
"Sapto mengancam akan menghancurkan nama baik keluarga Weasley. Itu berarti kita harus siap menjadi gembel karena dengan hancurnya nama Weasley, maka dunia pun tak akan memandang lagi. Oleh karena itu, jalan satu-satunya kamu harus menikahi Laras," ucap Damian, ada kekhawatiran dalam suaranya.
Sebenarnya bukan takut menjadi gembel, melainkan tidak ingin keturunan Weasley harus berhenti sampai di sini. Namun, jika nama baik sudah hancur maka akan sangat sulit untuk memulihkannya. Akan terlalu banyak resiko yang harus ditanggung jika menolak menikahi anak Sapto Hudoyo.
Celo tetap bersikukuh tidak mau menikahi Laras, walaupun sang ayah berjanji tidak akan memisahkannya dengan Mitha. Rosita pun ikut meyakinkan anak keduanya dengan berjanji akan memperlakukan sang menantu dengan adil, jika Celo nanti memperlakukan kedua istrinya dengan adil.
"Tidak ada pernikahan kedua dan seterusnya dalam keluarga Weasley. Jika ada pernikahan keduaku, berarti akan ada lagi pernikahan papi. Celo pastikan itu!" ancam Marcelo pada orang tuanya seraya meninggalkan ruang kerja sang ayah.
Betapa terkejutnya Marcelo mendapati sang istri terduduk bersandarkan dinding dengan tangan memeluk perutnya yang membuncit. Masih ada sisa air mata di pipi istri Marcelo itu. Laki-laki itu langsung berjongkok di depan sang istri, lalu mengusap sisa air mata tersebut.
"Jangan bersedih lagi! Anak kita akan ikut bersedih, jika bundanya bersedih. Kamu pasti sudah mendengar pembicaraan kami, 'kan? Tidak usah takut aku aka mendua atau meragukanku," ujar Marcelo pada sang istri dengan menganggukkan kepalanya. "Ayo, kita ke kamar."
Ibu hamil itu mengikuti apa yang dikatakan oleh sang suami. Marcelo memeluk pinggang sang istri, menggiringnya ke kamar.
***
Sementara itu di waktu yang sama di kediaman Sapto Hudoyo, tampak Sapto dan Ratnasari berada di kamar anak semata wayangnya. Laki-laki berusia empat puluh tujuh tahun itu mash mendesak sang anak untuk mengatakan siapa ayah janin di dalam rahim sang anak.
"Katakan sejujurnya, Nak. Biar kami bisa menentukan sikap. Kami tidak akan marah atau menghakimi laki-laki itu," bujuk Rosita dengan suara lembut agar hati sang anak luluh dna mau menceritakan semuanya pada mereka.
Dengan air mata berderai, akhirnya anak satu-satunya Sapto Hudoyo.
__ADS_1
Satu minggu sebelum kepulangan Mahesa ke luar negeri, laki-laki itu mengajak sang kekasih pergi ke pantai. Izin untuk keluar jalan-jalan, anak pertama Weasley itu membawa sang kekasih ke pantai.
Begitu sampai di pantai, Mahesa sengaja memilih tempat yang sepi tetapi dengan pemandangan yang bagus. Tunangan laras itu memarkirkan mobilnya di tempat yang sedikit tertutup, sebelum keluar untuk menikmati pemandangan alam pegunungan sekaligus pantai.
Mereka berjalan menyusuri pantai, setelah merasa lelah keduanya duduk di bawah pohon kelapa.
"Kak, itu ada orang yang menyewakan tikar," tunjuk Laras pada sang kekasih.
Mahesa pun memanggil seorang ibu paruh baya yang memanggul tikar di pundak. Wanita itu mendekat pada pasangan itu. Lalu, terjadilah transaksi sewa menyewa tikar.
"Haus nggak? Aku beli mau beli minum nih, kamu mau apa, hmm?" tanya Mahesa setelah keduanya duduk di atas tikar.
"Es kelapa muda keknya enak, Kak."
Laras mengangguk mengiyakan pertanyaan sang kekasih. Mahesa segera mendatangi lapak pedagang es kelapa muda. Mahesa tidak hanya membeli minuman saja, dia ajuga membeli beberapa jajanan yang ada di sekitarnya.
"Banyak banget, Kak?" teriak Laras girang, dia sangat bahagia karena sang kekasih sangat peka dan perhatian padanya.
"Biar puas makannya, nggak bolak-balik terus. Kalau bolak-balik aja, yang ada tidak jadi berduaan sama kamu," jawab Mahesa sambil nyengir kuda sehingga tampak barisan gigi putihnya.
Setelah dua jam bermain air di pantai, tiba-tiba langit tampak mendung. Mahesa mengajak Laras pulang. Saat berjalan menghampiri mobil, rintik hujan mulai turun.
__ADS_1
Mahesa segera menarik sang kekasih memasuki mobil. Begitu pintu tertutup, hujan turun dengan derasnya disertai angin.
"Hujan, Yang. Kita tunggu sampai sedikit reda, ya. Jalanan di sekitar sini belum aspal semua. Pasti licin di beberapa tempat," ujar Mahesa dan dijawab anggukan oleh Laras.
Mereka ngobrol untuk melewati waktu menunggu hujan reda. Tiba-tiba saja Mahesa melontarkan pertanyaan yang membuat detak jantung Laras bekerja dua kali lipat.
"Kamu pernah ciuman?" tanya Mahesa.
"Hah?"
Tiba-tiba saja wajah Mahesa sudah berada sangat dekat dengan wajah Laras. Tatapan matanya selalu tertuju pada bibir merah sang kekasih sejak berada di pantai tadi. Mahesa sudah sangat penasaran dengan bibir sang kekasih, tetapi dia menahannya.
Berawal dari ciuman percobaan akhirnya berakhir dengan mobil bergoyang. Sampai hujan reda, mobil itu masih terus bergoyang. Ulah dua sejoli yang dimabuk asmara telah tergoda oleh bujuk rayu syaiton.
Le ngu han panjang terdengar setelah kedua insan itu mencapai puncak nirwana. Mereka terkulai lemas setelah beberapa saat berpacu mengejar kenikmatan sesaat.
Malam harinya, mereka memilih menginap di sebuah penginapan kecil yang ada di sekitar pantai. Di penginapan itu, Mahesa kembali memasuki rumah minimalis nan eksotis sang kekasih.
*
*
__ADS_1
*