
Menjelang waktu isya' Handoko terlihat sangat gelisah. Berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya dan sesekali ia menyugar rambut dengan kasar.
"Ayah ayo mainan" rengek si kecil Azam. Ia berlari memasuki kamar dan bergelayut manja di tangan Handoko, sesekali mencium punggung tangan ayahnya itu.
"Halah … besok lagi. Ayah capek" tolak Handoko kasar. Ia menyingkirkan Azam dengan menghentakan tangan yang sedang dipeluk olehnya. Sebelumnya Handoko tak pernah melakukan ini, ia selalu meluangkan waktu untuk putra bungsunya walau hanya sebentar. Namun kali ini pikirannya kalut, hatinya berkecamuk, konsentrasinya pecah, moodnya buruk. Sedang Azam yang masih lugu, ia tak bisa mengerti keadaan ayahnya.
"Ayolah ayah. Tadi malam nggak mainan, tadi siang juga nggak mainan" Azam kembali merengek. Hatinya perih tatkala ayahnya menolak, netranya mulai berembun sedangkan hidungnya kembang kempis menahan kekecewaan tetapi ia masih menaruh harapan agar sang ayah mau bermain dengannya sebelum ia beranjak tidur.
"Ayah bilang besok ya besok! Dengar!" sentaknya menggelegar. Dia telah gelap mata sehingga tega berucap keras.
"Huh … aku nggak suka ayah, ayah jahat!" ucap Azam. Ia menangis tanpa suara, nafasnya berat naik turun. Seperti ada bongkahan batu sedang menghimpit di dalam dadanya, ingin menjerit keras tapi sikecil Azam takut dengan ayahnya.
"Ibu …" Azam berlari keluar dan meninggalkan ayahnya sendiri di kamar. Dengan uraian air mata ia memeluk Vero ibunya yang sedang sibuk membuat kue di dapur.
"Azam sayang… ada apa. Kenapa nangis?" Vero menyambut pelukan dari putranya itu setelah membersihkan tangan dengan tisu. Di usap lembut rambut hitam bergelombang dan mendaratkan sebuah kecupan hangat di kening Azam. Setelah cukup tenang Vero melepaskan pelukannya dan menatap penuh pertanyaan.
"Ayah jahat, Bu. Aku ajak mainan tapi nggak mau" Azam mengadukan perbuatan Handoko dengan mempraktikkan tingkahnya tadi.
"Mungkin ayah capek,sayang. Sekarang Azam tidur aja ya, kan pinter anak ibu" ucap Vero berusaha memberi pengertian.
Namun di luar dugaan, Azam malah bertingkah tak terkendali. Ia kembali menjerit keras dan menghamburkan kue yang sudah dicetak. Hal ini membuat Vero dan bik Minah saling pandang.
__ADS_1
"Sayang nggak boleh gitu. Tidur yuk sama ibu" ajak Vero yang disambut dengan anggukan Azam. Kemudian ia meminta bik Minah untuk menyelesaikan pembuatan kue yang hanya tersisa sedikit lagi.
Tak butuh waktu lama Vero berhasil menidurkan Azam, ia berniat hendak mengecek apakah pembantunya telah menyelesaikan pekerjaannya tadi atau belum. Namun niatnya ia urungkan ketika mendengar seseorang menutup pintu kamarnya dengan kuat. Hal itu terdengar jelas karena kamar Azam dan juga Vero berdampingan.
"Ayah" batin Vero. Ia bergegas untuk memastikan dan ternyata benar, Handoko yang baru saja keluar dari kamarnya. Kemudian terlintas di benaknya untuk membuntuti Handoko, bukan tanpa alasan Vero melakukan ini. Beberapa hari terakhir sikap suaminya memang berubah dan seperti menyembunyikan sesuatu. Bukan tidak pernah Vero menanyakan hal ini, hampir setiap hari ia tanyakan tentang perubahan sikapnya itu. Namun jawabannya tetap sama, mengecewakan. Sehingga ia berpikir inilah kesempatannya untuk membuktikan kecurigaannya itu benar.
Setelah Handoko berlalu menggunakan sepeda motor besarnya, Vero juga mengikuti menggunakan motor matic yang ia miliki. Tentu saja dengan jarak yang sudah diatur dan helm di kepalanya, ia yakin Handoko tidak curiga. Namun tanpa disadari, ia hanya menggunakan daster rumahan tiga per empat tanpa kerudung penutup kepala karena ia tak sempat mengambil di kamar.
Setelah motor suaminya berhenti, Vero juga menghentikan motornya agak jauh. Ia memperhatikan gerak gerik Handoko dan juga lingkungan sekitar.
"Ke rumah pak Rt ternyata" gumamnya sedikit lega. Tapi belum juga puas, Vero berniat untuk mengintip karena ia masih curiga dengan masalah yang membuat Handoko mendatangi perangkat desanya dengan terburu-buru, tanpa salam maupun izin apalagi cara menutup pintu yang keras menandakan suaminya sedang kesal. Biasanya mereka yang datang ke rumah Handoko walaupun masalahnya urgen.
Setelah Handoko memasuki rumah pak Rt, Vero berjalan mengendap-endap tanpa menanggalkan helm. Dari jauh sudah diperhatikan cukup banyak motor yang terparkir di halaman dan berjejer sandal di depan teras menandakan sedang banyak orang di dalam. Dengan pintu utama yang terbuka, tidak mungkin Vero berjalan melewati halaman. Ia memilih jalan samping dengan cahaya yang minim. Suara riuh orang-orang berargumen sehingga menambah rasa penasarannya. Vero menempelkan telinga ke dinding dan berusaha mencari celah untuk melihat melalui jendela tapi sial jendela itu tertutup rapat dan terhalang dengan gorden hanya sebutan nama yang ia dengar. Karena jenuh dan banyak nyamuk yang menyerang, akhirnya Vero memutuskan untuk kembali pulang dengan sedikit kesal.
Azan subuh masih berkumandang, Vero menggeliat dan membuka mata perlahan. Setelah puas, baru menyadari bahwa Handoko tidak ada di sebelahnya. Masih teringat jelas dalam benaknya tadi malam, setelah sampai rumah dia hanya memeriksa Azam kemudian sholat dan tidur tanpa menunggu suaminya pulang dahulu.
"Apa ayah nggak pulang semalam" gumam Vero masih dalam posisi berbaring, dipijatnya pelipis yang sedikit berdenyut memikirkan suaminya itu.
"Apa aku telpon aja. Gawai … mana gawaiku" Vero beranjak mencari gawainya dan ia berusaha mengingat kembali kapan terakhir menggunakan benda persegi empat itu.
"Malangnya aku, kenapa aku menjadi pelupa" Vero merutuki dirinya sendiri. Ia periksa seluruh meja dan laci kemudian beralih ke ruang tamu tapi tetap tidak menemukannya. Bik Minah yang melihat majikannya kebingungan langsung menghampiri Vero.
__ADS_1
"Ibu sedang apa. Ibu mencari sesuatu?" tanya bik Minah pelan, khawatir mengejutkan Vero. Ia paham betul majikan perempuannya sangat kagetan sampai latah-latah.
"Bik lihat ponselku nggak?" tanya Vero tanpa memperdulikan kebingungan pembantunya. Ia bahkan tidak menoleh.
"Ponsel? Kemarin kan buat mainan aden Azam, bu. Apa ibu sudah mengambilnya?" tanya bik Minah sopan
"Kayaknya belum,bik" Vero mencoba mengingat dan merebahkan tubuhnya di sofa.
"Apa tadi malam ayah pulang, bik?" tanya Vero lagi.
"Tidak Bu. Tidak ada orang yang datang setelah Ibu pulang tadi malam" terang bik Minah ikut serta merebahkan tubuhnya di sofa. Hal itu tidak dimasalahkan untuk Vero dan juga Handoko, bagi mereka pembantu dan majikan sama dihadapan Allah jadi tidak ada bedanya duduk di bawah atau diatas.
"Hm … tolong periksakan Bik di teras" ucap Vero. Memang kemarin Azam bermain ponsel di teras bersamanya, setelah itu ia pergi ke kamar mandi karena Azam pup. Namun Vero tidak kembali lagi ke teras karena ia langsung berkutat di dapur bersama pembantunya.
"Baik Bu. Tunggu sebentar" Bik Minah beranjak menuju teras dan tidak memakan waktu lama beliau telah kembali.
"Ada Bik" tanya Vero antusias
"Ada Bu. Untung nggak hilang padahal ini ponsel di dekat tiang" Bik Minah menyerahkan ponsel pada Vero dan pamit untuk melakukan kegiatannya kembali di dapur. Vero menerimanya dan perlahan membuka ponsel hendak menghubungi Handoko. Namun niatnya terhenti ketika ia menyadari perekam suaranya aktif. Penasaran tapi tidak langsung dibuka karena hari sudah menjelang siang sedangkan Vero belum sholat subuh.
Ia membawa ponselnya ke dalam kamar dan langsung sholat setelah bersuci. Di akhir sujudnya tak lupa meminta pengampunan pada Allah dan juga kebaikan untuk keluarganya. Vero tidak langsung berbaur dengan bik Minah seperti sebelumnya. Ia merasa sangat letih dan juga lesu. Iseng membuka rekamannya dan dengan telaten mendengarkan ocehan putranya itu. Berarti rekaman itu hidup semalaman penuh.
__ADS_1
Di jam berikutnya Vero terkejut dengan ucapan seseorang direkaman itu. Sambil memakaikan baju Azam karena Azam baru selesai mandi setelah bangun tidur, ia berpikir keras maksud dari ucapannya.