptil tua itu.


Hari yang semakin sore tapi Fauzan belum juga menemukan tanda-tanda rumah sang kakek sedangkan tubuh sudah mulai letih dan juga lemas. Sesekali ia berhenti di antara pepohonan yang menjulang tinggi. Kicauan burung saling bersahutan di atas dahan-dahan. Ia mendongakkan ke langit berharap ada petunjuk untuknya. Namun hanya awan putih yang terlihat di antara dedaunan yang rimbun. Kemudian kembali mengedarkan pandangan untuk mencari petunjuk. Hanya terdengar suara berisik angin menerpa pepohonan yang rimbun.


"Ya Allah bantu aku. Tolonglah hambamu ini jangan biarkan aku mati dalam kesia-siaan" Fauzan menengadahkan tangan ke langit meminta pertolongan. Ia beranjak mengambil debu dari tumpukan tanah kering yang tak jauh dari dia berdiri. Meletakkan kedua telapak tangan diatas debu lalu menepuk-nepuk dan mengusapkan ke wajah berniat hendak tayamum untuk melaksanakan sholat. Karena sedari tadi ia mencari air tapi tak juga ketemu sedangkan waktu sholat sudah memasuki ashar. Setelah selesai bertayamum, Fauzan menjamak serta mengqashar shalatnya dengan dua kali salam dan setiap salam dua rakaat dan diantara salam dia bertayamum kembali karena tayamum hanya bisa untuk satu kali shalat saja. Ia tak lupa bermunajat kepada Allah untuk meminta perlindungan dan mempermudah jalannya.


Hari sudah beranjak malam tetapi Fauzan belum juga menemukan rumah sang kakek. Ia mempercepat jalannya mengikuti jalan setapak yang nyaris dipenuhi rumput liar.


"Aku tak tau ini jalan manusia atau jalan hewan tapi aku hanya berharap ini jalan ku menuju keselamatan. Bismillah" Fauzan berucap kepada dirinya sendiri tatkala berada di sebuah pertigaan jalan. Ia melangkah ke arah kanan dengan menggenggam  beribu harapan. Tanpa henti-henti ia mengucap takbir dan sekali diselingi oleh sholawat kepada baginda nabi muhammad. Sejujurnya dia sangat lah penakut. Namun dia berusaha mengalahkan rasa takutnya itu dengan berbagai alasan. Tidak lagi menoleh kanan atau kiri, Fauzan berjalan nyaris berlari meninggalkan  jejak pada tanah yang masih basah. Suara bisingan angin kian jelas, tidak ada lagi kicauan burung atau yang lainnya. Hanya sesekali terdengar suara jangkrik tanda magrib telah tiba. Fauzan berlari menembus angin, mengikuti jalanan setapak. Sesekali ekor matanya menangkap kelebatan bayangan hitam. Ia hampir menangis karena takut, hatinya meronta ingin minta tolong. Namun dia menahan gejolak ketakutan yang telah menguasai diri. Dia sadar betul bahaya lebih mengancam di malam hari.


"Sepertinya aman, untuk sementara aku istirahat disini saja" gumam Fauzan lirih setelah mengecek keamanan di sekeliling, dia pun melakukan tayamum lagi dan melaksanakan sholat magrib. Tak lupa ia meminta pertolongan di akhir sujudnya dan melambungkan doa ke langit seusai sholat. Setelah itu Fauzan memanjat pohon yang dia rasa sudah aman.

__ADS_1


"Aku diasingkan di hutan tanpa melakukan kesalahan, Allah pasti melindungiku, tapi sekarang aku harus mampu hidup berdampingan dengan alam" tekad nya dalam hati.


Setelah memilih cabang yang kokoh, Fauzan mengeluarkan senter dari dalam tas ranselnya. Senter ini sudah disiapkan untuk dirinya di hutan. Dililitkannya tali yang sudah menggantung ke pergelangan tangan sehingga tidak terlepas dari nya. Ia sengaja tidak mau melanjutkan perjalanan di malam hari selain bahaya yang berasal dari binatang, ia juga takut berjalan di kegelapan meskipun ada senter tetapi senter itu tidak mungkin sampai pagi bisa menemaninya.


Rasa kantuk kian menjalar. Namun sebisa mungkin Fauzan menahannya. Bahkan hampir saja dia terjatuh karena mata nyaris terpejam. Tak henti-henti dia melafalkan kalimat tauhid untuk menjaga diri dari gangguan tak kasat mata. Jika saja mata terpejam, berhentilah sudah zikirnya itu sehingga memudahkan makhluk tak kasat mata mendekatinya.


Sreeek …


Fauzan bergetar hebat menahan  takut tatkala terdengar suara orang berjalan di sekitarnya. Dilantunkannya zikir menyebut nama Allah, sehingga menimbulkan suara sedikit berbisik. Fauzan berusaha menenangkan kegaduhan dalam hatinya dengan sedikit-sedikit mengubah posisi duduk. Duduk di antara cabang pohon membuat pantatnya terasa sakit dan sulit untuk menyeimbangkan tubuhnya.


Setelah berhasil menguasai diri Fauzan dikejutkan kembali oleh suara ngauman binatang buas. Nyalinya kembali menciut, berbagai pikiran buruk melintas kembali. Dengan tubuh menggigil ia terus melantunkan takbir sedikit berbisik.

__ADS_1


"Suara serigala di dekat sini. Itu berarti dia mencium kehadiranku. Tapi jika itu pertanda adanya makhluk halus … hiiy" Fauzan bergidik ngeri. Bahkan ngauman itu tak juga berhenti seolah saling menyahut. Namun Fauzan enggan menyalakan senternya. Dia tetap berusaha tenang dan mengatur nafas perlahan sehingga tidak tercium keberadaannya. Jauh di lubuk hatinya dia berdoa dan berharap perlindungan dan pertolongan dari yang maha Agung.


Sepasang mata menyala mengintai di balik semak-semak. Namun Fauzan belum menyadari bahwa dia sudah diintai.


__ADS_2