Cinta Gila

Cinta Gila
15. Perdebatan


__ADS_3

"Vero!" Handoko membentak untuk yang kedua kalinya.


"Jangan pernah berani kau langkahkan kakimu keluar untuk melakukan kecurangan!" ucap Handoko tegas.


"Ayah! Ibu cuma ingin tau keadaan Fauzan karena dari kemarin perasaan ibu nggak enak" bela Vero tak kalah tegas sehingga membangunkan Azam yang sedang tertidur disebabkan perdebatan kedua orang tuanya.


"Sudah berulang kali ayah bilang, pengasingan ini tidak boleh ada warga yang ikut campur termasuk kita orang tuanya. Apa kamu belum mengerti juga!" Handoko sedikit berteriak membuat Azam menangis.


"Terserah ayah" Vero meraih Azam kasar membawa ke kamar putra bungsunya. Disana Vero menumpahkan seluruh kegundahan hatinya dengan menangis memeluk Azam.


Sedangkan Handoko menyambar kunci mobil di atas nakas dan berjalan menuju garansi. Akhir-akhir ini keluarga Handoko tidak lagi harmonis selain kepergian Fauzan ternyata Handoko memiliki rahasia besar dan tidak ada orang lain yang tahu.


Setelah lima jam mengemudi akhirnya Handoko memarkirkan mobilnya tepat di halaman rumah yang tidak begitu luas tetapi terlihat rapi dan asri.


"Assalamualaikum, Bu" Handoko mengucap salam setelah mengetuk pintu beberapa kali. Dengan setelan kemeja berwarna navy dilengkapi dengan jas kebanggaanya ia berdiri sangat gagah.


"Waalaikumsalam, nak Han. Ayo masuk!" perintah seorang wanita yang usianya sekitar lima puluh tahunan.


"Duduklah. Ibu buatkan minum dulu" wanita itu masuk meninggalkan Handoko seorang diri di ruang tamu. Tidak beberapa lama kemudian wanita itu keluar dengan cangkir keramik berisi teh dan juga beberapa cemilan.


"Bagaimana kabar keluargamu nak Han?" tanya wanita itu setelah menghidangkan minum dan juga cemilan. Ia hempaskan diri di atas sofe mememani tamunya.


"Keluargaku sekarang kacau Bu." jawab Handoko seraya menunduk.


"Kacau apa maksudmu? Apakah mereka sudah mengetahuinya? tanya wanita itu lagi yang bernama bu Hamidah.


"Belum" jawab Fauzan singkat.


"Lantas apa yang membuat keluargamu kacau?" tanya bu Hamidah penasaran.

__ADS_1


"Putra sulungku diasingkan dan istriku mulai berani melawan" jawab Fauzan masih dalam kondisi menunduk.


"Kalau begitu Ibu tak ingin ikut campur dalam masalah keluargamu. Tepatilah janjimu itu atau ibu akan mengambil jalan hukum" ancam bu Hamidah.


"T … tolong jangan lakukan itu Bu. Aku akan tepati janjiku" jawab Handoko gugup.


"Lalu kenapa kamu datang kesini" tanya bu Hamidah.


"Saya ingin melihat keadaan Ariana Bu" ucap Handoko.


"Dia sedang tidur. Jangan diganggu" jawab bu Hamidah ketus.


"Baiklah kalau begitu. Kabari saya jika terjadi sesuatu pada Ariana" pinta Handoko.


"Ya ibu pasti akan mengabarimu. Toh keadaan dia juga tanggung jawabmu" ucap bu Hamidah memicingkan mata.


"Kalau begitu saya pamit. Dan ini untuk keperluan ibu dan juga Ariana" Handoko meletakkan amplop coklat di atas meja dan pergi meninggalkan rumah ibu Hamidah tanpa menyentuh minuman yang sudah disajikan.


Kali ini wajah Handoko berubah menjadi kusut, masalah yang dihadapi cukup pelik. Namun bagaimanakah caranya untuk memberi tahu rahasianya kepada Vero. Handoko akan menunggu masa yang tepat karena untuk saat ini tidak mungkin, sebab keadaan Vero sangatlah lemah.


Ciit …


Handoko menginjak rem mendadak. Tatkala melihat bayangan Fauzan dari spion mobil. Ia membalikkan tubuh, melihat ke arah belakang tetapi tidak ada siapapun. Kurang puas dengan hal itu Handoko membuka pintu mobil dan mengeceknya meskipun hari sedikit gerimis kemudian ia mengedarkan pandangan di sekitar pinggir jalan, tetapi tetap sama tidak ada Fauzan disana. Ia meraup wajah dan mengacak rambut kasar, sesuatu yang tidak baik telah terjadi. Ia melanjutkan kemudinya hingga hampir maghrib tiba di rumah. Melihat kondisi rumah yang sepi, Handoko bergegas masuk ke kamar mencari keberadaan Vero tetapi ia tidak menemukannya.


"Bik!" Handoko berteriak dari kamar memanggil pembantunya.


"Iya Pak, apa Bapak butuh sesuatu" tanya bik Minah sambil mengatur nafas panjang.


"Dimana Ibu?" tanya Handoko dengan mata penuh amarah.

__ADS_1


"Tadi Ibu pamit mau kerumah mah Haji" jawab bik Minah.


"Apa sudah lama?" tanya Handoko sedikit tenang.


"Sekitar satu jam yang lalu Pak" jawab bik Minah sopan.


"Siapkan makanan. Aku lapar!" perintah Handoko berjalan menuju meja makan.


"Baik Pak" Bik Minah berlalu pergi dan menyiapkan makanan yang sudah tersaji di meja makan.


Handoko duduk di meja makan seorang diri, biasanya meja itu ramai oleh kedua putranya dan istrinya Vero. Namun beberapa hari ini terasa sangat sunyi bahkan mereka tidak lagi makan bersama. Ketika Handoko sedang melamun dengan nasi dan lauk yang terhidang di piring tiba-tiba saja Vero dan Azam duduk menemani Handoko makan walaupun mereka berdua tidak mengambill piring. Hanya keheningan yang ada di antara mereka tanpa ada yang mau berbicara. Handoko yang cuek, dia menghabiskan makanan yang ada di piring dengan sangat singkat dan berlalu meninggalkan Vero dan Azam di meja makan.


"Apa bibik tidak masak sup?" tanya Vero sedikit berteriak karena pembantunya sedang berada di belakang.


"Tidak Bu. Saya hanya memasak yang kering karena kemarin saya masak sup tidak ada yang makan" terang bik Minah. Memang sudah dua hari ini baik Vero maupun Handoko tidak menyentuh makanan hanya air minum yang mampu masuk ke perut.


"Kalau begitu buatkan saya sup ayam. Tidak usah banyak-banyak sedikit saja, tapi kalau bibi mau, tambahin untuk bibi" perintah Vero.


Ia kemudian mengeluarkan ponsel dari saku gamisnya dan mulai berselancar di dunia maya sekedar mencari hiburan. Beberapa notifikasi masuk membuat benda pipih persegi empat itu sedikit lemot. Memang selama kepergian Fauzan, dia tidak menghidupkan data selulernya sehingga beberapa pesan baru saja masuk. Setelah membuka pesan di whatsapp dan membacanya, dia menutup aplikasi hijau itu. Tidak ada yang penting dari pesan-pesan grupnya hanya obrolan tentang pengasingan putranya sehingga membuat Vero terenyuh dan milih menutup aplikasi tersebut. Tidak lama kemudian bik Minah datang dengan semangkuk sup panas. Disendoknya kedalam piring dan menyeruputnya perlahan, sesekali disuapkannya Azam yang masih asik main di lantai. Setelah tandas ia memilih duduk di ruang keluarga menemani Azam bermain seraya menonton tv.


"Kamu darimana saja Bu?" tanya Handoko mengejutkan Vero yang sedang asik mengawasi Azam. Kemudian ia menghempaskan tubuh di atas sofa.


"Seharusnya aku yang bertanya darimana saja kamu seharian ini, hah. Banyak orang kantor datang kerumah mencarimu!" Vero melampiaskan amarah yang sejak tadi ia bendung.


"Jaga ucapanmu Bu! Tidak sopan sama suaminya sendiri, pamali!" Ucap Handoko jengkel.


"Pamali? Hahaha mungkin kamu yang pamali Yah" Vero menjawab acuh.


"Katakan apa masalahmu, jangan bersikap seperti anak kecil!" Ujar Handoko sedikit lembut.

__ADS_1


"Jika Ayah ingin tahu apa masalahku itu gampang. Aku cuma ingin Fauzan kembali" ucap Vero tegas dan beranjak meraih Azam. Vero melangkahkan kakinya menuju kamar si bungsu sedangkan Handoko ia tinggalkan seorang diri.


"Vero" teriak Handoko geram


__ADS_2