Cinta Gila

Cinta Gila
19. MEMENDAM RASA


__ADS_3

Bilang tuh sama Ibu suruh ngawasin pak kades. Kemarin saya jumpa di luar kota bersama seorang wanita tapi sudah tua umurnya. Emang ya seleranya pak kades yang sudah nenek-nenek" celetuk Maria diiringi tawa yang dibuat-buat.


"Nggak mungkin pak kades main  serong mba. Mungkin itu ibu beliau" sahut bik Minah tak percaya.


"Ya sudah kalau nggak percaya tanya tuk sama bos kamu" sahut Maria cuek.


"Astagfirullahaladzim. Nggak boleh buruk sangka kita mba" bik Minah mengingatkan dan berlalu meninggalkan Maria yang masih menahan pedas dengan mengipas-kipaskan tangannya ke arah mulut.


"Assalamualaikum" bik Minah mengucap salam dan membuka pintu yang tidak dikunci. Kemudian melangkahkan kakinya masuk menemui Vero  di ruang keluarga.


"Ini Bu pentolnya" bik Minah meletakkan pentol dan kembalian di samping Vero duduk. Setelah mengambil pentol miliknya, bik Minah berlalu pergi. Tetapi ekor matanya sempat melihat Vero yang masih melamun dengan mengarahkan pandangannya menuju Azam.


"Bu" panggil bik Minah lagi dengan sedikit keras.


"Oh Bik sudah datang. Mana pentolnya" tanya Vero sedikit gelagapan.


"Itu disamping Ibu" tunjuk bik Minah dengan tangan menggenggam plastik berisi pentol miliknya.


"Oh ya terima kasih. Bibik udah lama ya" tanya Vero lagi.


"Belum Bu. Baru saja saya sampai, tapi Bu …" ucapannya terhenti, mengingat majikannya baru saja melewati masalah yang besar.


"Iya kenapa Bik. Kok nggak jadi ngomong" lanjut Vero.


"Nggak Bu. Saya cuma mau tanya mau dimasakin apa nanti sore" ucap bik Minah berbohong. Sebenarnya dia ingin menyampaikan apa yang dikatakan Maria tadi tetapi khawatir mengganggu kesehatan majikan perempuannya itu.


"Lah Bik tidak biasanya tanya masak apa. Saya makan yang bibi masak kan? Kecuali kalau saya ingin yang lain pasti saya ngomong sama bibik" ucap Vero sedikit heran dengan tingkah pembantunya itu.


"Bik ambilkan air es" perintah Vero ketika bik Minah hendak kebelakang.


Vero meraih pentol yang ada di sampingnya dan memberikannya pada Azam yang tidak pedas. Meski anak itu tidak begitu suka tetapi Vero tidak tega jika harus makan sendiri, pasti ia menyiapkan juga untuk putranya. Pentol pedas yang sangat menggiurkan bagi Vero. Ini salah satu kebiasaannya jika memiliki masalah yang belum terselesaikan maka dia ingin sekali memakan makanan yang pedas dan juga panas, kebiasaan yang unik dan jarang sekali dimiliki setiap orang. Diseruputnya air es yang sudah tersaji setelah menghabiskan lima tusuk pentol bakar. Rasa nikmat tersendiri yang Vero rasakan sehingga mampu melupakan masalah sejenak yang sedang dihadapi dan akan mencari solusi setelah pedas mulai menghilang.


Suara deru mobil memasuki halaman, tak lama kemudian Handoko keluar dan melangkah menuju pintu. Biasanya Vero menyambut di pintu ketika ia pulang dari kantor tetapi sudah beberapa hari ini sikap Vero berubah. Entah apa yang ada dipikiran wanita beranak dua itu. Dilangkahkan kakinya menuju kamar. Namun ekor matanya menangkap sosok yang ia cari sedang bermain bersama putra bungsunya. Handoko yang lelah langsung menuju kamar hendak membersihkan diri dan beristirahat. Sedangkan Vero yang menyadari kedatangan suaminya berusaha tetap cuek. Sejak kemarin siang baik Vero maupun Handoko belum saling berbicara. Mereka masih kukuh pada pendapat masing-masing. 


Hingga menjelang sore setelah Vero selesai memandikan Azam dan membawa Azam keruang bermain bersama bik Minah, Vero berlalu untuk membersihkan diri juga. Dilihatnya Handoko sedang memainkan gawainya di tepi ranjang. Tidak peduli dengan apa yang dilakukan Handoko, Vero berjalan menuju kamar mandi. Suara gemericik air membuyarkan fokus Handoko yang sedang asik bermain game, ia beranjak menuju kursi pinggir jendela. Namun matanya tak sengaja melihat Vero yang baru saja keluar dari kamar mandi. Tubuh dengan balutan handuk putih menambah pesona dari tubuh rampingnya, Vero yang sibuk dengan mengeringkan rambut dengan handuk kecil tidak menyadari bahwa suaminya sedang menikmati keindahan tubuhnya. Meski telah melahirkan dua orang anak tetapi tubuh Vero masih seksi dan sangat menggoda. Handoko berusaha menguasai diri ketika Vero beranjak menuju lemari pakaian. Wangi sabun yang menguar saat Vero melewati Handoko. Dengan sigap Handoko meraih tubuh vero dan mengecup punggungnya, gejolak di dada tak mampu lagi ia menahan. Sedangkan Vero hanya diam saja tanpa memberi reaksi, setelah melihat suaminya yang semakin beringas, vero bingung harus memenuhi hasrat sang suami atau mempertahankan egonya.


Perlahan Vero melepaskan tangan Handoko yang melingkar erat di pinggangnya. Ia menjauhkan diri dari Handoko dan bergegas menuju lemari meraih daster tiga per empat. Setelah selesai mengenakannya, Vero beranjak pergi meninggalkan ruangan tetapi Handoko lebih dulu mengunci pintu sebelum Vero berhasil keluar.


"Aku ingin bicara, duduklah!" perintah Handoko pada Vero dengan nafas memburu.


Vero hanya diam tanpa menjawab. Rasa sakit yang ia rasakan saat handoko tidak pulang kemarin malam belum juga terobati. Kini ia enggan untuk melayani Handoko, meski sudah lebih satu bulan lebih Handoko tidak mengunjungi kebunnya. Walaupun sebenarnya Vero juga sangat merindukan sentuhan dalam dari sang suami.


"Duduklah" Handoko menarik tangan Vero dan menghempaskan di atas kasur mereka.


"Sebenarnya apa masalahmu. Ceritakan! Jangan diam saja!" bentak Handoko sedikit keras.


Mendengar pertanyaan Handoko, Vero mendongakkan kepalanya. Ia tatap lekat manik hitam suaminya, dan membuang jauh pandangan itu.


"Kau bertanya apa masalahku? Kau yakin ingin mengetahuinya" Vero menatap kesal dengan wajah penuh penekanan.


"Katakanlah Vero! Jangan berbelit" tuntut Handoko lagi.


"Aku sedang tidak ingin membahas apapun" ucap Vero dan bangkit untuk keluar.

__ADS_1


Namun Handoko menarik tangan Vero sehingga membuat Vero jatuh kedalam pelukan Handoko. Nafas Handoko masih saja memburu menyapu wajah bersih milik Vero. Sedangkan tangan Handoko perlahan naik membelai lembut wajah istrinya itu. Melihat gelagat suaminya, Vero hanya pasra. Ia membiarkan suaminya ******* bibir tipis milik Vero dan beralih ke telinga.


"Maafkan aku. Aku sungguh rindu Bu" bisik Handoko di telinga Vero sehingga membuat Vero  bergidik menahan geli.


Vero yang sesungguhnya juga sangat merindukan Handoko, ia membiarkan tubuhnya dibawa ke pembaringan tanpa ada lagi penolakan. Di sana sepasang suami istri saling menumpahkan rasa kerinduan mereka. Hingga melewati sensasi yang sangat luar biasa. Rasa puas menguasai hati Vero dan juga Handoko dengan saling memeluk erat.


Kring … kring … kring …


Gawai Handoko berbunyi diatas meja kerjanya, gegas bangkit dan melepas pelukan Vero dan menyambar gawainya.


"Halo iya ada apa?" tanya Handoko pada seseorang di seberang sana.



"Baiklah aku segera kesana" jawab Handoko dan menutup telponnya.


"Siapa Yah?" tanya Vero pada Handoko yang terlihat sangat cemas.


"Tugas kantor Bu" jawab Handoko singkat.


"Sesore ini apa masih ada tugas kantor yang sangat urgen sehingga Ayah harus kesana" tanya Vero ragu.


"Yah gimana lagi Bu. Ayah mandi dulu keburu ditunggu sama petugas lain" Handoko beranjak menyambar handuk dan segera membersihkan diri.


Kecurigaan muncul di hati Vero tetapi ia bingung bagaimana menyelidikinya sedangkan Azam tidak pernah berpisah darinya walau sehari bahkan anak itu selalu rewel jika diajak bepergian. Tidak mau larut dalam kebingungan Vero beranjak dan meraih handuk untuk membersihkan diri setelah Handoko keluar. Dari ekor mata Vero sempat memperhatikan kecemasan yang suaminya rasakan, tampak dari raut wajahnya.


Handoko keluar hendak ke mobilnya tanpa menunggu Vero selesai membersihkan diri. Namun ketika melewati ruang keluarga ia melihat Azam tertidur diatas sofa.


"Maafkqn Ayah Nak" ucap Handoko mengecup kening putranya dan berlalu pergi meninggalkan rumah.


"Iya Bu ada apa" sahut bik Minah setelah mendekati Vero yang berada di dalam kamar.


"Ayah sudah pergi" tanya Vero dengan rambut tergulung handuk kecil.


"Sudah Bu baru saja" sahut bik Minah.


"Makan nggak tadi Bik" 


"Nggak Bu. Makanan masih utuh di meja makan Bu"


"Azam dimana Bik" Vero beralih menanyakan putra.bungsunya.


"Di sofa Bu sedang tidur" jawab bik Minah.


"Oh ya Bik. Bibik tau nggak … eh nggak jadi Bik. Ya sudah saya mau mindahin Azam dulu. Kebiasaan tuh anak kalau habis ashar sukanya tidur jadi kalau malam susah tidurnya" Vero mengalihkan ucapannya dengan ngomelin Azam yang sedang tidur.


***


Tit … tit … tit …


Klakson Handoko memekakkan telinga, memberi kode pada pemilik rumah sederhana itu. Setelah mobil terparkir dan pintu rumah juga terbuka, gegas Handoko berlari kedalam tampak raut cemas tersirat pada wajahnya.


"Kenapa sampai seperti ini Bu" tanya Handoko pada bu Hamidah.

__ADS_1


"Sudah jangan banyak tanya, ayo bawa Ariana ke rumah sakit" sergah bu Hamidah.


"Kenapa tidak minta tolong dulu sih bu sama tetangga. Lihat nih Ariana mengeluarkan banyak darah" cecar Handoko sambil membopong gadis remaja itu ke dalam mobil.


"Ibu nggak tau minta tolong sama siapa. Tetangga disini tidak menyukai ibu" jawab bu Hamidah mengekori Handoko.


Setelah mengunci rumah dan memasuki mobil, Handoko langsung menancap gas tinggi. Handoko sangat khawatir akan kondisi Ariana sebab hal ini terjadi juga karena kesalahannya. Seandainya saja pagi itu tidak terjadi pasti kehidupannya tidak serumit ini.


"Nak cepet sedikit nyupirnya. Nih Ariana sudah pingsan" ucap bu Hamidah menggoncang-goncang tubuh Ariana yang tak lagi merintih.


"Iya ni saya juga berusaha ngebut. Bawa minyak kayu putih pa nggak Bu" tanya Handoko dengan wajah tegang.


"Nggak. Ibu lupa, kamu cepetan kalo nyetir" ucap bi Hamidah.


Tanpa menjawab lagi, handoko menambah kecepatan mobilnya. Beruntung jalanan lenggang meski masih jam sembilan malam. Tit … tit … tit … berulang kali Handoko membunyikan klakson mobilnya. Sudah banyak mobil maupun motor yang ia salip. Ia tak ingin jika hal buruk sampai menimpa Ariana, pasti bu Hamidah akan menuntut atas kejadian anak semata wayangnya. Sedangkan suami bu Hamidah telah lama meninggal akibat kecelakaan tunggal ketika Ariana masih balita.


"Apa masih jauh Nak" tanya ibu Hamidah was- was.


"Nggak Bu. Mungkin lima menit lagi" jawab Handoko. Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan diantara mereka. Mereka larut pada pikiran masing-masing.


"Suster … suster tolong lah" Ibu Hamidah berlari ke pintu masuk rumah sakit. Sedangkan Handoko membopong Ariana di belakang.


Dengan sigap dua orang suster menyambut tubuh Ariana dan langsung dilarikan ke IGD.


"Bapak dan Ibu silahkan tunggu disini" pinta seorang suster.


"Tapi Sus, saya ingin menemani putri saya" rengek bu Hamidah.


"Biarkan kami menangani pasien terlebih dahulu Bu. Berdoa saja untuk kesembuhan putri Ibu" jawab Suster yang bernama Nina.


Handoko merebahkan tubuhnya di kursi tunggu sedangkan bu Hamidah berdiri didepan pintu IGD. Rasa cemas yang bu Hamidah rasakan terlihat jelas pada wajahnya. Sedangkan Handoko memilih diam dan berdoa untuk keselamatan Ariana. Sudah satu jam berlalu tetapi pintu IGD belum juga terbuka. Handoko merasa frustasi dan merogoh kantong, ia meraih gawai yang terselip di sana.


"Vero menelpon sampai dua puluh kali. Ada apa" batin Handoko Heran setelah membaca notifikasi dari istrinya.


Tut … tut … tut … nomor yang anda tuju sedang sibuk. Cobalah beberapa saat lagi. Jawaban dari operator di seberang sana.


"Mungkin Vero sudah tidur. Apa lagi ini sudah tengah malam. Biar aku telpon besok" batin Handoko dan memasukkan lagi ponselnya.


"Bu kenapa mereka lama sekali" tanya Handoko pada bu Hamidah.


"Entah lah. Jika saja kamu tidak menabrak Ariana waktu itu. Pasti dia akan baik-baik saja saat ini" ucap bu Hamidah seraya menangis.


"Bu saya sudah minta maaf dan akan bertanggung jawab dengan semua ini. Apa ibu tidak percaya dengan saya" Handoko bertanya seraya memegang pundak bu Hamidah. Belum juga bu Hamidah menjawab pintu IGD sudah terbuka dan keluarlah dokter dari ruangan.


"Gimana kondisi putri saya Dok" tanya bu Hamidah cemas.


"Begini Bu, putri ibu sudah kehilangan banyak darah dan untungnya di rumah sakit ini masih ada stok untuk golongan darah putri ibu tetapi saat ini kondisi pasien masih kritis jadi berdoalah agar pasien segera sadar" terang dokter yang bernama Heri.


"Baik Dok. Apa boleh saya menemui putri saya Dok?" 


"Silahkan, tetapi bergantian ya Bu"


"Terimakasih Dok"

__ADS_1


"Kalau begitu saya pamit" ujar dokter Heri.


Setelah kepergian dokter Heri bu Hamidah berlari menuju ruangan dan tangisnya pecah tatkala melihat putrinya terpasang beberapa selang. Tubuhnya luruh ke lantai dan tangannya membekap mulut agar tidak menimbulkan suara. Handoko yang hanya bisa mengintip dari kaca pintu merasa sangat sedih atas musibah yang menimpa Ariana. Getar gawai membuyarkan pikiran Handoko, segera meraih dan mengangkat telfon dari istrinya


__ADS_2