
Fauzan tersadar dari pingsannya, ia melempar pandangan ke segala penjuru hanya pepohonan kering yang ia lihat dan ternyata matahari sudah terik. Ia mencoba menggerakkan tubuh tetapi rasa sakit yang luar biasa sehingga tanpa sadar ia mengerang kesakitan. Direbahkan lagi tubuhnya di atas dataran kering dan menatap ke atas.
"Ini suatu keajaiban, aku terjatuh dari tebing yang sangat tinggi dan beruntung aku tidak mati berarti Allah masih menginginkan aku hidup meski badanku sangat sakit digerakkan. Lindungi aku ya Allah" ucapnya lirih sambil menutup matanya, mengingat kejadian malam tadi. Namun tiba-tiba dia mengingat perkataan sang naga terakhir kalinya.
"Bahaya? Disini berbahaya, aku harus pergi dari sini" ucap Fauzan penuh penekanan.
Kemudian ia berusaha membangkitkan diri dengan perlahan dan dilemparkan pandangannya ke hamparan luas. Kemana dia harus pergi. Dilihatnya ada genangan air di depan sana maka Fauzan berjalan terseok menghampiri genangan air tersebut karena tenggorokan sangatlah kering. Namun sudah jauh ia melangkah tetapi belum juga menemui air yang dilihatnya tadi. Fauzan berhenti dan menatap sekeliling, ada banyak genangan air yang dilihatnya. Kemudian berusaha menghampirinya lagi dan ternyata tetap sama tidak ada air pun disana yang ada hanya tanah kering nan tandus. Fauzan putus asa, dia jatuh tersungkur di tengah hamparan yang tandus. Air Matanya menitik.
"Aku tak mampu ya Allah. Cabutlah nyawa ku di tengah kegersangan ini. Biarlah aku mati sekarang" Setelah Fauzan berucap, sontak pepohonan kering berjalan mendekati Fauzan. Fauzan merasa ada yang aneh, ia dongakkan kepala dan melihat beberapa pohon kering ternyata bisa bergerak.
"Kalian bisa bergerak?" Fauzan bertanya dengan berteriak. Tanpa ada jawaban, pohon itu masih saja berjalan menghampiri Fauzan yang masih duduk tak percaya
"Aku harus pergi. Aku belum mau mati" Fauzan bangkit dan berusaha berjalan meski sangat sulit. Rasa sakit di sekujur tubuh membuat Fauzan mengerang. Tanpa menoleh lagi dia berjalan lurus kedepan, hingga matanya menangkap ada sebuah gubuk. Perlahan ia mendekati gubuk yang tidak lagi jauh dari ia berdiri.
"Aneh. Ada gubuk di tengah hamparan gersang seperti ini. Itu berarti ada seseorang juga disini" gumam Fauzan lirih.
Gubuk yang kecil tapi masih terlihat kukuh dengan satu pintu tapi tidak berjendela memberikan sedikit kenyamanan bagi Fauzan. Ia baringkan tubuh diatas bangku teras gubuk ini dan terlelap tanpa menunggu lama. Kemudian ia bermimpi duduk bersama seorang kakek tua di tepi danau.
__ADS_1
"Kenapa kau mendatangi tempat berbahaya ini nak?" tanya sang kakek memegangi janggutnya yang panjang hampir menyentuh tanah.
"Aku tidak bermaksud datang kesini. Aku terdampar kek. Tujuanku sebenarnya ingin mencari rumah kakek di tengah hutan atas petunjuk ayah" tutur Fauzan pada sang kakek di depannya.Meskipun berhadapan tetapi Fauzan tidak bisa melihat wajahnya karena wajahnya bersinar menyilaukan mata sehingga Fauzan hanya menundukkan kepala.
"Kalau begitu berjalanlah ke arah timur tetapi berhati-hatilah karena wilayah ini tidak seperti pada umumnya" Setelah berkata seperti itu sang kakek pergi entah kemana.
Lantas Fauzan terjaga dari mimpinya dan dilirik arloji yang masih melingkar sudah pukul satu siang. Matahari sangat terik, bahkan tanah-tanah menjadi terbelah-belah. Ia melangkah menghampiri tanah yang terbelah dan diambilnya debu untuk tayamum. Ia mengqadha dan menjamak qashar shalatnya. Setelah selesai ia bermunajat kepada sang pemilik hidup untuk selalu melindunginya dan memikirkan mimpi yang baru saja ia alami.
"Apa tadi aku bermimpi, tapi mimpi itu seperti nyata" tanya Fauzan pada diri sendiri.
Namun kali ini ia tidak lagi merasakan sakit seperti sebelumnya bahkan tubuhnya tidak ada yang lecet, padahal ia ingat betul terdapat luka di bagian kaki dan tangannya juga wajahnya akibat serangan naga tadi malam. Keanehan yang terjadi baik pada diri Fauzan maupun keadaan sekitar tidak membuatnya takut untuk melangkah padahal sudah jelas apa yang dikatakan sang kakek dalam mimpi. Dilihatnya sebuah sumur yang tak jauh di depan, lekas Fauzan berjalan mendekatinya. Setelah sampai di bibir sumur, ia melongokkan kepalanya dan melihat air yang ada tetapi hanya kegelapan. Diraihnya ember timba yang menggantung dan di turunkan nya perlahan. Setelah dirasa sudah terisi, Fauzan menarik timba yang terkait dengan katrol. Belum juga timba sampai di permukaan tetapi Fauzan berteriak terkejut.
"Hua … " Fauzan berteriak.
Puluhan ular mendongakkan kepala membuat Fauzan Melepaskan tali timba dan berlari meninggalkan tempat itu. Setelah beberapa langkah Fauzan kembali berhenti dan membalikkan badannya untuk mengecek apakah ular itu mengikutinya atau tidak. Namun alangkah terkejutnya sumur yang ia lihat sudah tiada lagi. Kemudian ia berlari meninggalkan tempat itu sebab tidak ingin kejadian lebih buruk lagi mengganggunya.
Langkahnya terhenti di sebuah pohon yang rimbun dengan buah-buah yang sangat ranum sehingga menimbulkan hasrat untuk memetiknya. Air liur sudah menetes, perut pun ikut berdemo sudah dua hari ini tidak diisi makanan oleh pemilik tubuh. Tanpa menunggu dan memperhatikan sekitar, Fauzan melangkah dan memetik satu buah yang ternyata buah apel.
__ADS_1
"Kebetulan nih ada buah apel. Aku makan satulah. Perutku sudah lapar banget" seru Fauzan setelah memetik buah apel tersebut.
Belum lagi membuka mulut tapi buah apel yang di tangan berubah menjadi batu yang sangat panas sehingga membuat telapak tangan Fauzan melepuh. Karena kepanasan sontak saja Fauzan melepaskan apel yang sudah berubah menjadi batu itu dan anehnya batu itu mendekati pohonnya dan kembali keranting semula. Fauzan yang heran hanya bisa mendesah lirih menahan panas dan ia kembali menatap pohon apel misterius tetapi ia tak menemui batu yang menggantung melainkan sudah berubah menjadi apel kembali.
"Benar-benar aneh. Aku sudah dipermainkan!" pekik Fauzan geram.
Fauzan berlari meninggalkan pohon aneh itu tetapi tubuhnya semakin lemah, bagaimana tidak? sejak kemarin dia sudah berpuasa, tidak minum apalagi makan. Tubuhnya terseok sesekali terjatuh memeluk tanah yang panas, tetapi masih ada harapan dari mimpinya.
"Aku harus bisa bertahan" Fauzan menguatkan diri sendiri.
Ia berusaha bangkit dan menggenggam erat tanah kering dan juga panas hingga lepuhan di tangan pecah mengeluarkan air dan terasalah perih dari luka itu. Berjalan perlahan dengan perih yang ia genggam, sudah tidak dihiraukan lagi apa yang terjadi di sekitar. Namun langkahnya terhenti karena ada sesuatu yang mengikutinya. Dia membalikkan tubuh dan melihat apa yang ada di hadapannya itu.
"Dari mana semua itu. Kenapa banyak sekali hewan yang berjalan di belakangku?" tanya Fauzan heran.
Di tengah keheranan ia kembali dikejut dengan salah satu tingkah mereka.
"Apa semua ini. Aku tidak mau lagi tertipu!" teriak Fauzan tegas. Kemudian ia melangkahkan kaki meneruskan perjalanan tanpa menghiraukan mereka yang masih mengikutinya.
__ADS_1