
"Ibu ini ngomong apa sih. Ayah capek mau istirahat" jawab Handoko dengan mengenakan pakaian di hadapan istrinya. Kemudian melempar handuk ke atas kursi rias. Kebiasaan ini yang sangat sulit untuk dihilangkan meskipun sudah berulang kali Vero menegur dan mengingatkan tapi tidak bisa mengubah kebiasaan suaminya.
"Ayah dari mana tadi?" tanya Vero berusaha mengendalikan emosinya. Ia berjalan menuju depan kamar mandi dengan handuk di tangan yang tergeletak di kursi tadi. Bagi pecinta kebersihan dan juga keindahan, handuk basah yang di taruh sembarang tempat sangatlah mengganggu kenyamanannya, begitu juga dengan Vero, ia sangatlah risih sehingga selalu mengomel setiap saat kala melihat hal itu.
"Dari kantor" jawab Handoko dengan menatap wajahnya di cermin.
"Nggak usah bohong! Ibu baru saja pulang dari kantor Yah. Ayah menyembunyikan sesuatu kan" desak Vero dengan menarik tangan Handoko yang memunggunginya.
"Ayah nggak bohong Bu. Ibu kenapa sensi banget" Handoko merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur dan tidak memperdulikan Vero menatapnya.
"Ibu menemukan ini di mobil Ayah" Vero mengambil secarik kertas dari sakunya yang hampir sobek kemudian melempar ke arah Handoko.
Melihat hal itu, Handoko bangkit dan memungut kertas yang tergeletak di sisinya. Kemudian membuka perlahan kertas yang sudah menggumpal. Seketika keningnya berkerut dan alis matanya terangkat sedangkan bibirnya ditarik kebawah. Dipandanginya kembali Vero dan kertas itu bergantian.
"Ayah nggak tau" jawabnya simpel dan meletakkan kembali ke tangan istrinya.
"Ayah mau tidur. Ngantuk!" lanjut Handoko dan beralih memunggungi Vero.
"Ayah!" sentak Vero kesal kemudian ia melihat kembali kertas di tangan karena merasa aneh dengan ekspresi suaminya yang biasa saja tanpa khawatir. Setelah dibaca kembali dan berulang kali dibaca akhirnya Vero mengerti alasannya.
"Duh … kenapa aku salah kasih kertasnya. Terus resepnya di mana?" tanya Vero pada dirinya sendiri. Dia mengecek tas dan juga saku bajunya tapi tidak juga ketemu. Akhirnya memeriksa keluar ruangan yang ia lalui tadi ketika masuk rumah. Tidak ada juga, beralih menuju parkir dan ternyata jatuh di bawah sepeda motornya.
"Baiklah, sekarang tidurlah ayah. Nanti setelah tidur jangan harap bisa menghindar" ucap Vero dan menyimpan kertasnya dengan baik.
__ADS_1
Sedangkan di tempat lain, Handoko belum bisa tidur meski matanya sangat ngantuk dan badannya sangat lelah tapi pikirannya berkelana entah kemana apalagi melihat tingkah Vero baru saja yang membuatnya semakin pusing.
Handoko tidak berniat menyembunyikan masalah apapun dari istrinya bahkan sejak dulu ia selalu terbuka dan berbagi masalah dengan Vero. Namun saat ini belum waktunya karena belum ada satu bulan masalah pengusiran Fauzan, ia tak ingin Istrinya syok ataupun frustasi dengan masalah yang baru. Paham betul Handoko dengan pemikiran wanita yang sempit khususnya Vero, karena tingkat kestresan wanita lebih tinggi dari pada lelaki, itulah yang pernah ia dengar. Tadi malam ia juga tidak sempat memberitahu Vero. Setelah menerima sebuah pesan Handoko pergi untuk menemui orang itu yang tak lain adalah bu Hamidah. Pemberitahuan melalui ponsel karena anak gadisnya kritis membuat Handoko panik dan meninggalkan orang-orang di rumah pak Rt tadi malam meski waktu telah menunjukkan jam satu dini hari.
Bayangan gadis yang tergeletak lemah di ranjang rumah sakit selalu mengusik pikirannya. Apalagi setelah mengetahui keterangan dari dokter bahwa Ariana harus segera dioperasi setelah melewati masa kritisnya.
Handoko hanya membolak balikkan badan di atas tempat tidur, belum juga bisa memejamkan mata. Ia berpikir keras bagaimana caranya untuk memberitahu Vero akan hal ini. Ia melirik ponsel di atas meja yang sedang bergetar dan sengaja tidak membuat nada suara, setelah diperiksa ternyata pesan dari bu Hamidah untuk mengirimkan sejumlah uang. Tanpa berpikir lagi, Handoko langsung mengirimkan uang yang diminta melalui aplikasi mobile banking.
"Ibu?" teriak Handoko panik, melihat ponselnya telah berpindah tangan. Wajahnya berubah pucat dan menjadi salah tingkah. Ia bangkit berusaha merebut ponselnya tapi Vero berusaha menghindar. Sehingga Handoko hanya bisa pasrah dan merutuki dirinya sendiri karena lupa menutup pintu bahkan ia tidak menyadari kehadiran istrinya.
"Katanya mau tidur tapi malah main ponsel terus" ucap Vero dengan ponsel di genggamannya. Melihat suaminya hanya diam saja Vero pun mengalihkan pandangannya ke ponsel. Matanya pun terbelalak ketika melihat layar ponsel "transaksi berhasil". Belum juga yakin, ia membuka notifikasi di pesannya dan benar saja bahwa suaminya baru saja melakukan transfer uang atas nama Hamidah. Kemudian ia membaca pesan masuk dari nomor tanpa nama.
"Siapa dia Ayah" tanya Vero dengan nafas memburu. Ia menunjukkan sebuah pesan yang baru saja masuk.
"Bu jangan salah paham. Ayah bisa jelaskan" bujuk Handoko berusaha menenangkan istrinya.
"Ibu ini sa …" Handoko tidak melanjutkan ucapannya ketika melihat ponselnya kembali bergetar.
"Berikan Bu ponselnya. Mungkin ada yang penting" ucap Handoko dengan tangan terulur.
"Tidak! Sebelum Ayah bicara tentang wanita ini. Ponsel tetap bersamaku" Vero berjalan mundur menghindari suaminya. Namun ponsel kembali bergetar dan membuat keduanya melihat ke layar. Kesempatan ini digunakan Handoko untuk mengambil paksa ponsel miliknya dan mencoba memberi pengertian pada Vero.
"Ayah akan cerita semua sama ibu, tapi tidak sekarang dan untuk saat ini biarlah ayah selesaikan masalahnya. Bersabarlah, tenangkan dirimu dulu. Ayah mau angkat telpon ini dari pak Rt" Handoko berjalan menjauh untuk berbicara dengan pak Rt.
__ADS_1
Vero menjatuhkan tubuhnya ke kursi, ia merasa gagal dan juga frustasi atas kejadian ini. Sudah menyusun rencana matang tapi gagal ia lakukan. Mungkin saat ini waktu belum berpihak padanya. Ia kembali memijat kening yang terasa semakin berdenyut dan menyandarkan tubuhnya ke atas meja.
"Bu buat nanti malam kata bapak ada rapat di rumah, saya harus buat apa" tanya bik Minah setelah mengetuk pintu kamar.
"Rapat? Kok Ayah nggak ngomong tadi" gumam Vero bangkit.
"Sekarang ayah dimana, Bik?" Vero memperbaiki ikatan rambut yang mulai awut-awutan. Mungkin karena stres makanya penampilannya menjadi berantakan.
"Di meja makan, Bu" Bik Minah berjalan membuntuti Vero dari belakang.
Mendengar jawaban pembantunya, Vero ingin rasanya berteriak memaki Handoko. "Masih banyak masalah di rumah malah seenaknya mengundang orang untuk rapat. Mungkin selama ini aku yang terlalu toleran terhadap ayah sehingga, dia bersikap semaunya" cebik Vero kesal.
"Kita beli buah saja, Bik. Kue tadi malam juga masih ada" ucap Vero sedikit berteriak ketika berada di hadapan Handoko, ia ingin tau bagaimana reaksi suaminya karena selama ini ia selalu mendengarkan pendapat suaminya tentang suguhan untuk tamu-tamu yang datang.
"Buat puding juga, Bu" Handoko menimpali ucapan Vero setelah beberapa saat istrinya hanya diam dengan memainkan pisau buah di atas meja.
"Ayo cepetan, Bik kita ke pasar sekarang" teriak Vero. Ingin rasanya dia segera pergi menjauh dari hadapan suaminya tetapi ia tidak memiliki uang yang cukup dan berharap suaminya mengerti.
"Ayo Bu. Kita berangkat sekarang"ajak bik Minah.
"Tunggu saya di luar" jawab Vero
"Mana uangnya. Uangku kurang!" Vero membuka suara karena Handoko diam saja. Dia sama seperti lelaki lain kurang peka terhadap tingkah istrinya.
__ADS_1
"Pudingnya jangan lupa" Handoko mengingatkan seraya mengangsurkan lembaran merah sebanyak lima lembar.
"Jatahnya cuma ini. Berarti jangan berharap dapat banyak" Vero melengos pergi dengan dompet di tangannya.