Cinta Gila

Cinta Gila
18. Ilusi


__ADS_3

Fauzan masih tertegun dengan apa yang dilihatnya. Keanehan yang terjadi seperti dunia mimpi dan merasa bahwa dia berada dalam mimpi tersebut. Fauzan kembali tersadar ketika ada burung gagak berbunyi diatas pohon tak jauh dari dia berdiri dan ternyata sungai yang ia lihat sebelumnya bukanlah sungai tetapi batas antara hutan hijau dengan hamparan tandus. Dengan sisa-sisa semangat yang ada, Fauzan mencoba berlari ke arah hutan tetapi sebelum meninggalkan padang gersang, ia menoleh kebelakang dan melihat hamparan tandus untuk yang terakhir kali serta berharap tidak lagi terjebak di tempat seperti itu lagi.


Semakin ia melebarkan langkahnya maka rasa sakit di sekujur tubuh Fauzan mulai terasa dan luka-luka yang sebelumnya menghilang kini telah muncul kembali. Rasa perih dan ngilu tak bisa ia elakkan, melihat ada rumah pohon yang tak jauh di depan, Fauzan berusaha menghampiri walaupun tinggal sedikit kekuatannya.


"Tolong!" Fauzan berusaha berteriak untuk minta tolong tetapi sia-sia, tenaganya sudah tak cukup lagi. Tubuhnya jatuh ke tanah dengan keringat dingin mengucuri tubuh, Fauzan berusaha mendekati rumah pohon tersebut dengan merangkak. Rasa sakit dan juga perih ketika bersentuhan dengan tanah yang terdapat banyak akar pohon. Bahkan ia sudah tak mampu lagi menahan rasa sakit dan akhirnya Fauzan tergeletak di bawah pohon dan hilanglah kesadarannya.


***


Suara jangkrik mulai berbunyi tanda malam sudah menyapa. Seorang lelaki berpakaian lusuh keluar dari rumah pohon hendak pergi ke sungai untuk bersuci. Namun langkahnya terhenti dan pandangan menatap tubuh Fauzan yang sudah tergeletak tak jauh dari ia berdiri. Sekelumit senyum ia sunggingkan untuk tubuh yang sudah lemah itu dan berjalan menghampirinya. Ia papah tubuh Fauzan yang kekar tetapi tidak terlihat ia kesulitan. Dengan mudah ia membawa tubuh Fauzan masuk kedalam rumah pohonnya. Meskipun kecil tetapi sangatlah nyaman dengan anyaman bambu sebagai dinding dan cabang-cabang pohon sebagai tiang yang menopang rumah sederhana itu. Dibaringkannya Fauzan di atas lantai yang terbuat dari potongan kayu tetapi telah dilapisi serabut. Ia perhatikan wajah Fauzan sejenak dan berlalu meninggalkannya seorang diri.


Kemudian ia pergi menuruni anak tangga menuju sungai untuk bersuci. Setelah selesai dari bersuci, ia bergegas meninggalkan  sungai dan membawa sedikit buah yang ada di pinggiran sungai.


"Dia butuh istirahat" gumamnya dalam hati dan beranjak pergi kebelakang setelah meletakkan beberapa buah di samping Fauzan terbaring.


Sudah empat hari tetapi Fauzan belum juga siuman dari pingsannya. Meski sudah berbagai usaha telah dilakukan oleh lelaki penghuni rumah pohon ini, dari mengompres kening, memberikan ramuan tumbuk dan dibalurkan ke kening hingga menyipratkan air ke wajah Fauzan tetapi Fauzan belum juga terbangun padahal nafasnya sudah teratur. Seperti hari-hari biasanya, lelaki ini memiliki aktivitas rutin berjalan menelusuri hutan walaupun disela aktivitasnya, ia juga menanam berbagai macam buah dan juga sayuran. Begitu juga hari ini, ia pergi menelusuri hutan untuk mencari tumbuhan langka maupun menyelamatkan hewan yang terjebak dalam perangkap dan akan kembali jika sudah tengah hari.


Sebelum pemilik rumah pohon itu kembali, Fauzan telah sadar dari pingsan nya. Dilemparkan pandangan ke penjuru ruangan dan berusaha mengingat kembali apa yang terjadi pada dirinya sehingga bisa berada di dalam ruangan seperti itu. Meskipun tubuh masih sakit digerakkan tetapi Fauzan berusaha untuk duduk dan diletakkan telapak tangan pada kening dan merasa ada sesuatu seperti ramuan halus kemudian disingkirkan ramuan tersebut pada dahi Fauzan. Ia melihat beberapa buah ranum ada di sampingnya tetapi enggan untuk menyentuh meski perut   sangat menginginkannya. Dia bangkit dan mencari sesuatu dengan pandangan yang dilempar ke segala arah dan berhenti pada benda berbentuk persegi panjang. Setelah mendekat, Fauzan meraih dan membuka pintu persegi panjang tersebut. Ia terkejut bahwa dirinya berada di atas pohon yang sangat besar dengan tangga sederhana yang terbuat dari bambu menjadi penghubung antara rumah pohon dengan tanah.


Perlahan ia menuruni anak tangga sekedar mencari udara segar. Diliriknya arloji menunjukkan angka  sepuluh tetapi udara masih terasa sejuk dibawah naungan pohon yang sangat rindang ini. Kicauan burung saling bersahutan di atas dahan sana mengukir senyum di bibir tipis Fauzan. Suara orang hutan juga saling bersahutan memberikan suasana yang sangat alami.


"Siapakah pemilik rumah pohon ini? Dimana dia sekarang?" Fauzan mengedarkan pandangan ke segala arah tetapi ia tidak menemukan sosok yang ia cari.


"Halo … ada orang di sana?" Fauzan sedikit berteriak dan menghasilkan pantulan dari suaranya dan menggema, tidak ada jawaban dari siapapun.


 Suara berisik air yang tak jauh dari sana mampu menarik perhatian Fauzan, kemudian ia mendekati sumber air tersebut dan berjalan mengikuti jalanan setapak yang berada di antara tanaman bunga.


Sungguh sangat menakjubkan! Pemandangan yang belum pernah Fauzan lihat selama ini. Udara yang sangat sejuk dengan tanaman bunga yang berada di antara pohon sayur dan juga pohon buah. Setelah sampai di bibir sungai yang terbentang tidak luas dengan air yang tidak dalam terbukti dengan bebatuan hitam yang tampak di bawah air, Fauzan membasahi wajah dan juga rambutnya sesekali meneguk membasahi tenggorokan yang memberikan sensasi segar. Ditatapnya air terjun yang mengalir cukup deras sehingga memberikan embun di sekitar air sungai yang cukup dalam itu.

__ADS_1


Fauzan tidak ingin berlama-lama di sungai, ia beranjak menuju rumah pohon dan ingin sekali beristirahat kembali. Setelah sampai di halaman rumah, ia menatap ke atas dan menikmati keindahan alam. Sebelum melangkahkan kaki menaiki tangga, ia merenggangkan dan melemaskan otot-otot yang kaku.


"Kau sudah sadar?" Seseorang menyentuh pundak Fauzan dari belakang.


"Kakek?" Fauzan membelalakkan matanya setelah membalikkan tubuh. Belum saja gemuruh di hatinya tenang ditambah lagi sosok yang berdiri di depannya membuat Fauzan girang bercampur takut.


"Ayo naik!" pinta laki-laki pemilik rumah pohon tersebut yang tak lain adalah seorang kakek tua dengan janggut yang sangat panjang.


"Iya Kek" sahut Fauzan setelah meraih tangan sang kakek dan menciumnya takzim.


Kemudian mereka berjalan menaiki tangga sederhana tetapi masih sangat kuat walaupun sesekali terdengar bunyi menahan beban. Dihempaskan tubuh di atas anyaman bambu dan diraihnya buah yang sedari tadi sangat menggiurkan sedangkan sang kakek berjalan kebelakang dan membasuh tangannya  dengan air yang berada dalam wadah kayu yang sudah di cekungkan. Diraihnya air beserta buah markisa hutan dan di bawanya keluar. Melihat Fauzan sedang memakan buah apel, sang kakek menyunggingkan senyum sehingga tampak barisan gigi putih yang masih kuat.


"Ini ada buah markisa hutan, jika kau mau makanlah. Sedikit masam tapi sangat menyegarkan" jelas sang kakek saraya menunjukkan buah yang ia bawa dan meletakkan di wadah yang berisi beberapa buah apel.


"Iya nanti akan ku coba. Oh ya Kek, adakah orang lain yang tinggal di hutan ini?" Fauzan bertanya untuk memastikan tentang orang yang dia tuju.


"Oh gitu. Apa sebelumnya kita pernah bertemu, Kek? Aku merasa Kakek bukan orang asing dan sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya."


"He … he … he … kau ini aneh. Masak masih muda sudah pelupa!" ejek sang kakek.


"Aku tidak ingat, tapi entahlah" Fauzan menatap langit-langit berharap menemukan jawaban.


"Ya sudah istirahat lah. Tubuhmu masih belum sehat" ujar sang kakek seraya membaringkan tubuh tuanya tak jauh dari Fauzan duduk. Pandangannya menerawang jauh dengan senyum penuh misteri.


***


Di tempat lain Vero sedang merencanakan sesuatu, kecurigaan terhadap suaminya kian membuncah. Perubahan demi perubahan dari sikap Handoko kerap Vero rasakan. Seperti malam kemarin, Handoko yang sebelumnya selalu pulang kerumah meski larut malam tetapi tidak kali ini, Handoko sama sekali tidak pulang. Ia pulang di waktu ashar. Jika ada dinas di luar kota, pasti menghubungi Vero meski kegiatan sangat sibuk.

__ADS_1


Dipandanginya Azam yang masih asyik bermain di dalam kamar sedangkan Vero bergegas membuka komputer yang ada di atas meja. Segera membuka satu persatu icon yang dirasa mencurigakan, tetapi sejauh ini ia tak menemukan apapun. Kembali ia menutup komputer itu dan beralih ke laci meja, diangkatnya satu persatu benda yang ada tetapi tetap sama, ia tak menemukan bukti atas kecurigaannya. Beralih ke lemari pakaian dan memilah-milah baju yang tergantung di hanger tetapi hanya kekecewaan yang ia temui. Vero ingin menutup lemari pakaian itu tetapi ada sesuatu yang jatuh dari sudut lemari. Kemudian ia meraih benda yang terbungkus plastik hitam dan membukanya.


"Ini apa? Baju ayah? Kenapa malah di bungkus di sini bukannya dicuci kalau kotor" dengus Vero kesal.


Untuk memastikan, Vero mencium baju dalam plastik tersebut,  baju bersih atau baju kotor. Namun ketika cuping hidung menyentuh baju, Vero mencium bau anyir darah dan bau busuk. Segera ia berlari ke toilet kamar mandi dan memuntahkan isi dalam perutnya. Setelah dirasa cukup Vero kembali keluar dan memikirkan tentang baju suaminya itu. Ditutupnya hidung menggunakan kain kemudian diikatnya kembali plastik tersebut dan menaruhnya di tempat semula. Dengan perasaan cemas dan juga kesal Vero meraih Azam yang masih bermain dengan mainan barunya. Ia melangkah ke ruang keluarga dan menaruh Azam atas kasur lantai.


"Bik!" teriak Vero yang masih bermain bersama Azam.


"Iya Bu. Ada apa?" tanya bik Minah setelah berada di hadapan Vero.


"Belikan pentol bakar di tempat mang ujang. Biasanya jam segini udah mangkal" perintah Vero seraya mengacungkan uang lima puluh ribu kearah bik minah.


"Ini mau beli berapa Bu?" tanya bik Minah bingung.


"Lima ribu pake kecap saja, sepuluh ribu pake yang super pedas, sepuluh ribu buat bibi terserah mau yang pedas atau nggak" jelas Vero.


"Baik Bu" Bik Minah berlalu pergi meninggalkan Vero. Biasanya tempat mangkal mang Ujang tidak lah jauh hanya sekitar lima ratus meter saja di pertigaan jalan. Dari jauh sudah terlihat banyak yang mengantri baik anak-anak maupun orang dewasa. Setelah mengantri cukup lama akhirnya pesanannya jadi juga.


"Ini bik dua puluh lima ribu" ucap mang Ujang seraya menyerahkan pentol bakar.


"Ini Mang" Bik Minah menyerahkan uang lima puluh ribu ke mang Ujang. Setelah mengambil kembalian segera bik Minah berlalu pergi meninggalkan orang-orang yang masih ramai mengantri.


"Bik banyak amat belinya" tanya Maria yang masih  menikmati pentol bakar di atas motornya.


"Iya nih mbak. Pesanan Ibu" sahut bik Minah tersenyum ramah.


"Bilang tuh sama Ibu suruh ngawasin pak kades. Kemarin saya jumpa di luar kota bersama seorang wanita tapi sudah tua umurnya. Emang ya seleranya pak kades yang sudah nenek-nenek" celetuk Maria diiringi tawa yang dibuat-buat

__ADS_1


__ADS_2