Cinta Gila

Cinta Gila
CG# 51


__ADS_3

Laras mencari keberadaan Mitha dengan meminta bantuan Parjo. Sementara Rosita menyelesaikan pembayaran. Rosita meminta pihak toko yang mengantarkan barang belanjaannya ke rumah, pihak toko pun setuju.


Laras dan Parjo dari arah yang berbeda melihat keberadaan Mitha yang duduk di sebuah kursi yang disediakan oleh pihak food court. Mereka berjalan mendekati Mitha yang tampak kesakitan dengan bulir-bulir keringat menghias wajahnya.


"Non."


"Mitha!"


Parjo dan Laras memanggil Mitha secara bersamaan. Keduanya berjalan cepat mendekati istri pertama Marcelo itu.


Betapa terkejutnya mereka saat melihat wajah Mitha yang sudah pucat dengan keringat membanjiri wajah ayu tersebut. Laras dengan sigap langsung menghubungi sang suami untuk mengabarkan keadaan kakak madunya. Sementara itu, Parjo mendatangi nyonya besar untuk memberi tahu.

__ADS_1


Marcelo meminta Laras untuk membawa Mitha ke rumah sakit langganan secepatnya, sedangkan dia akan menyusul ke rumah sakit setelah rapat selesai. Dengan meminta bantuan pihak mall tersebut, Mitha segera dibawa ke rumah sakit.


Setengah jam kemudian, mereka sampai di rumah sakit. Keadaan Mitha sudah sangat lemas karena menahan sakit sejak tadi. Selain itu, dia juga belum makan dan minum sama sekali sejak pagi.


Begitu sampai di rumah sakit, anak satu-satunya Cakrawala itu segera ditangani oleh petugas medis. Mitha dibawa ke ruangan bersalin setelah dipasang infus pada tangan kirinya karena tubuhnya sudah lemas.


Marcelo datang lima menit setelah Mitha masuk di ruang bersalin. Dia menemani sang istri melalui proses persalinannya. Laki-laki itu dengan sabar menemani dan menjadi pelampiasan sang istri untuk menyalurkan rasa sakitnya.


Berbeda dengan sang bayi, keadaan Mitha tidak begitu baik. Istri pertama Marcelo itu pingsan lima menit setelah melahirkan, sehingga terpaksa dilakukan kuret untuk membersihkan rahimnya karena terjadi pendarahan. Selesai dilakukan kuret, wanita yang baru saja melahirkan itu ditempatkan di ruang ICU.


Selesai mengumandangkan adzan untuk sang anak, Celo memilih menemani sang istri yang belum sadarkan diri di ruang ICU. Penampilan laki-laki itu tampak sangat berantakan. Pikirannya berkecamuk, antara bahagia, sedih, dan khawatir.

__ADS_1


Bahagia menyambut kelahiran sang jagoan yang telah lama dinantikan. Sedih melihat keadaan sang istri yang tiba-tiba drop dan tidak sadarkan diri usai melahirkan. Dia juga mengkhawatirkan keadaan anak dan istrinya karena dengan keadaan Mitha saat ini membuat bayinya belum bisa mendapatkan ASI.


Selain menghawatirkan sang anak, Celo juga takut istrinya tidak bisa bangun lagi. Jika itu terjadi, bagaimana dia akan melanjutkan hidup? Siapa yang nantinya akan selalu mengingatkan dirinya saat lalai?


"Sayang, bangunlah! Jangan terlalu lama tidur! Aku tidak bisa mengurus anak kita sendirian," pinta Celo dengan suara lirih, tetapi penuh harapan.


Tangan besar Celo menggenggam tangan sang istri yang tidak terpasang jarum infus. Walaupun tadi sempat mengalami pendarahan, menantu pertama Weasley itu tidak membutuhkan tambahan darah. Suami Nimitha Prameswari itu menciumi punggung tangan sang istri dengan mata berkaca-kaca.


Sementara itu di depan ruang ICU, pasangan Weasley dan menantu keduanya duduk gelisah menanti kabar baik tentang menantu pertama Weasley. Damian tadi yang sedang melakukan pertemuan dengan investor asing terpaksa menunda pertemuannya, begitu mendengar kabar cucunya telah lahir. Namun, wajah bahagianya harus berganti dengan kesedihan saat mendengar ibu dari cucunya dalam keadaan koma.


"Aku yakin pasti terjadi malapraktik, kalau tidak mana mungkin bisa terjadi seperti ini. Mitha sehat-sehat saja tadi pagi, tiba-tiba koma karena kelelahan. Yang benar saja!"

__ADS_1


__ADS_2