
"Huum … baik lah. Tolong lihat putraku lagi jika kamu sudah punya waktu" Vero melepas genggaman Dimas dan meraih secangkir kopi dihadapannya.
"Tentu, sayang" jawab Dimas dengan memandang Vero nakal. "Tapi semua itu tidak gratis" lanjutnya dengan memainkan kedua telapak tangan dan tersenyum lepas.
"Aku akan berikan yang kamu minta asal putraku baik-baik saja" ujar Vero menatap Dimas dengan tatapan tajam.
"Well! Aku akan minta jika waktunya sudah tepat" Dimas mengalihkan pandangan ke segala arah.
Pembicaraan pun berlanjut, tanpa terasa hari sudah menjelang sore dan mereka pun berpisah. Sebelum pulang, Vero mengajak Azam untuk membeli beberapa pakaian dan juga mainan tak lupa pula beberapa jenis buah kesukaan putra bungsunya.
"Ayah … kapan tesnya keluar?" tanya Vero sebelum menutup matanya untuk segera tidur.
"Besok pagi baru mau di ambil di tempat bu bidan. Dan melihatnya di balai desa, di sana banyak orang dan juga perangkat desa lainnya sehingga mereka tidak bisa menuduh ayah lagi" ujar Handoko menghampiri istrinya di tempat tidur.
"Tapi besok ada kumpulan ibu-ibu kader, Ayah. Orang kecamatan juga hadir" ujar Vero mengingatkan.
"Biarlah. Kumpulannya di aula kan. Sedangkan ayah di kantor jadi tidak mengganggu kegiatan ibu-ibu" Handoko pergi meninggalkan Vero setelah melihat ada panggilan di ponselnya.
"Siapa yang telpon malam-malam seperti ini, Yah. Nggak sopan banget. Liat tuh udah jam setengah dua belas. Nggak tau waktunya orang tidur!" Vero melirik Handoko kesal sedangkan Handoko hanya menggelengkan kepala dan beranjak keluar kamar.
***
Ibu-ibu sudah berkumpul di aula sedangkan Handoko dan juga perangkat desa lainnya berkumpul di kantor utama. Mereka melakukan kegiatan sesuai yang terjadwal.
"Kapan bu bidan sampai sini" celetuk pak Abid selaku Rt di Rw tiga.
__ADS_1
"Bentar lagi. Saya sudah kirim pesan melalui whatsapp. Kita tunggu saja" jawab pak Ilham menunjukkan pesan yang dikirim.
"Assalamualaikum …"
"Waalaikumsalam, eh bu Bidan sudah datang. Mari masuk" pak Rt menyambut dengan wajah berbinar.
"Gimana, sudah baikkan pak Rt?" tanya bu bidan Linda setelah duduk di kursi yang telah tersedia.
"Alhamdulillah sudah, Bu bidan. Untung langsung ditangani sama Ibu kalau tidak, entak apa yang terjadi pada diri saya. Mungkin saat ini saya sudah berhadapan dengan munkar dan nangkir" jawab pak Rt disambut istigfar dari perangkat desa lainnya.
"Insyaallah itu tidak akan terjadi, Pak. Selama Bapak berusaha hidup sehat. Masalah ajal itu hanya Allah yang tahu dan saya hanya menjadi perantara" ujar bidan Linda mengulas senyum simpul. Kemudian beliau mengambil sebuah amplop berwarna coklat dari dalam tasnya.
"Dan untuk hasil labnya saya bacakan ya Bapak ibu sekalian" ujar bidan Linda yang disaksikan oleh pak kades, bu sekdes dan perangkat desa lainnya. Khususnya Rw satu dan Rt satu karena bersangkutan dengan mereka.
"Iya Bu, silahkan" ujar Handoko yang sedari tadi hanya diam memperhatikan para perangkat yang cukup antusias.
Setelah amplop coklat di buka, bidan Linda kemudian membacakan hasil laboratoriumnya.
"Hasil sampel kemarin yang saya bawa menyatakan semuanya aman, tidak mengandung zat yang berbahaya. Sehingga aman untuk dikonsumsi" ucap bidan Linda dengan tegas. Kemudian beliau memberikan kertas hasil lab kepada bapak kepala desa, Handoko. Setelah dibaca sekilas, Handoko pun menyerahkan kertas tersebut kepada bu sekdes yang kebetulan duduk tak jauh darinya kemudian kertas itu berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain sehingga semua perangkat desa yang hadir melihat hasil yang dibawa oleh bidan Linda.
"Kalau hasilnya normal dan baik-baik saja, lantas kenapa saya muntah-muntah setelah pulang dari rumah pak kades padahal saya tidak makan apapun setelah itu" tanya pak Rt dengan wajah murung. Entah bagaimana beliau menyembunyikan rasa malu yang ia tanggung.
"Pak Rt seperti yang saya bilang sebelumnya ketika saya periksa bapak kemarin malam, Bapak hanya mengalami gangguan pencernaan. Maka dari itu lakukanlah pola hidup yang sehat dengan mengkonsumsi empat sehat lima sempurna. Dan perbanyak minum air putih" bidan Linda dengan sabar memberikan penjelasan khususnya kepada pak Rt yang sedikit tidak percayaan dan mudah menaruh curiga.
"Baiklah kalau begitu, akan saya coba" pak Rt akhirnya mau mengerti maksud dari bidan Linda setelah merenung cukup lama.
__ADS_1
"Kalau begitu saya pamit" Bidan Linda berlalu setelah mengucap salam.
Ruangan menjadi hening setelah kepergian bidan Linda, tidak seorangpun membuka suara. Mereka hanya saling lirik satu dengan yang lain. Begitu pun pak Rt dengan pak Rw yang hanya berbicara menggunakan isyarat mata.
Gawai Handoko tiba-tiba bergetar, sebuah pesan masuk dari bu Hamidah. Seketika wajahnya berubah setelah membaca pesan yang tertulis di layar ponsel.
"Saya pamit, ada urusan" Handoko memecah keheningan setelah sekian menit hanya terdiam. Kemudian oa beranjak dari tempat duduknya dan hendak melangkah keluar.
"Tunggu pak Kades" cegah seseorang dan kemudian mendekat sehingga dirinya dengan Handoko hanya berjarak satu meter saja.
"Ada apa Pak Rt" ucap Handoko tanpa menatap pak Rt yang berada di hadapannya. Pandangannya masih di layar ponselnya.
"Saya minta maaf telah menuduh Bapak dan juga keluarga Bapak" pak Rt menyesali perbuatannya. Ia meraih tangan Handoko yang kini masuk kedalam kantong celana.
"Apa pak Rt menyadari apa yang telah Bapak lakukan. Dan sudah berapa banyak orang yang tahu tentang tuduhan pak Rt kepada saya dan juga keluarga. Apa Pak Rt bisa mencegah tersebarnya fitnah keji itu bahwa saya dan juga keluarga tidak meracuni makanan yang kami suguhkan. Pak Rt bisa menghentikan fitnah itu, hah?" tanya Handoko dengan nafas memburu.
"Maafkan saya. Saya terpaksa melakukan ini. Tolong maafin saya, Pak" Pak Rt memohon kepada Handoko hingga tubuhnya terguncang. Tapi ekor matanya melirik pak Rw yang mendelik ke arahnya.
"Lupakanlah … biarkan saya pergi. Urus kerjaan kalian yang masih tertunda" Handoko mengingatkan dan melangkah pergi.
Suara riuh di aula terdengar semakin gencar. Sehingga memancing perhatian dari perangkat desa yang ada di kantor.
"Apa yang mereka bahas sehingga segokil itu" tanya bu Sekdes pada perangkat desa yang masih tinggal.
"Entahlah" jawab pak Rw acuh
__ADS_1
Suara riuh ibu-ibu mendekati kantor desa yang hanya bersebelahan. Mereka saling melempar kata kotor dan juga menghakimi. Hingga para perangkat desa akhirnya keluar karena suara mereka sangat mengganggu.
"Ada apa ibu-ibu. Kenapa kayak orang demo begini" tanya bu Sekdes bingung.