
Nggak apa-apa Tante. Aku malah seneng, Rizal sudah seperti adikku sendiri"
"Syukurlah kalau kamu menganggap Rizal seperti adikmu. Sekarang ayo kita sholat isya, ibu belum batal. Kalian wudhu jika sudah batal" titah ibu Rizal.
"Aku juga belum batal" sahut Rizal.
"Kalau begitu Kakak wudhu dulu ya, kakak udah batal" ujar Fauzan.
Lantas Fauzan beranjak dari tempat duduknya dan pergi keluar gubuk, hujan belum juga berhenti. Dia menengadahkan tangan di bawah kucuran hujan yang tertampung di atas atap gubuk ini. Diusapnya perlahan wajah hingga selesai. Air yang dingin membuat dia menggigil apalagi seharian ini baru terisi sesendok nasi tidak lebih. Setelah masuk ke dalam gubuk dilihatnya Rizal beserta ibunya sudah bersiap untuk menjadi makmum. Fauzan bergegas menghampiri mereka dan memulai shalatnya. Tidak membutuhkan waktu lama, mereka pun akhirnya selesai dengan ucapan salam dan diakhiri dengan doa.
"Ayo kita makan" seru Rizal girang sedangkan ibunya hanya mampu tersenyum tipis. Fauzan mengikuti langkah Rizal begitu pula ibunya. Mereka duduk melingkari api yang mulai meredup. Panci yang berisi udang juga berada di antara mereka.
"Ayo Kak ambil udangnya" Rizal menyodorkan panci ke arah Fauzan.
"Iya Kakak ambil ni ya" Fauzan mengambil seekor udang sebesar jari kelingking anak bayi, di kupas nya perlahan dan dimasukkannya ke dalam mulut. Seketika ekspresi Fauzan menjadi berubah, senyumnya dipaksa untuk mengembang dan mengangkat kedua jempol tangan kearah Rizal. Rizal dan ibunya yang melihat hal itu sangat bahagia karena tamunya menyukai hidangan yang mereka sajikan walau hanya udang rebus garam. Kemudian Rizal menawarkan kembali pada Fauzan tetapi kali ini Fauzan menolak dengan alasan sudah cukup.
"Ayo Kak ambil lagi. Mana mungkin makan satu udang sudah kenyang" Rizal menyodorkan kembali pancinya.
"Udah Dek. Sekarang ayo Rizal dan Tante makan" Fauzan tersenyum tipis.
"Ya sudah lah kalau Kakak nggak mau lagi" Rizal kecil seketika berubah murung.
__ADS_1
"Bukannya kakak nggak mau tapi kakak nggak bisa makan udang terlalu banyak" Fauzan terpaksa berbohong padahal ia sudah mati-matian menahan mual yang sedari tadi ia tahan hanya saja Fauzan tidak ingin mengecewakan Rizal dan ibunya. Memang adab dalam bertamu itu sangat penting sehingga tidak melukai tuan rumahnya.
"Oh … gitu ya Kak. Kalau kakak laper nanti nggak bisa tidur loh" ejek Rizal.
"Hush … Nak nggak boleh seperti itu dengan tamu. Mungkin Nak Fauzan memang sudah cukup. Jangan dipaksa, sayang" Ibu Rizal mengelus pucuk kepala putranya itu.
"Maaf Bu. Rizal kan cuma ingin bercanda dengan Kakak" Rizal tertawa dengan mulut berisi rebusan udang sedangkan ibunya makan dengan perlahan, sesekali tangan keriputnya menyuapi sang putra.
"Nak, kamu bilang tadi mau pergi ke hutan. Memang apa yang kamu cari di sana" tanya ibu Rizal di sela kunyahannya.
"Ini hukuman Fauzan, Tante" jawab Fauzan canggung.
"Panjang ceritanya Tante, apa tante tahu rumah kakek di dalam hutan sana?" tanya Fauzan tanpa menjawab pertanyaan ibundanya Rizal.
"Rumah kakek di dalam hutan? Tante pernah kesana karena tersesat mau pulang tetapi itu sangat jauh didalam sana Nak. Kita butuh bekal yang cukup karena hampir seharian kita bisa mencapai tengah hutan" terang ibunya Rizal.
"Ya sudah Tante, saya mau istirahat dulu supaya besok bisa fresh" Fauzan beranjak dari tempat duduknya menuju hamparan kardus yang tadi ia gunakan untuk sholat. Dia hempaskan tubuh kekarnya diatas kardus dan meringkuk di dalam sarung yang ia bawa, rasa dingin yang ia rasakan sedari tadi kini kian menjadi, perlahan tubuhnya menggigil dan sarung yang ia gunakan tak mampu menghilangkan rasa dinginnya. Suara geraham gigi mulai gemeretak, air matanya perlahan meleleh mengingat kasur empuk di rumahnya.
"Ibu … Kakak nggak kuat lagi. Doain kakak Bu" gumam Fauzan dalam hati.
"Ah … kenyang" seru Rizal menuju pembaringan. Rizal beserta ibunya merebahkan tubuh tak jauh dari Fauzan berbaring. Sesekali terdengar kepakan tangan mengusir nyamuk yang sedang mencari mangsa. Hanya berselimutkan kardus dan tak memerlukan waktu lama untuk mereka berdua terpejam. Sedangkan Fauzan berusaha memejamkan matanya walaupun sesekali membolak-balikkan badan. Hingga akhirnya matanya juga tertutup karena lelah.
__ADS_1
Sesekali Fauzan terjaga dari tidurnya. Tempat yang dingin dan bernyamuk membuat Fauzan tidak nyenyak. Diliriknya pelita hanya tersisa sedikit lagi, mungkin sebentar lagi juga padam. Dalam keremangan Fauzan melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Baru jam satu dini hari" gumam Fauzan dalam hati. Dialihkan pandangannya menuju dua insan yang sedang terlelap dalam mimpinya. Fauzan yang tidak bisa terpejam lagi beranjak menyalakan meranti yang mulai habis, perlahan ia gerakkan tangan keatas api yang sudah menyala dan diusap-usapkannya sebelum menempelkan pada tengkuk yang terasa membeku. Begitu ia lakukan seterusnya tanpa terasa ngantuk mulai menyerang. Diliriknya kembali arloji tetapi sudah pukul setengah lima pagi, tanggung jika harus tidur, lantas Fauzan pergi kesungai untuk membuang hajat dan mensucikan diri dengan air wudhu. Jalanan yang licin karena turunnya hujan membuat Fauzan hampir tergelincir, gelap tanpa cahaya kecuali cahaya bulan, Fauzan jalan tertatih. Air sungai mengalir cukup deras di tandai suara yang menderu dan mencapai bibir sungai. Fauzan berjingkat pelan jangan sampai terpeleset dan terbawa arus. Setelah selesai, Fauzan kembali ke gubuk suara berisik dari arah hutan membuatnya bergidik ngeri. Jujur saja, Fauzan bukanlah seorang pemberani. Dia sangatlah penakut, tetapi karena keadaan membuat dia berjalan nekat. Setelah memasuki gubuk, di lihatnya ibu Rizal sudah terbangun menghangatkan diri di dekat api.
"Kamu dari sungai, Nak?" tanya ibu Rizal.
"Iya Tante, tapi airnya masih agak tinggi" jawab Fauzan.
"Tadi malam hujan memang cukup deras. Biasanya jika hujan, air sungai hampir masuk ke dalam gubuk" tutur ibu Rizal.
"Apa tante tidak punya tempat tinggal selain di sini" tanya Fauzan penasaran. Sepertinya dia mulai tertarik dengan masalah keluarganya Rizal.
"Ada, tetapi itu tidak mungkin" jawabnya singkat. Terlihat jelas di mata wanita paruh baya itu rasa sakit yang menyayat.
"Kenapa Tante. Kasihan kan Rizal harus tidur tanpa alas yang layak" Fauzan menatap pilu Rizal yang sedang tertidur pulas.
"Nak, Tante menaruh hormat padamu karena kamu tamu tante saat ini tetapi jangan campuri masalah keluarga kami apalagi sampai menghasut Rizal" tutur ibu Rizal seraya menatap Fauzan tajam.
"Sungguh tidak ada maksud saya mencampuri masalah keluarga Tante. Namun alangkah baiknya Rizal bersama kedua orang tuanya" ucap Fauzan memberi pendapat.
"Jangan sok tahu kamu anak muda. Kamu belum mengerti duduk masalahnya maka dari itu jangan kamu menghakimi seseorang, lihat lah dirimu sendiri, apakah dirimu termasuk orang tanpa celah" ucap ibu Rizal menatap tajam.
__ADS_1