Cinta Gila

Cinta Gila
25. Tamu tak diundang


__ADS_3

Matahari terbit dari ufuk timur, warga desa melakukan aktifitas seperti biasanya. Tak lupa membicarakan keributan tadi malam di rumah pak Rt, mereka saling menghujat dan tak sedikit mengeluarkan sumpah serapah untuk keluarga Handoko. Sampai hal ini terdengar oleh bik Minah yang sedang memilih lauk pauk diantara mereka. Bahkan mereka dengan sengaja membahas masalah ini meski sudah tau ada bik Minah di sana, karena ibu-ibu ingin pembantu Handoko mengadu pada tuannya.


"Ada apa, Bik. Kok bengong gitu?" tanya Vero setelah melihat pembantunya hanya diam saja di pintu dapur tanpa masuk kedalam.


"Bu, sebenarnya ada masalah apa. Kok orang-orang pada ngomongin keluarga ini" tanya bik Minah masih bingung. Satu persatu ia mengeluarkan belanjaan yang ia beli.


"Oh tadi malam memang ada masalah kecil, Bik. Bibik sudah tidur makanya tidak tau dan saya nggak enak mau bangunin bibik" jawab Vero berusaha tenang agar pembantunya tidak merasa panik. 


"Emang masalah apa, Bu. Kayaknya serem banget dari omongan mereka itu" Bik Minah menghentikan aktivitasnya dan beralih menghadap Vero. Ia sangat ingin mengetahuinya mengingat berbagai macam sumpah yang ia dengar di warung mang Ujang tadi.


"Pak Rt tadi malam muntah-muntah dan kita dituduh meracuni makanan yang tadi malam kita suguhkan, Bik" ujar Vero membalas tatapan pembantunya.


"Astagfirullahaladzim, Bu. Demi Allah saya tidak mencampurkan bahan-bahan yang membahayakan, Bu." Bik Minah mengelus dada dan berusaha menenangkan diri, syok setelah mendengar ucapan majikannya itu.


"Bibik tenang saja, nggak usah takut. Walaupun Bibik yang buat, saya juga ikut membantu kan. Lagi pula yang lain juga makan dan mereka biasa-biasa saja" terang Vero dengan menyentuh pundak pembantunya yang sudah terasa seperti ibunya sendiri.


"Terus gimana ini, Bu. Mereka semua berburuk sangka pada keluarga Ibu" tanya bik Minah cemas. 


"Ya … tadi malam ayah bilang nanti akan diperiksa sisa makanan tadi malam. Tuh saya sudah simpan makanan di hadapan pak Rt tadi malam. Udah nggak usah cemas gitu, kita berdoa saja mudah-mudahan Allah memberi kita kemudahan" Vero kembali menepuk-nepuk pundak pembantunya.


"Coba tadi malam saya nggak tidur lebih awal. Pasti masalahnya sudah beres, Bu" Bik Minah menyesali kebiasaannya itu. Memang sedari dulu, Vero memang tidak mengizinkan pembantunya tidur di atas jam sepuluh karena seorang pembantu harus bangun lebih awal dari majikannya. Apalagi bik Minah yang usianya sudah tidak lagi muda, sangat mudah baginya sakit jika tidur larut malam dan juga akan sangat sulit tidur jika kemalaman. Itulah pengalaman Vero untuk orang yang sudah tua, ia mengamatinya ketika ibunya masih hidup.


"Sudah nggak apa-apa. Nggak usah dipikirin. Nanti setelah diperiksa juga ketahuankan kalau semua itu fitnah. Kita masak saja sekarang nggak usah mikirin yang aneh-aneh" ucap Vero lembut dengan menyambar sebungkus ikan laut yang tadi dibeli. Mereka kemudian membicarakan hal-hal lain dan mulai melupakan masalah yang baru saja dibicarakan. Diselingi dengan sedikit candaan agar tidak memikirkan hal-hal yang buruk.


"Bu, mereka akan datang sebentar lagi" ucap Handoko di tengah aktivitas Vero yang masih menyiapkan kudapan.


"Oh iya … Ayah sarapan dulu. Tuh sudah ada gorengan. Nasi uduk juga sudah matang" Vero menawarkan sarapan seperti biasanya. Saat ini ia berusaha melupakan masalah yang terjadi antara dirinya dan suaminya.

__ADS_1


"Emang siapa saja yang datang, Yah." tanya Vero kemudian setelah melihat suaminya mulai menyantap hidangan di atas meja. Antara dapur dan ruang makan memang tidak jauh bahkan tidak ada dinding pembatas sehingga dengan mudah mereka bercengkrama meskipun yang satu menyantap sementara yang lain masih menggoreng.


"Cuma bidan desa dan beberapa orang untuk saksi. Pak Rt juga ikut" ucap Handoko setelah menelan makanan yang ada di mulutnya.


"O sama bu bidan. Tumben pagi-pagi, baru jam tujuh loh" Vero menoleh jam dinding yang menggantung di atas pintu dapur.


"Ibu gimana sih. Bu bidan ambil sampel untuk diteliti di lab nanti. Jadi ya sekalian di bawa sambil berangkat tugas" jelas Handoko dengan mulut masih mengunyah.


Vero menatap Handoko dan berlalu setelah mendengar bel pintu berbunyi. Dan kembali lagi menemui suaminya yang sedang sarapan.


"Mereka sudah datang. Bapak keluar sambut mereka. Ibu mau ganti baju dulu" ujar Vero dengan mencium bau tubuhnya sendiri. Sejak pagi dia memang belum sempat mandi karena sibuk di dapur bersama pembantunya.


"Buat minum ya, Bik. Gorengannya juga dibawa keluar" Vero menemui bik Minah yang masih merendam pakaian.


"Iya Bu" dengan cepat bik Minah menyudahi aktivitasnya dan beralih mengurus tamu majikannya.


***


"Saya sudah menjelaskan tadi malam pak Rohim bahkan di hadapan warga yang hadir bahwa kami sekeluarga tidak berniat ataupun terbesit dalam pikiran untuk mencelakai orang lain, dan kita telah sepakat masalah ini hanya akan terjawab setelah bu Bidan membawa sampel makanan yang tersisa" ucap Handoko mengingatkan.


"Bagaimana jika makanan itu telah bapak tukar" protes pak Rt yang nampak lemah.


"Tidak ada yang menukarnya pak Rt. Saya berani tanggung jawab dunia akhirat jika sampai di tukar. Tapi saya bingung kenapa hanya pak Rt yang muntah-muntah hebat seperti itu. Yang lainnya tidak" ucap Handoko membuat pak Rt terkekeh meski di paksakan.


"Iya pak Rt bagaimana hanya terjadi pada Bapak padahal Azam juga memakan makanan yang sama loh" timpal Vero bingung yang sedari tadi hanya mendengarkan saja.


"Saya juga nggak tau. Tapi perut saya mual setelah makan sajian tadi malam" Pak Rt membela diri.

__ADS_1


"Kita tunggu saja pak bu hasil dari lab. Kalo sudah keluar nanti saya kabari. Saya butuh makanan sisa tadi malam dan bahan-bahannya juga" ujar bu Bidan Linda mencoba memberi solusi.


"Benar sekali itu Bu. Tapi jangan sampai tertukar" Pak Rt menatap bidan Linda tajam.


"Itu tidak akan terjadi pak Rt jangan khawatir" Bidan Linda membalas tatapan dengan senyuman manis meski harga dirinya sedikit terluka.


"Ayo Bu Vero tunjukkan sisanya pada saya" lanjut bidan Linda setelah menggunakan sarung tangan karet dan sebuah tempat seperti toples tapi dari kaca bening.


"Dan untuk perwakilan ikuti saya sebagai saksi" lanjut bidan Linda lagi kepada bapak-bapak yang hadir.


Dua orang berdiri mengikuti bidan Linda dari belakang sedangkan Handoko dan juga pak Rt masih di tempat ditemani pak Rw.


Selang sepuluh menit bidan Linda kembali ke ruang tamu dengan sampel di dalam toples. Kemudian minta undur diri karena hendak berangkat tugas.


"Kalau ada kecurangan, saya bawa masalah ini kehukum, Pak" pak Rt memberi ancaman dan pergi bersama yang lainnya tanpa menyentuh hidangan yang sudah tersaji.


"Sabar ya, Pak. Saya yakin Bapak tidak bersalah. Saya pamit dulu" ucap pak Rw sebelum meninggalkan kediaman Handoko.


"Kenapa ada orang seperti pak Rt ya, Bu. Pantesan saja jadi bujang tua. Perempuan pasti ilfeel deket-deket dia. Buruk sangka melulu" ucap bik Minah dengan merapikan jamuan di atas meja.


"Entahlah Bik. Semoga saja hasilnya tidak merugikan kita" ujar Vero dengan menyambar gorengan risol.


"Ayah mau pergi" tanya Vero pada Handoko yang sedang menghisap sebatang rokok.


" enggak. Ayah mau di rumah saja" jawab Handoko acuh.


"Kalau gitu kita keluar yuk Yah. Azam ngajak liburan" usul Vero penuh harap menatap manik suaminya.

__ADS_1


"Apa kata orang kalau kita keluar sekarang. Mereka pikir kita akan merekayasa hasil lab nanti. Ayah mau tidur saja. Lain kali kita liburannya, Azam kasih pengertian lagi" Handoko membuang nafas kasar dan mematikan puntung rokok. Kemudian beranjak ke kamar.


"Baiklah kalau ayah tidak mau. Ibu mau belanja sama Azam" ucap Vero dengan senyum mengembang di bibirnya. Ia berfikir saat ini waktu yang tepat untuk meminta penjelasan dari temannya. Dan ini adalah kesempatan emas baginya


__ADS_2