
Jika kamu terus memikirkan Fauzan maka pergilah. Susul anakmu itu!" Pekik Handoko marah.
Vero tidak ingin lagi berdebat dengan suaminya, dia meraih azam dan memindahkannya ke kamar. Di kamar sebelah adalah kamar azam disana Vero bisa mendapat kekuatan baru, kekuatan seorang ibu. Dipandanginya wajah putranya itu kemudian di kecup perlahan karena merasa iba melihat kondisi Azam yang sangat merindukan Fauzan. Mengalirlah kembali embun dari sudut matanya, Vero bangkit menjauh dari putranya kemudian dia luruhkan tubuhnya di bawah ranjang. Disana Vero kembali terisak menumpah segala beban di dada.
Sudah hampir tengah hari tetapi Azam belum juga terbangun, sejak tadi malam ia tak mau tidur dan baru tertidur ketika hari sudah sedikit terang dan sekarang vero tak tega membangunkannya sedangkan Handoko pergi entah kemana usai sarapan tadi pagi. Rasanya beban ini hanya Vero yang merasakan sedangkan Handoko suaminya terlihat cuek.
***
Fauzan melirik arloji di pergelangan tangan sudah pukul dua belas siang tetapi rumah sang kakek belum juga terlihat. Peluh sudah mengucuri seluruh tubuh sehingga pakaian yang ia kenakan menjadi basah kuyup. Rasanya lelah dan juga lemas, sedari kemarin perutnya belum terisi nasi hanya udang rebus kemarin sore di gubuk Rizal. Ia berhenti di bawah pohon rindang tepat di sampingnya untuk melepas lelah. Angin sepoi-sepoi membuat Fauzan menguap berkali-kali ingin rasanya melelapkan mata sejenak. Namun ia juga khawatir akan kemalaman di jalan jika harus tidur dahulu, untuk menghindari hal itu Fauzan meneruskan langkahnya. Ia berjalan sangat hati-hati selain jalanan licin juga dipenuhi rumput-rumput tajam. Biasanya jalanan ini digunakan warga untuk mencari kayu bakar di dalam hutan.
Merasa ada yang mengikuti, Fauzan sesekali menoleh kebelakang. Namun tidak menemukan siapapun di sana. Ia kembali melanjutkan perjalanan berharap sebelum malam ia sudah tiba di kediaman sang kakek.
"Hua …" Seorang lelaki tanpa pakaian loncat dari arah semak-semak mengejutkan Fauzan yang sedang menunduk menyingkirkan duri yang menancap di ujung ibu jari. Sambil melenggak-lenggokkan tubuh, lelaki asing ini juga membawa sepotong kayu yang ia letakkan di bahu.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Bapak siapa dan mau kemana?" tanya Fauzan sangat hati-hati takut menyinggung perasaannya karena Fauzan tidak tahu orang di hadapannya bermaksud baik atau buruk.
"Ha … ha … ha …" Lelaki asing itu malah tertawa terbahak-bahak. Gigi yang hitam dengan mata memerah menatap tajam kearah Fauzan. Sepotong kayu yang digenggam, ia hentak-hentakkan di atas telapak tangan. Tangan yang kering dan kasar dengan kuku-kuku panjang tapi hitam, tidak terrawat. Lelaki asing ini yang hanya menggunakan celana pendek di atas lutut dan sobek di bagian sisi sampingnya, berjalan memutari Fauzan dengan pandangan naik turun memperhatikan setiap inci tubuh Fauzan.
Fauzan yang merasa aneh dengan gelagatnya itu berusaha melangkah kembali. Namun tangannya ditarik oleh lelaki asing itu kebelakang.
"Kamu takut? Ha … ha … ha …" Kerlingan mata dengan wajah hampir menempel pada wajah Fauzan. Bau tak sedap menguar dari tubuh dan juga mulutnya membuat Fauzan mual tetapi sebisa mungkin ia menahannya dan tidak ingin menyakiti hati lawan bicaranya.
"Tunggu anak muda! Jalanan sana sangat mengerikan. Lewatlah ke arah sini" teriak orang asing itu pada Fauzan. Namun Fauzan tidak lagi menghiraukan perkataan orang asing tersebut. Baginya dia lah yang mengerikan itu.
Baru Saja berjalan beberapa puluh meter, Fauzan dikejutkan oleh sesuatu di depannya. Kali ini jalan lebih kecil dan lebih semak. Sepertinya warga tidak sampai disini untuk mencari kayu bakar. Seekor babi hutan telah menghadang di depannya, dengan kubangan yang berisi air kotor babi itu mengguling-gulingkan tubuhnya di lumpur dan sesekali terdengar endusan nafas yang kasar.
"Babi? Aku berada di hutan jadi tidak mustahil hewan liar suka berkeliaran" bisik Fauzan dalam hati. Kali ini Fauzan berusaha mencari jalan lain untuk menghindari hewan liar itu, berjalan menerobos semak-semak di antara pohon-pohon besar yang menjulang tinggi. Namun Fauzan tidak sengaja menginjak ranting kering sehingga membuat hewan liar itu menatap Fauzan tajam. Setelah mengangkat tubuh yang dipenuhi lumpur, hewan itu berlari ke arah Fauzan karena merasa dirinya terancam. Fauzan yang merasa dirinya menjadi incaran, ia pun bergegas lari tunggang langgang meninggalkan tempat itu. Sesekali menoleh kebelakang untuk memastikan apakah hewan itu masih mengejar atau tidak. Setelah berlari cukup jauh Fauzan berhenti untuk mengambil nafas dan membuangnya kasar.
__ADS_1
"Alhamdulillah dia sudah tidak ngejar lagi" ucap Fauzan sambil terengah setelah memastikan dirinya aman. Ia membuka ransel dan diraihnya botol, diteguknya air yang hanya separo itu dan hanya tersisa sedikit lagi untuk persiapan nanti.
"Hutan seluas ini, dimana aku temukan rumah kakek itu" Fauzan menyandarkan tubuhnya pada batang kayu yang sudah roboh. Di alihkan pandangan pada arloji yang setia melekat pada pergelangan tangan.
"Sudah jam dua siang, mana tubuhku sudah sangat lemas. Dimana ya rumahnya?" Fauzan berkata pada diri sendiri. Ia memperhatikan tempat ia bersandar dan mengernyitkan dahi ketika ada sesuatu yang aneh.
"Kayu ini sudah tua bahkan sudah berlumut tapi kok masih keras" ucap Fauzan seraya mengorek dengan belati kecil yang ia selipkan di sisi pinggang. Ia berdiri dan berjalan di samping kayu misterius itu. Meskipun banyak anak kayu yang tumbuh di sekitar dan menyulitkan langkah Fauzan tetapi ia tetap waspada dan berhati-hati karena bahaya selalu mengincarnya setiap saat selama ia berada di dalam hutan ini. Sesekali tangannya menyentuh kayu jika ditaksir umurnya sudah ratusan tahun bahkan sudah berlumut pun kondisinya masih sangat keras. Ia berjalan sudah cukup jauh tetapi pangkal kayu ini belum juga terlihat. Ia berhenti dibawah pohon mengapit kayu besar ini. Fauzan berusaha naik ke atas dengan bantuan anak kayu di sebelahnya. Setelah sampai di atas ia melemparkan pandangan ke segala arah berharap segera menemukan rumah sang kakek. Ia meneliti secara detail dan mengikis lumut yang melekat. Namun hanya pertanyaan yang ia temukan bukanlah jawaban.
"Ini kayu atau apaan sih" Fauzan berdecak kebingungan. Ia berjalan mendekati dua pohon besar yang mengapit dan berjalan menelusuri hutan diatas kayu besar. Hingga sampailah ia di pangkal kayu yang ditumbuhi rumput-rumput liar. Kemudian ia menjatuhkan diri dengan meloncat turun ke tanah dan berjalan meneruskan langkahnya menyusuri hutan mencari kediaman sang kakek. Namun langkahnya terhenti dan jantungnya berdebar hebat ketika ekor matanya menangkap sesuatu yang sangat asing baginya.
"Tadi pangkal kayu ini tidak begitu tinggi. Tapi kok sekarang menjadi sangat tinggi" gumamnya. Perlahan pandangannya memperhatikan area sekitar dan menatap lekat-lekat tanah yang ia pijak. Diambilnya sedikit tanah dengan ujung jari dan diciumnya perlahan. Bau tak sedap menguar menusuk indera penciumannya. Sontak Fauzan mengeluarkan isi perutnya yang hanya berisi air sahaja.
"Huek … huek … bau apa ini. Anyir banget" Fauzan mendesah lemah.
__ADS_1