
Sementara itu Fauzan masih fokus dengan bibir yang terus berdzikir dan mata yang masih siaga memperhatikan sekitar. Sepi sudah tanpa suara baik jangkring dengan suara isengnya maupun ngauman serigala. Lantas Fauzan bernafas lega dan menyandarkan punggung pada pohon yang ia naiki.
Gerrrr …
Fauzan kembali terkesiap ketika mendengar suara dari arah bawah pohon. Dia mengubah posisi yang tadinya duduk menjadi berjongkok dengan satu tangan memeluk pohon dan tangan yang lain meraih senter yang menggantung di pergelangan tangan. Kemudian ia menyalakan senter dan mengarah ke sumber suara.
"Astagfirullah. Lindungi aku ya Allah" Fauzan memohon dalam hati. Tubuhnya seketika lemas setelah melihat siapa yang berada di bawahnya itu. Senter yang ia arahkan mengenai mata seekor serigala yang berputar-putar di bawah pohon. Matanya sesekali mengkilap terkena cahaya senter. Jika dia tetap disini, khawatir hewan buas itu akan menerkamnya, sehingga Fauzan berusaha untuk naik lebih tinggi lagi. Diarahkannya senter ke cabang yang lebih tinggi. Kemudian ia memanjat perlahan sebelum serigala itu menerkamnya.
"Hush … hush …"Fauzan berusaha mengusir binatang buas itu dengan mengarahkan cahaya senter ke wajahnya. Tetapi serigala itu malah mengaum, membuat Fauzan bergidik ngeri karena cahaya senter yang ia arahkan tidak mempengaruhi. Melihat hal ini, Fauzan mematikan senter dan diam tanpa bersuara. Dia membekap mulut dengan satu tangan agar nafasnya tidak tercium oleh binatang buas tersebut. Setelah cukup lama berdiam diri di atas pohon dan dirasa aman, Fauzan menghidupkan kembali senternya dan mengarahkan ke sembarang tempat untuk melihat keberadaan serigala tersebut. Namun sejauh cahaya senter diarahkan, Fauzan tidak lagi melihat tanda-tanda adanya binatang buas itu lagi. Hatinya merasa lega. Kini ia tinggal menunggu waktu pagi saja. Diliriknya arloji dengan bantuan cahaya senter.
"Baru jam sebelas malam, pagi masih lama" Fauzan mendengus lirih. Dengan posisi duduk di cabang pohon dan tangan memeluk pohon yang menjulang lurus keatas, Fauzan berniat melelapkan mata sejenak karena letih dan kantuk sudah tak mampu ia tahan lagi. Sudah berulang kali ia menguap dan sesekali ia menahannya.
Namun baru saja dia ingin memejamkan mata, sesuatu yang dingin telah menyentuh kakinya yang hanya dilapisi sandal. Gegas Fauzan membuka mata dan mengarahkan senter tepat ke kakinya.
__ADS_1
"Tidak ada apapun, padahal aku sangat yakin tadi ada sesuatu yang dingin menyentuh kakiku" pikir Fauzan dalam hati. Ditengah kegundahannya, Fauzan kembali dikejutkan oleh sosok bayangan putih yang melintas.
"Astagfirullah, apa itu tadi" ucap Fauzan seraya memegangi dada yang berdegup kencang, nyaris dia terjatuh sebab tangannya hampir saja terlepas.
Hi … hi … hi …
Suara itu kian nyaring, entah sosoknya melayang kemana hanya suara yang memekakkan telinga. Fauzan berusaha fokus dan mengucap ayat suci alquran. Namun naas semuanya hilang dari memori, dengan tubuh gemetaran dia berusaha mengucap asma Allah tetapi lidah terasa kelu, tubuh juga sangat sulit untuk digerakkan. Sedangkan lengkingan tawa semakin nyaring seolah sedang mengejek ketidakberdayaan Fauzan.
"Mungkinkah ada orang di sana atau itu rumah kakek yang aku cari" tanya Fauzan pada diri sendiri.
Setelah difikir-fikir, akhirnya ia memutuskan untuk menghampiri pelita tersebut. Dengan mengucap Basmalah Fauzan turun dari pohon setelah memastikan pelita itu masih ada. Dengan bekal senter dan belati kecil ia langkahkan kaki menerobos gelapnya malam melewati rimbunnya hutan. Sesekali melirik arloji tetapi waktu berjalan sangatlah lamban. Setelah berjalan cukup jauh dan cahaya senter mulai meredup tetapi Fauzan belum juga sampai pada pelita yang ia lihat tadi. Fauzan kembali menyusuri hutan dengan berjalan sedikit tertatih tetapi kakinya kembali terkantuk sesuatu membuat ia jatuh tersungkur.
"Astagfirullah. Apa ini?" Fauzan menyentuh sesuatu yang aneh dengan bantuan cahaya senter. Sebuah benda melingkari pohon dengan warna keemasan. Diperhatikannya perlahan dengan mengarahkan senter ke sekitar pohon, walaupun cahayanya mulai meredup tetapi masih sangat jelas untuk melihat yang melingkari pohon tersebut. Ketika senter diarahkan ke atas mengikuti lingkaran,alangkah terkejutnya Fauzan bahwa yang dilihatnya itu seekor ular tetapi memiliki tanduk. Mirip dengan naga yang berada di televisi. Fauzan melangkah mundur ketika kepala ular bertanduk tersebut mulai mendongak dan memperlihatkan taring tajam dengan air liur menetes deras.
__ADS_1
Fauzan berlari ke sembarang arah menerjang rumput-rumput liar yang tajam. Sedangkan ular bertanduk itu atau sebut saja naga masih gencar mengejarnya.
"Ya Allah tolong aku. Dimana engkau ya Allah. Engkau tahu saat ini aku berada di jurang maut. Maka selamatkanlah aku" pinta Fauzan sambil terisak. Sedangkan jalanan sesekali terang oleh semburan api dari sang naga. Tidak sedikit pohon yang terbakar, mungkin inilah alasannya banyak pohon yang kering padahal pohon di sekeliling masih hijau.
"Wahai ular besar atau pun naga namamu, sungguh aku tidak berniat mengganggumu. Aku hanya ingin mencari rumah kakek di tengah hutan ini. Jangan ganggu aku! Maafkanlah aku tak sengaja membangunkanmu" Fauzan berteriak sekencang mungkin seraya berlari.
"Mungkinkah cahaya yang kulihat tadi semburan daru naga itu? Bodohnya aku tidak berpikir sampai disini" Fauzan merutuki diri sendiri.
Semburan api terus keluar dari sang naga yang masih mengejar Fauzan. Bahkan tidak sedikit pohon yang terbakar sehingga membuat hutan sedikit lebih terang. Namun Fauzan juga merasakan panas yang luar biasa ketika api sedikit menyerempet tubuhnya. Sesekali ia menoleh kebelakang, dan melihat jarak yang sangat dekat antara dirinya dan juga naga itu. Bahkan kepala naga berusaha menggapai diri Fauzan tetapi sering terhalang oleh pepohonan karena Fauzan berlari secara zigzag. Baginya cahaya dari semburan naga memudahkan dia menghindari diri dari terbenturnya ke pohon. Namun kali ini tas ranselnya tersangkut oleh cabang pohon sehingga membuat dia tertarik ke belakang. Ketika Fauzan sedang berusaha melepaskan cantolannya tapi naga itu sudah berdiri di sampingnya dengan semburan api melewati wajahnya. Panas bukan main yang dirasakan Fauzan, maka ia bergegas melepaskan tas ransel dan membiarkan menggantung di cabang pohon. Dia berusaha untuk melarikan diri lagi dan berlari tunggang langgang. Namun masih saja naga itu mengejarnya lebih beringas lagi, kali ini sisi kanan dan kiri sudah terbakar oleh api. Fauzan yang mulai putus asa berniat menyerah ketika telah sampai di dataran yang tandus. Tidak ada penghalang lagi antara dirinya dengan semburan api naga. Ia berlari bingung tak menentu, setiap kali naga itu menyembur nyaris mengenai dirinya beruntung Fauzan sangat gesit menghindar. Tapi sepertinya maut lebih memilihnya, Fauzan terduduk lemas antara dirinya dan juga jurang yang ada dihadapannya. Sedangkan sang naga berdiri gagah dengan kedua kaki dan ekor melenggang. Sesekali disemburkannya api ke angkasa lapang seolah menunjukkan kepada Fauzan betapa gagah dan perkasanya dia.
"Tolong maafkan aku. Aku tak sengaja membangunkanmu dari tidur. Aku hanya ingin mencari kediaman kakek di dalam hutan ini. Tolonglah maafkan aku" Fauzan bersimpuh dan memohon kepada sang naga, seolah dia mengerti ucapan manusia.
"Wahai manusia, bukankah itu sifat aslimu. Saling mengganggu!" Bentak sang naga lantang. Fauzan yang terkejut mengetahui naga bisa bicara semakin ciut nyalinya.
__ADS_1