
Setelah solat magrib, Vero dan bik Minah kembali berkutat di dapur sedangkan Azam bermain bersama Handoko walaupun sebelumnya harus melewati sedikit pertengkaran kecil dengan suaminya.
"Bu pesananmu tuh datang" Handoko memberitahu istrinya dari pintu.
Vero bergegas keluar untuk menemui langganannya dan membayar semua pesanannya. Setelah tamunya pergi ia kembali masuk untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
"Kenapa pudingnya harus pesan. Biasanya ibu juga buat sendiri kan" protes Handoko dari ruang televisi.
"Lagi males buat" Vero menjawab sambil berlalu melewati anak dan suaminya.
"Malas di pelihara. Kalau buat sendirikan lebih hemat, Bu. Kalo lagi ada acara, semuanya pesan. Padahal tiap hari bikin pun" oceh Handoko.
"Hello … Ayah mau Ibu berhemat. Makan tuh hemat mu. Pelit ke istri tapi royal ke orang. Dosa tau buat istri sengsara" Vero menyerocos dari dapur. Dalam hatinya masih menyimpan rasa gondok yang luar biasa. Namun ia berusaha mengesampingkan rasa kesalnya pada Handoko setidaknya untuk malam ini karena ia tidak ingin orang luar tau kalau keluarganya sedang tidak baik-baik saja.
"Emang Ibu sengsara? Ayah nggak bermaksud buat ibu sengsara loh. Ayah cuma mau ibu berhemat. Kalo bisa buat ya jangan pesan jadi" Handoko berusaha menjelaskan agar tidak salah faham. Barabe jadinya kalau Vero sampai marah malam ini.
"Sejak kapan Ayah perhitungan kayak gitu. Yang harus berhemat tuh ayah bukannya ibu" sahut Vero ketus.
"Ya terserah ibu aja lah Tapi nanti malam ibu keluar, temani bu Sekdes" Handoko menggendong Azam ke kamar tidurnya. Ternyata bocah kecil itu sudah terlelap di pangkuan Handoko.
Meski tidak ada jawaban tetapi Handoko yakin istrinya mau menurutinya. Sempat terbesit rasa penyesalan di hati Handoko mengingat ia belum mampu memberitahu masalah yang sedang dihadapi.
***
Orang-orang mulai berdatangan setelah azan isya sehingga leluasa untuk membahas permasalahan yang ada. Setelah dirasa hadir semua, Handoko pun mulai membuka pembicaraan.
__ADS_1
"Saya ucap kan terimakasih atas kehadiran bapak ibu sekalian dan saya juga meminta maaf karena informasi ini dadakan. Untuk pertemuan ini kita akan membahas proyek yang baru selesai di kerjakan dan juga akan membahas aggaran desa jika waktunya mencukupi. Silahkan Bapak dan Ibu laporannya jika ada masalah, mari kita selesaikan bersama." ucap Handoko membuka pembicaraan malam ini.
Akhirnya waktu telah menunjukkan pukul sebelas lebih tiga puluh dan rapat pun berjalan dengan lancar dengan di selingi cemilan ringan membuat semuanya terlihat rileks. Sebagian orang sudah pulang, tinggallah Handoko sendiri dan beranjak masuk kedalam setelah menutup pintu. Namun pintu rumahnya di gedor-gedor dari luar sehingga ia terlonjak kaget.
"Siapa malam-malam gedor-gedor pintu rumah orang" gumam Handoko beranjak malas. Sebenarnya ia sudah sangat mengantuk dan ingin segera tidur tapi tak mungkin juga ia mengabaikan orang berisik di luar rumah sehingga mengganggu ketenangan warga yang lain.
Cklek …
Pintu pun terbuka dan salah satu warganya berdiri di hadapan Handoko dengan nafas tersengal. Setelah mengatur nafas ia mulai berbicara dengan bibir bergetar.
"Pak Rt pak …" ucap lelaki muda seusia Fauzan anak sulungnya.
"Ada apa dengan pak Rt?" tanya Handoko bingung karena baru saja ia keluar dari rumahnya.
"Ayo Pak. Gawat …" ujar lelaki itu gemetaran.
***
"Kamu dimana" tanya Vero pada seseorang di ujung telpon.
"..."
"Baiklah saya segera kesana" jawab Vero kemudian dan mematikan ponselnya. Ia meraih jaket hitam dan juga masker tentunya setelah mengenakan jilbab panjang.
Setelah berjalan mengendap-endap, Vero melintasi dapur dan juga gudang belakang rumah sebelumnya dia sudah memastikan keadaan Handoko. Dia sengaja tidak tidur sebelum suaminya tidur duluan. Namun Handoko malah pergi keluar menemui pak Rt, ia sempat mendengar percakapan suaminya dengan pemuda barusan. Sehingga Vero tidak terlalu was-was untuk menemui seseorang diluar sana.
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya?" tanya Vero setelah sampai pada pohon buah mangga di belakang rumahnya.
"Dia baik-baik saja. Ini fotonya" Seorang lelaki misterius membalikkan badan dan mengulurkan sebuah amplop berukuran sedang. Wajahnya tertutup tudung jaket dan tampak gelap karena tidak terkena cahaya lampu rumah milik Vero.
"Baiklah dan ini terimalah sebagai hadiah dariku" ucap Vero dengan menyerahkan amplop coklat yang disiapkan dari rumah. Isinya tak seberapa, tetapi cukup tebal.
"Terima Kasih. Ini sudah lebih dari cukup" lelaki bertudung misterius tersenyum lebar setelan memeriksa isi amplop dengan bantuan cahaya senter miliknya.
"Cepatlah pergi sebelum ada yang melihat kita" ucap Vero dengan bibir mengembang bahagia.
Keduanya pun berpisah, setelah memastikan tidak ada orang yang melihat mereka berdua. Beberapa hari sebelumnya, Vero menyuruh seorang kenalannya yang pemberani. Ia meminta tolong untuk memastikan keadaan Fauzan baik-baik saja. Permintaan Vero langsung disanggupi tanpa meminta imbalan bahkan temannya juga menyertakan foto agar Vero percaya dan tidak perlu cemas lagi. Tentunya hal ini tanpa sepengetahuan suaminya, sebab Handoko tidak mengizinkan istrinya memata-matai putra sulungnya.
Setelah sampai di kamar, Vero dikejutkan oleh Handoko yang duduk di sisi ranjang.
"Dari Mana,Bu" Handoko bertanya penuh curiga.
"Em … ibu habis buang sampah ke belakang, Yah" Vero terpaksa berbohong atau dia akan habis oleh suaminya malam ini. Tangan kanannya sibuk menyembunyikan kertas di punggung belakang dengan diikuti gerakan tubuh lainnya sehingga Handoko tidak perlu curiga.
"O … tumben banget. Biasanya sampah sampai bertumpuk tidak ada yang mau buang" gumam Handoko tetapi masih bisa terdengar oleh Vero.
"Ayah nggak percaya sama ibu. Ya sudah lihat sendiri aja tuh di dapur masih ada sampah apa nggak" Vero mulai kesal dengan sindiran Handoko. Memang ia sempat membawa sampah ketika menemui orang suruhannya tadi, sebagai alasan jika ia kepergok oleh siapapun terutama Handoko.
"Ayah tadi pergi kemana"tanya Vero kemudian. Ia tidak ingin diwawancarai suaminya tengah malam begini.
"Pak Rt tadi muntah-muntah dan mengatakan bahwa hal itu karena ia makan makanan di rumah kita. Jadi untuk membuktikan atas tuduhan itu, besok beberapa makanan yang tadi kita suguhkan akan dibawa ke lab untuk diperiksa" jelas Handoko panjang lebar. Ia mulai dilanda gelisah tampak dari wajahnya yang terlihat gusar.
__ADS_1
"Ayah tenang saja. Ibu nggak ngasih racun kok ke makanan yang kita suguhkan, walaupun sejujurnya ibu masih marah sama Ayah" ucap Vero berlalu kekamar mandi. Ia sudah tidak sabar melihat anaknya meski dengan sebuah foto. Setelah menutup pintu rapat, ia menekan kran agar Handoko tidak menguping. Diambilnya amplop yang tersimpan di baju bagian belakang dan membukanya dengan air mata bahagia. Senyumnya mengembang ketika melihat putranya duduk di sebuah batu besar dengan air terjun di belakangnya. Kemudian beralih ke foto yang lain dengan tumpukan ranting di hadapannya. Dan foto terakhir terlihat Fauzan sedang memikul ranting-ranting yang cukup besar di pundaknya. Air mata Vero meleleh melihat putranya sengsara. Ia mengirim pesan dan menanyakan tentang foto terakhir yang membuat batinnya terluka.