Cinta Gila

Cinta Gila
17. Pasir Hidup


__ADS_3

Fauzan yang sudah ngos-ngosan berlari cukup jauh kini dirinya bisa melihat perbatasan antara padang yang gersang ini dengan hutan. Rasa bahagia menyeruak di dalam hati. Namun ia teringat dengan hewan yang mengikutinya tadi. Kemudian ia berhenti dan menoleh kebelakang tetapi ia tidak lagi menemukan apapun di sana. 


Fauzan kembali melangkahkan kakinya menuju perbatasan hutan tersebut. Namun  kakinya tergelincir ke dalam pasir hisap.


"Tolong …! Siapapun tolong aku!" teriak Fauzan ketika kakinya mulai terbenam. Ia berusaha untuk mengangkatnya tapi kekuatan dari dalam pasir sangatlah luar biasa. Jangankan untuk mengangkat, untuk menggeser saja dia tidak mampu. Sambil berusaha dia meraih tepian pasir dan tanah pecah, dia juga berteriak minta tolong dengan kekuatan yang dia punya.


"Alangkah buruknya nasibku. Kenapa juga aku tidak memperhatikan jalan. Ya Allah tolong aku. Kirimkan seseorang untuk menolongku!" Fauzan berteriak lantang di tengah keputusasaan.


Kini pasir hisap itu telah menelan separuh tubuhnya. Namun Fauzan hanya bisa merutuki dirinya sendiri.


"Seseorang atau siapapun tolong aku! Biwajhillah kumohon tolong aku" Fauzan berteriak kembali minta tolong, antara hidup dan mati Fauzan masih mengharap ada seseorang yang bisa menolongnya. 


Kini hanya tinggal wajah dan tangan yang ia naikkan ke atas, sedangkan tubuhnya sudah masuk ke dalam pasir hisap. Pasir yang sangat panas bisa Fauzan rasakan di bagian tubuh yang sudah terbenam. Rasa sesak sudah menyelimuti meski pasir baru sampai di tenggorokan tetapi dadanya sangatlah sesak seperti ada himpitan yang sangat kuat.

__ADS_1


"Tolong!" Fauzan berteriak lagi setelah pasir mulai menelan bagian wajahnya. Putus asa dan kecewa karena tidak ada seseorang pun yang datang untuk menolongnya.


Namun samar-samar Fauzan melihat seorang kakek berjenggot putih panjang menyentuh tanah datang mendekatinya dengan wajah tertutup cahaya, maka timbullah sedikit harapan dihati Fauzan ketika dia sudah diambang kematian. Tidak lagi bisa berucap karena mulutnya sudah tertutup oleh pasir bahkan matanya juga mulai tertutup dengan perlahan Fauzan memejamkan matanya dengan tangan masih melambai-lambai di atas kepala. Sedangkan kakek misterius itu hanya memandangnya tanpa melakukan apapun.


Setelah tangan Fauzan juga ikut tenggelam baru lah kakek berjanggut misterius itu bertindak. Beliau meludahi pasir sebanyak tiga kali. Maka keluarlah Fauzan dengan perlahan di mulai dari tangan hingga kakinya. Namun Fauzan sudah tidak sadarkan dari, dililitkannya tubuh Fauzan menggunakan janggut kakek msterius dan anehnya janggut itu bertambah panjang dan mampu mengangkat Fauzan dari pasir hisap tersebut bahkan membawa Fauzan menuju bawah pohon. Pohon yang cukup rindang tanpa buah, hanya pohon satu itulah yang tumbuh di sana, tidak ada rumput hijau maupun tumbuhan liar lainnya. Disana Fauzan dibaringkan tanpa alas, tubuh yang kotor dan sedikit berpasir. Kakek misterius berjongkok di samping tubuh Fauzan walaupun fauzan belum sadarkan diri tetapi sang kakek mengajaknya berbicara.


"Aku sudah mengatakan padamu bahwa tempat ini bukanlah sembarang tempat. Tempat ini berbeda dari tempat kamu hidup. Maka berjalanlah lurus kedepan jangan menghiraukan apapun yang menggodamu ataupun mengganggumu. Jika kau ingin selamat lakukan apa yang telah aku katakan sampai kamu menemukan sebuah gubuk di tengah hutan seberang. Itulah tempat yang kamu cari" ucap kakek misterius memberi wejangan. Sebelum ia pergi meninggalkan Fauzan, beliau mengusap wajah Fauzan dengan sebuah doa setelah itu beliau pergi meninggalkan tubuh fauzan yang masih pingsan.


Tidak lama kemudian Fauzan tersadar dari pingsannya dan mengingat kembali wajah kakek misterius sebelum ia tenggelam di pasir hisap.


"Hey kakek misterius! Jika kau nyata tunjukkanlah wajahmu. Jika tidak bagaimana aku mempercayaimu karena kau hanya muncul dalam mimpiku saja!" Fauzan berteriak lantang.


Namun setelah sekian lama menunggu tetapi tidak ada jawaban dari kakek misterius tersebut apalagi datang menemui Fauzan. Di tengah kebingungan antara menuruti petunjuknya atau tidak, Fauzan menatap nanar jauh kehutan seberang. Dari tadi Fauzan sudah melihat hutan hijau itu, tapi entah mengapa hutan yang terlihat dekat ternyata sangatlah jauh.

__ADS_1


Fauzan bangkit dan mengikuti petunjuk dalam mimpinya  walaupun dihatinya meragukan sang kalek misterius itu tetapi Fauzan tidak punya pilihan lain, dia tidak memiliki petunjuk selain dari sang kakek.


Fauzan berjalan setengah berlari untuk mempersingkat waktu karena ia tak ingin lagi bermalam di hutan apalagi ditempat yang gersang ini pasti sangatlah dingin jika malam hari. Berbagai godaan ia abaikan begitu saja meski sangat sulit baik dari makanan, hewan maupun tempat untuk berteduh. Hingga sampailah dia di tepi sungai yang sangat deras, Fauzan berhenti dan melihat sekeliling untuk mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menyebrang. Tetapi pandangannya terhenti pada tanah yang dipijak.


"Tanah ini retak dan sangat kering. Bagaimana bisa. Dipinggir sumber air seperti ini tanah masih sekering ini" Fauzan berdecak kebingungan.


Ia menoleh arloji yang ternyata  sudah pukul lima sore. Ia ingin beranjak ke tepi sungai, tetapi ia urungkan langkahnya dan mencerna setiap ucapan sang kakek misterius.


"Tempat ini bukan sembarang tempat. Tempat ini berbeda dari tempat aku hidup. Dan lukaku juga langsung sembuh total ketika memasuki tempat ini tanpa meninggalkan bekas luka maupun nyeri. Apa itu artinya aku berada di dunia lain atau apa? Dan bagaimana jika sungai itu ternyata bukan sungai seperti sumur yang aku timba tadi siang. Apa maksud semua ini? Jika siang saja membuat aku sulit untuk keluar dari tempat ini bagaimana jika malam?" Berbagai pertanyaan mengumpul di otak Fauzan hinga dia mengusap rambutnya kasar.


Sebelum beranjak ke tepi sungai, Fauzan melaksanakan kewajiban terlebih dahulu dengan bertayamum. Ia tak mau menggunakan air sungai itu khawatir kalau itu hanya jebakan dan membuat dia lebih lama terkurung di daerah yang sangat aneh ini.


Setelah selesai menunaikan kewajiban kepada pemilik hidup tak lupa ia berdoa untuk keselamatannya dan bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut. Dengan keyakinan penuh bahwa sungai itu hanyalah ilusi, Fauzan mendekat. Ketika telah sampai di bibir sungai dan ingin melangkah tiba-tiba saja air sungai itu mendidih dan mengeluarkan asap panas. Melihat hal itu, Fauzan mengurungkan langkahnya dan berpikir bagaimana mungkin sungai bisa mendidih. Di Tengah kegundahan hatinya, ia teringat kembali perkataan sang kakek bahwa tempat ini berbeda dan mengaitkan dengan kejadian di sumur tadi siang. Maka keberanian Fauzan mulai terkumpul kembali dan meyakinkan pada dirinya sendiri bahwa itu hanya ilusi.

__ADS_1


Fauzan melangkahkan kakinya dengan bacaan basmallah dan memohon perlindungan pada yang maha hidup. Ketika kakinya mulai menyentuh air sungai yang mendidih itu, tiba-tiba Fauzan terkejut dengan apa yang dilihatnya.


"ini tidak mungkin" seru Fauzan bingung


__ADS_2