Cinta Gila

Cinta Gila
CG# 52


__ADS_3

Sebenarnya tidak terjadi malapraktik, kondisi Mitha memang tidak baik-baik saja selama kehamilannya. Tekanan yang kerap dia dapatkan selama kehamilannya sangat mempengaruhi kondisi fisiknya. Tidak heran jika dia mengalami koma setelah mengalami pendarahan paska melahirkan.


Satu minggu sudah Mitha memejamkan matanya dengan rapat. Tidak ada pergerakan sama sekali dari tubuh kurusnya, hanya dadanya yang bergerak naik turun seiring dengan napasnya yang teratur.


"Dok, lakukan sesuatu pada menantu saya. Saya akan bayar berapa pun asalkan dia bisa bangun dan sehat kembali," ucap Damian dengan tatapan memohon pada dokter yang menangani sang menantu.


"Maafkan saya, Pak. Kami selaku tim medis yang menangani menantu Bapak sudah berusaha semaksimal mungkin. Kita berdo'a saja, semoga ada keajaiban terjadi pada menantu Bapak tersebut," jawab dokter berkaca mata itu sembari mengulas senyum.


Sebenarnya dokter itu sudah melakukan berbagai usaha. Namun, sepertinya sang pasien enggan membuka mata. Hal ini biasanya terjadi karena pasien mengalami tekanan yang hebat, sehingga memilih untuk tidur panjang agar terhindar dari tekanan-tekanan yang menghimpit.

__ADS_1


"Dok, bagaimana kalau dalam keadaannya seperti saat ini, kami pindahkan dia keluar negeri?" tanya Damian gusar.


"Sebaiknya kita tunggu dia sadar terlebih dahulu, Pak. Akan sangat beresiko jika membawa pasien yang sedang koma melakukan perjalanan jauh," jelas dokter itu lagi, dia tidak setuju pasien keluar dari rumah sakit dalam keadaan seperti saat ini.


Akhirnya, Damian terpaksa menuruti saran dokter. Laki-laki paruh baya itu memilih tetap tinggal di rumah sakit itu seraya mencari dokter yang bagus untuk merawat sang menantu.


Tidak hanya Damian dan Marcelo yang keadaannya sangat kacau dan berantakan. Laras pun ikut memikirkan keadaan sang kakak madu. Secara tidak langsung dia juga memiliki andil menjadikan keadaan mental Mitha semakin terbebani.


Bayi berusia tujuh hari itu belum juga diberi nama oleh ayahnya. Hal ini dikarenakan, saat hamil Marcelo dan MItha sudah membuat kesepakatan. Jika anak mereka perempuan, Marcelo yang memberikan nama, juga sebaliknya jika lahir anak laki-laki, MItha yang memberikan nama.

__ADS_1


Setiap hari Marcelo tidak pernah absen mengunjungi sang istri. Sejak istri pertamanya melahirkan, laki-laki itu semakin abai dan jauh dengan istri keduanya. Dia sama sekali tidak peduli apakah istri dan kandungannya dalam keadaan baik-baik saja atau tidak.


"Sayang, anak kita belum memiliki nama. Bangunlah, lihat anak kita. Dia sudah merindukan sentuhan ibunya. Kamu juga harus memberinya nama seperti kesepakatan kita sebelumnya," ucap Celo dengan suara tercekat karena menahan tangis.


Setiap hari Marcelo selalu mengajak istrinya berbicara seolah sang istri mendengarnya. Dia berharap sang istri merespon setiap ucapannya, lalu terbangun dari tidur panjang.


"Sayang, apa kamu tidak ingin menggendong anak kita? Apa kamu tidak takut dia tidak mengenalmu sebagai ibu kandungnya? Kalau kamu betah dengan tidur panjangmu, aku takut melanggar janjiku untuk tidak menyentuh Laras," tanya Celo dengan perasaan tidak karuan, sehingga kata-kata ancaman yang keluar dari bibirnya.


Marcelo membuang napasnya kasar. Rasanya ingin menyerah melihat sang istri yang tak kunjung membuka matanya. Namun, mengingat sang anak semangatnya untuk menemani Mitha bangkit seketika.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Celo pergi ke kamar mandi. Saat itulah, jari-jari tangan Mitha bergerak pelan. Tidak ada yang melihat hal itu, padahal sudah sering kali tangan Mitha bergerak ketika diajak berbicara oleh suaminya.


__ADS_2