Cinta Gila

Cinta Gila
CG# 47


__ADS_3

Hari ini acara pernikahan yang telah dinantikan oleh kedua keluarga pengusaha besar. Acara pernikahan hanya dihadiri oleh tamu-tamu khusus yang dianggap penting oleh kedua belah pihak keluarga. Acara itu sengaja hanya mengahdirkan orang-orang tertentu dan tertutup, hal ini dikarenakan Laras menjadi istri kedua bukan satu-satunya.


Mitha sendiri yang mengantarkan sang suami untuk mengucap janji suci pernikahan. Dia juga menunggu sampai saksi mengucap kata "sah". Istri pertama Marcelo itu begitu tegar menyaksikan pernikahan sang suami dengan adik madunya.


Hati perempuan mana pun pasti akan sakit melihat orang yang dicintai menikah lagi. Begitu juga dengan Mitha, dia berusaha mati-matian agar air matanya tidak jatuh sampai acar pernikahan itu selesai. Namun, air mata itu jatuh juga setelah sang suami bersama adik madunya duduk di singgasana raja dan ratu sehari.


Marcelo sebenarnya tahu sang istri tengah menahan sakit, tetapi dia juga tidak kalah sakitnya harus menduakan sang istri. Jika saja Mitha mau diajak pergi jauh, meninggalkan kota Kecil itu, mungkin mereka tidak akan merasakan sakit karena harus berbagi. Akan tetapi, sikap berandai-andai bukan termasuk manusia beriman.


Manusia yang beriman akan meyakini adanya takdir baik dan buruk. Apa yang dialami oleh Marcelo dan Mitha bukanlah wujud manusia yang lemah, karena Allah akan menaikkan derajat para hamba-Nya yang mampu menjalani kehidupan dengan hati ikhlas dan senantiasa mendekatkan diri pada-Nya.

__ADS_1


Acara pesta pernikahan pun telah selesai digelar. Sesuai kesepakatan bersama, malam ini juga Laras dibawa pulang ke kediaman Weasley. Dia akan menempati kamar Mahesa karena di kamar itu banyak menyimpan kenangan tentang anak pertama pasangan Damian Weasley dan Rosita, walaupun dia sudah meninggal.


"Celo, mau ke mana kamu? Ini malam pertama kalian kenapa kamu tega sekali meninggalkannya sendiri?" Rosita mencerca pertanyaan pada sang anak, saat dilihatnya Marcelo hanya mengantarkan Laras ke kamar Mahesa.


"Saat ini dia tengah hamil, Mi. Haram bagiku untuk menyentuhnya. Apalagi janin yang dikandungnya bukan darah dagingku. Lebih baik Mami istirahat saja, tidak usah mencampuri rumah tangga Celo lagi. Apa yang Mami mau sudah aku turuti. Jadi, mulai hari ini dan seterusnya biarlah urusan rumah tanggaku menjadi urusanku dan para istriku," sahut Marcelo dingin.


Rosita masuk ke kamar Mahesa, dia ingin melihat keadaan menantu barunya. Tampak Laras sedang berbaring sembari memeluk poto Mahesa. Ada sisa air mata di sudut matanya yang terpejam.


"Laras, ganti bajumu dulu, Sayang. Setelah itu bersihkan wajahmu agar lebih segar," ucap Rosita menyentuh lengan sang menantu.

__ADS_1


Laras yang berbaring dengan masih mengenakan baju pengantinnya itu pun terbangun seraya mengusap sudut matanya yang basah.


"M-mami? M-maaf ...."


"Sstt ... tidak apa-apa. Jangan meminta maaf! Sebaiknya kamu segera ganti pakaian dengan yang lebih nyaman, jangan lupa cuci wajahmu sampai bersih!" potong Rosita sambil duduk di ranjang sang anak.


Laras pun segera meletakkan bingkai foto itu di atas meja nakas, kemudian berjalan menuju kamar mandi sembari membawa handuk. Sementara itu, Rosita masih duduk di ranjang. Tangan wanita yang masih tampak cantik di usia yang tak lagi muda itu mengambil bingkai foto yang tadi diletakkan oleh sang menantu.


"Esa, kami di sini akan menjaga Laras dan anakmu. Kamu tenanglah di sana, bahagia berada di sisi-Nya."

__ADS_1


__ADS_2