
"Itukan suaranya ayah, tapi ayah sedang bicara dengan siapa dan ini kapan. Apa mau magrib kemarin" Vero bermonolog sendiri, rasa bingung dan juga penasaran muncul begitu saja maka cepat-cepat ia memeriksa ponsel dan mengawasi Azam yang bermain sendiri.
"Iya benar dugaanku. Menjelang magrib kemarin. Atau aku telepon saja sekarang
" ucap Vero dengan menggeser-geser ponselnya. Ia mencari dan menekan nomor suaminya, mencoba untuk menghubungi. Namun tidak diangkat, ia mencoba lagi berulang kali tapi tetap sama tidak ada jawaban dari nomor yang dituju. Tak sabar, Vero beranjak dari tempat duduknya.
"Ibu mau kemana. Azam ikut" pinta Azam berlari meninggalkan kamar dan mengekor di belakang Vero.
"Ibu mau ke teras, nak. Ayo kalau mau ikut" ajak Vero dengan meraih tangan putranya. Melihat senyum Azam membuat hati Vero sedikit bahagia.
"Apa kita mau pergi, Ibu" tanya Azam dengan mata berbinar. Ia mengikuti Vero memeriksa mobil milik Ayahnya.
"Tidak sayang. Lain kali kita perginya ya" Vero masih sibuk memeriksa apa saja yang ada di dalam sana.
"Yah ibu … udah lama loh kita nggak jalan-jalan"
"Iya ibu tau tapi ayah kan masih sibuk nak. Ni ada permen, mau?" Vero mengangsurkan sebungkus permen pada putranya dan melangsungkan pemeriksaannya lagi tanpa memperdulikan ocehan Azam.
"Apa ini, resep? Untuk siapa?" Vero memperhatikan secarik kertas yang sudah ia raih.
"Ayo sayang kita masuk. Ibu ada pertemuan, Azam sama bibi di rumah ya" Vero menggandeng tangan putranya lembut.
"Aku ikut boleh ya Bu" pinta Azam Memelas. Vero tak tahan melihatnya seperti ini, akhirnya buliran bening menetes. Ia menyesal karena tak memiliki banyak waktu bermain bersama. Setelah berusaha merayu, Azam pun mau menuruti ibunya.
***
Waktu bergulir sangat cepat, setelah pertemuannya dengan ibu-ibu perangkat, Vero bergegas menuju parkiran.
"Mau kemana Bu Kades. Kok buru-buru banget" sapa bu Ema yang menyandang pangkat sebagai Sekdes. Wanita dengan tubuh gemuk dan tidak tinggi itu tak berhentinya mengunyah. Beliau nyaman melintas dengan sebuah gorengan di tangan kanannya.
__ADS_1
"Mau ke apotek" sahut Vero singkat tak lupa dengan melempar sebuah senyum manis dari bibirnya. Sebagai istri seorang perangkat desa, ia dituntut untuk bisa bersikap profesional di hadapan semua orang meski sangat sulit untuk dirinya.
"Siapa yang sakit? Pak kades? Pantesan nggak masuk hari ini. Bukannya tadi malam sehat-sehat aja Buk di rumah pak Rt" oceh bu Ema dengan tangan melipat di atas perut.
"Iya, ayah sehat tadi malam. Emang ibu di sana juga?" Vero kembali menyetandarkan motor dan berbalik menatap wajah bu Ema. Meski tadi malam sempat menguping tapi ia tidak bisa melihat siapa saja yang hadir di rumah pak Rt itu, kebetulan ia juga tidak mendengar suara bu Ema disana.
"Iya. Saya di sms suruh datang. Ya jam setengah sepuluhan lah" ucap bu Ema santai.
"Oh … pantesan nggak terdengar suaranya. Jam segitu aku kan sudah pulang" batin Vero dalam hati.
"Emang ada masalah apa Bu. Kayaknya penting banget ya, sampai ayah buru-buru gitu" tanya Vero penuh selidik.
"Apa pak kades belum cerita" Bu Ema sedikit berbisik dengan menyentuh lengan Vero. ia meletakkan buku yang sedang dipegang ke atas jok motor dan mengubah posisi berdirinya.
"Belum" jawab Vero singkat
"Mawaris Bu. Kemarin kan saudaranya pak Rt yang jauh-jauh pada datang dan mau membagi warisan orang tua mereka. Pokoknya cukup menegangkan tadi malam Bu. Aku aja sampai pulang jam dua belas" Bu Ema dengan semangat bercerita dengan gaya khasnya itu memiring-miringkan bibir.
"Ya hati-hati. Ini juga sudah siang, hampir azan zuhur" bu Ema menunjukkan arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Hm …" Vero meninggalkan Aula dengan perasaan sedikit kesal. Bagaimana bisa Handoko tidak pulang ke rumah sedangkan bu Ema saja pulang meski jam dua belas malam. Hatinya bergemuruh hebat, tubuhnya gemetar menahan emosi mengingat perbuatan suaminya itu.
"Kau pulang kemana hah!" teriak Vero kesal setelah berada di tengah persawahan. Ia semakin yakin kalau Handoko menyembunyikan sesuatu darinya.
"Awas aja kalau sampai mengganggu kehidupan keluargaku" ancam Vero dengan tangan mengepal.
Setelah menempuh waktu lima menit, sampailah Vero pada apotek terdekat.
"Vitamin C nya satu mba" ucap Vero pada seorang wanita muda yang berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Lima belas ribu Bu" jawab gadis muda berkerudung putih itu sopan dengan mengangsurkan plastik kecil berisi vitamin.
"Terimakasih. Oh ya saya boleh tanya mba" tanpa ragu Vero menatap lembut manik coklat penjual di hadapannya.
"Silahkan"
"Mba tau ini resep untuk penyakit apa" tanya Vero setelah memberikan secarik kertas yang ia temukan di dalam mobil suaminya tadi pagi.
"Oh ini untuk pereda nyeri, vitamin dan penguat rahim Bu" jawab penjual setelah membaca tulisan resep yang sangat sulit dibaca, dan hanya orang tertentu yang bisa membacanya.
"Penguat rahim?" tanya Vero memastikan,ia berharap salah dengar.
"Iya Bu. Biasanya obat itu digunakan oleh ibu hamil yang kandungannya lemah" jelas wanita itu kemudian. Mendengar hal itu, Vero syok, pikirannya linglung tak tahu harus berbuat apa. Sampai penjaga apotek menegur karena dia cukup lama bengong tanpa beranjak dari tempatnya.
"Apa Ibu baik-baik saja?"
"Ha … hm …terima kasih" ucap Vero dan berjalan oleng menuju motornya. Ia menggenggam erat resep obat di tangan.
Dengan wajah memerah dan mata berembun Vero meninggalkan apotek perlahan. Sedangkan air mata tak mau diajak kompromi, luruh begitu saja padahal sudah bersusah payah menahan agar tidak menangis.
"Ayah sudah pulang, Bik?" tanya Vero setelah tiba di rumahnya. Kemudian mengedarkan pandangan seluruh penjuru ruangan.
"Baru saja pulang Bu" Bik Minah menoleh tanpa beranjak karena sedang sibuk menyuàpi si bungsu. Tangan tuanya sangat telaten mengurus Azam, pantesan Azam betah sama pembantunya, bik Minah selain telaten beliau juga sangat sabar.
"Baiklah. Saya ke kamar dulu" pamit Vero setengah berlari. Sudah tidak sabar ia ingin menginterogasi suaminya bahkan ia tak peduli Handoko lelah atau tidak. Menurutnya lelah juga karena ulahnya sendiri.
Setelah tiba di kamar, ia duduk di pinggir sofa menunggu suaminya selesai mandi sembari memikirkan kata apa yang bisa membuat Handoko berkata jujur.
"Ibu kapan pulang?" tanya Handoko berdiri di hadapan istrinya masih dengan lilitan handuk. Melihat vero tak bereaksi dan tetap membisu, handoko berjalan menuju lemari untuk mengenakan pakaian.
__ADS_1
"Seharusnya pertanyaan itu untuk mu ayah, bukan untukku" Vero menatap Handoko tajam. Ia berdiri menghampiri suaminya yang masih mematung.
"Katakan padaku, apa yang kau sembunyikan" Vero bertanya dengan penuh emosi.