
K … kau bisa bicara?" Fauzan bertanya tergagap. Baru kali ini ia melihat secara langsung seekor naga bisa berbicara. Sebelumnya ia hanya melihat di televisi ataupun di youtube.
"Ya! Aku juga bisa berbicara seperti dirimu karena rahmat Allah untukku" jawab sang naga dengan suara menggelegar nyaris memecahkan gendang telinga diiringi semburan api ke angkasa. Tanduk yang panjang diiringi taring yang menjuntai memberikan kesan mengerikan bagi Fauzan maupun orang lain.
"Jika engkau bisa berbicara maka bantulah aku, ku mohon" Fauzan memberanikan diri berjalan lebih dekat. Berharap sang naga mau membantu meringankan kesulitan yang sedang dihadapi.
"Ha … ha … ha … aku sampai disini bukan untuk kompromi dengan mu, melainkan untuk melahapmu. Dasar manusia bodoh!" Bentak sang naga dengan menyemburkan api kearah Fauzan.
Melihat dirinya dalam bahaya, Fauzan berlari menghindar. Namun dia tidak bisa bertahan lama disini karena jalan sudah buntu dan di depannya saat ini hanyalah jurang yang dalam. Saat ini dia dihadapkan dengan pilihan yang sama-sama sulit, bertahan tetapi dia pasti akan menjadi santapan naga galak atau meloncat ke jurang dengan kemungkinan dia selamat hanya satu persen.
"Pandai kau mengelak, anak manusia! Namun apakah kamu bisa mengelak dari ekorku yang tajam?" Ucap sang naga dengan memamerkan ekor berduri berwarna merah menyala.
Fauzan yang tak mampu bela diri merasa gemetar melihat ekor yang melambai-lambai di udara. Ekor itu dikibaskan ke arah Fauzan sedangkan ia tak ada pilihan lain selain meloncat untuk menyelamatkan diri walaupun dia tahu kemungkinan selamat sangat lah kecil. Namun dia tidak akan tahu sebelum mencobanya.
"Allahuakbar" teriak Fauzan lantang ketika menerjunkan dirinya ke dalam jurang.
Melihat mangsanya terjun bebas menelusuri jurang, naga itu tertawa lepas.
"Kamu tidak tahu apa yang ada di dalam sana sehingga kamu lebih memilih terjun ke dalam jurang berbahaya itu" pekik sang naga menggelegar.
***
Prang …
Vas bunga kesayangan Fauzan pecah begitu saja di ruang tamu, padahal tidak ada angin maupun tersenggol sesuatu. Meskipun lelaki tetapi Fauzan sangat menyukai keindahan bahkan dia memiliki beberapa koleksi vas bunga dengan harga yang lumayan mahal. Vas bunga itu ia dapat bukan dari ayahnya maupun ibunya melainkan ia sisihkan sebagian uang saku dan hadiah dari ayahnya jika mengantarkan laporan. Memberi hadiah berupa uang sering Handoko lakukan untuk melatih anak supaya bisa bersikap dermawan.
"Bibik!" teriak Vero setelah tiba di kamar Fauzan. Ia berlari menuju kamar tidur milik putranya setelah mendengar benda pecah dari sana dan alangkah terkejutnya setelah melihat vas bunga kesayangan telah hancur berkeping-keping.
__ADS_1
"Iya Bu" Bik Minah berjalan terengah-engah menghampiri Vero.
"Kenapa vas bunga bisa pecah!" tanya Vero sedikit membentak.
"Sa … saya tidak tahu Bu. Saya baru saja terbangun dan belum memasuki kamar aden" jawab bik Minah tergagap.
"Ya sudah! Kembalilah ke dapur dan nanti jangan lupa bereskan serpihan kaca" perintah Vero pada pembatunya itu. Diliriknya jam dinding yang menggantung di salah satu dinding kamar Fauzan.
"Baru jam setengah tiga pagi. Memang tidak masuk akal jika bik minah yang masuk ke kamar ini, tapi siapa?" Vero berjalan memasuki kamar putranya yang sudah beberapa hari ini tidak ditempati. Namun begitu tetap saja masih dibersihkan oleh bik Minah itu pun atas perintah Vero. Diperiksanya jendela mungkin ada sesuatu yang menyebabkan vas terpecah, tetapi tidak menemukan sesuatu kemudian beralih ke kamar mandi dan bawah kolong ranjang tapi hasilnya juga tetap sama.
"Jangan-jangan Fauzan dalam bahaya" Vero berbisik pada diri sendiri. Rasa cemasnya kian membuncah ketika vas terpecah tanpa sebab. Mata mulai berkunang-kunang dan rubuhlah tubuh Vero ke lantai.
***
Hu … hu … hu …
"Sejak kapan aku disini?" Vero bertanya bingung dan menyambut Azam ke pelukannya.
"Tadi kamu pingsan di kamar Fauzan terus ayah bawa kamu ke kamar kita" jawab Handoko cemas.
"Ayah kok tau kalo ibu pingsan di kamar Fauzan" tanya Vero penuh selidik.
"Ya tau lah. Ayah bangun tidur kamu sudah nggak ada, ayah langsung tanya bik Minah di dapur. Kata bik Minah kamu di kamar Fauzan sekitar jam tiga pagi" jelas Handoko seraya bangkit dari sisi ranjang.
"Ayah mau kemana?" tanya Vero menggenggam jemari Handoko.
"Mau sholat subuh! Ayah belum shalat sudah hampir tengah enam nih. Udah tua jangan manja! Malu sama Azam tuh" Handoko menunjuk ke arah Azam yang hampir tidur kembali di pelukan Vero.
__ADS_1
"Vero nggak manja, Yah tapi ada yang mau Vero ceritain" sahut Vero melepas jemari sang suami.
"Iya nanti. Tidurkan Azam di kasur. Kamu mandi terus subuhan, sunah mandi setelah pingsan" Handoko berujar mengingatkan dan berlalu pergi kekamar mandi untuk berwudhu. Diikuti Vero setelah menidurkan Azam di atas ranjang.
Setelah selesai melakukan kewajiban kepada sang pemilik hidup. Kedua suami istri duduk saling berhadapan di atas sajadah.
"Yah, ibu khawatir sama keadaan Fauzan" Vero membuka percakapan setelah mencium tangan suaminya takzim. Masih dengan mukena di badan Vero berusaha menceritakan beban di hatinya.
"Khawatir boleh tapi jangan sampai melewati batas takdir" jawab Handoko datar.
"Kenapa ayah tenang-tenang saja. Apa ayah sudah tidak sayang lagi sama putra kita?" tanya Vero lagi. Kali ini wajahnya lebih dekat.
"Yang namanya anak, ayah pasti sayang dan juga khawatir tapi kehidupan terus berjalan. Kita harus bisa mengikutinya. Kamu berdoa saja lah supaya Fauzan dalam lindungan Allah" ujar Handoko. Kali ini sikapnya sudah berubah seperti biasanya, tidak seperti kemarin yang ingin melahap manusia. Rasa sesal menyeruak dalam hati tatkala Handoko membentak istrinya itu. Selama menikah Handoko memang tidak pernah membentak ataupun memarahinya. Hanya saja kemarin dia terbawa emosi dengan masalah yang sedang dihadapi tanpa sepengetahuan Vero.
"Yah, bisa nggak kirim orang untuk menjaga anak kita" pinta Vero.
"Tidak bisa!"
"Kenapa?" Vero sedikit menaikkan volume suaranya. Sehingga membuat Azam terbangun dengan menggeliat. Namun bocah kecil itu tertidur kembali karena dua malam terakhir ini Azam dan juga Vero tidak bisa tidur dan akan tidur jika sudah menjelang waktu subuh.
"Ayah ini pimpinan di desa jadi ayah harus bersikap adil meski ke anaknya sendiri dan kamu juga tau kalo diasingkan itu tidak boleh dijenguk maupun menjenguk" tutur Handoko menjelaskan dengan sabar meski Vero sudah sedikit emosi.
"Tapi Ayah bisa mengirim orang tanpa orang lain tahu kan" pinta Vero lagi.
"Iya Ayah bisa, tapi coba kamu pikir jika orang lain tidak tahu apakah Allah juga tidak tahu. Allah pasti tau perbuatan ayah yang curang. Lalu bagaimana ayah menjawab nanti jika Allah mempertanyakan keadilan atas kepemimpinan ayah?" Handoko berusaha membuat Vero mengerti seraya mengusap pucuk kepalanya.
"Pokoknya Vero mau ngelakuin sesuatu tanpa persetujuan ayah ataupun tidak!" Vero bersi tegang lalu berdiri meninggalkan Handoko seorang diri di atas sajadah.
__ADS_1