Cinta Lama Belum Usai

Cinta Lama Belum Usai
Kelulusan SMA


__ADS_3

*Hai readers,


Aku baru belajar menulis, semoga suka ya karyaku.


Mohon dukungannya ya, terimakasih*!


Hari ini, tanggal 20 Mei 2004 merupakan saat pengumuman kelulusan di SMA 1 Nusantara di Kota Y, nampak Leon dan Viona ikut berkerumun melihat papan pengumuman.


"Horee kita lulus Leon!" teriak Viona sambil berjingkrak - jingkrak.


"Iya.. biasa kali Vi, udah yuk kita ke kantin, aku belum sarapan." ujar Leon cuek.


"Kamu ya, mbok sedikit punya ekspresi gitu lho, ya udah aku temenin." timpal Viona mengalah.


Mereka berdua berjalan beriringan menuju kantin sekolah, di sana sudah ada beberapa teman sekelasnya. Ada Citra, Abdi dan Putra.


"Hai sini dong Leon duduk sebelahku!" tawar Citra, yang sedari dulu ia sudah memiliki perasaan suka dengan Leon, namun Leon tidak menanggapinya, tapi Leon hanya menganggap teman.


"Dih, Leon doang yang ditawarin duduk!" protes Viona pura - pura marah dengan menampakkan muka cemberut.


"Sini tuan putri Viona, duduk di sebelah pangeran Abdi hehee..!"


Namun Leon lebih sigap, ia menyuruh Abdi berdiri dan duduk di sebelah Citra, sedang ia menyuruh Viona duduk di sebalahnya.


Begitulah sifat posesif Leon terhadap Viona, yang sering disalahartikan teman - temannya, yang mengira mereka berdua berpacaran.


"Ampun deh Leon, sakit ati adek, cuman duduk di sebelahku aja ga mau!" protes Citra tak terima karena penolakan Leon, yang jelasnya bercanda, ia tau kalau Leon bersikap seperti itu supaya Citra juga mengerti kalau hanya dianggap teman aja.


Leon hanya tersenyum menanggapi komentar Citra.


"Udah Cit, ga usah diambil hati sikap Leon, dia udah biasa aneh dan datar kurang ekspresi hahaa!" ujar Viona, namun dalam hatinya ia bahagia diperlakukan Leon seperti itu. Andai ia laki - laki mungkin udah berani nembak duluan.

__ADS_1


"Buruan pesen, aku udah lapar Vi, aku nasi pecel tambah telor ceplok, minumnya teh tawar panas!" titah Leon tanpa basa - basi.


Viona segera melambaikan tangan ke Mang Udin pelayan kantin, "Mang ke sini dong", ucapnya.


Mang Udin segera meluncur ke arah meja Viona.


"Pesen apa mbak dan mas?" tanya Mang Udin.


"Nasi pecel tambah telor ceplok 1, roti bakar isi pisang keju 1, teh tawar panas 2 ya Mang" jawab Viona.


"Siap mbak cantik! ditunggu ya." ucap Mang Udin ramah.


Tak berapa lama kemudian pesenan mereka datang, kalau yang lain sudah memesan sedari tadi. Sambil menikmati makan, mereka tampak mengobrol.


"Kalian jadi melanjutkan ke mana setelah lulus?" tanya Putra.


"Aku belum yakin, yang jelas aku mau tertarik di bidang sastra." jawab Abdi.


"Aku ngikut Leon ajalah!" jawab Citra sambil tertawa, ia memang sengaja terang - terangan sering menggoda Leon.


"Leon, kamu jahat banget sih! mbok sekali aja baik ma aku huhh!" timpal Citra menampakkan muka yang cemberut.


Viona hanya tersenyum melihat tingkah mereka.


"Kamu sendiri mau ke mana Putra?" tanya Viona.


"Kemanapun tuan putri Viona akan ku dampingi hehhee..!" (yang langsung mendapat tatapan tajam Leon), Putra melanjutkan jawabannya, "Aku kemungkinan melanjutkan S1 ke Australia, nyusul kakakku di sana, kamu ke mana Vio?" jawab Putra.


"Wah hebat dong Put, aku kayaknya ambil jurusan pertanian aja deh, sesuai hobiku berkebun." jawab Viona sambil tersenyum.


"Kamu Leon, jangan jawab kamu mau ngikutin Viona juga ya!" timpal Abdi.

__ADS_1


"He.. iyalah aku juga ambil pertanian tapi belum tau mau ambil program studinya apa." jawab Leon datar.


"Sudah kuduga modusmu Leon hahaa! kenapa sih kalian ga pacaran aja sih? berduaan melulu tanpa status!" ucap Putra blak - blakan.


"Tenang broo, itu urusan pribadiku, kalau pacaran ntar ada masalah bisa putus, enakan sahabatan ya Vi, aman!" jawab Leon menanggapi pernyataan Putra sambil melanjutkan makan.


"Terserah kamulah Leon! manusia datar tanpa ekspresi." ucap Viona yang sedikit kecewa.


Citra menyadari atmosfer kekecewaan Viona, namun ia juga bisa apa, mau nyomblangin tapi ia juga suka dengan Leon. Jadi Citra memilih diam dan membiarkan nanti waktu yang menjawab siapa jodoh mereka masing - masing.


"Teman - teman nanti kalau kita sudah berpisah, jangan saling melupakan ya, kapan - kapan kita bisa reunian ya!" ucap Citra menampakkan kesedihannya.


"Siap Cit, yang penting jangan ganti nomor telepon aja, kita masih bisa saling kontak ok! yuk udahan kita kembali ke kelas, sapa tau ada pengumuman baru!" ajak Viona sambil berdiri.


Mereka berlima beranjak dari kantin sekolah menuju ruang kelas.


Di dalam kelas, Putra yang merupakan ketua kelas menyampaikan beberapa pengumuman, yang berhubungan dengan kapan mereka akan menyelesaikan urusan adminstrasi berkaitan kelulusan, termasuk kapan tanda tangan Ijazah dan penyerahannya.


Seminggu kemudian akan diadakan acara Pelepasan Siswa Kelas Tiga SMA 1 Nusantara.


Leon sudah sampai di rumah Viona, memang kebiasaan Leon adalah antar jemput Viona. Dengan keluarga Viona juga telah akrab. Leon menemukan kenyamanan di dalam keluarga Viona. Mama Santi dan Papa Arga sudah menganggap Leon seperti anak sendiri, buat mereka hitung - hitung ikut menjaga Viona putri tunggal mereka.


Sedangkan Leon hidup sendiri di Kota Y, ia tinggal di apartemen pembelian orangtuanya yang letaknya hanya sekitar 200 meter dari rumah Viona.


Leon berasal dari luar kota Y, tepatnya Kota B, termasuk keluarga berada, kedua orangtuanya pebisnis handal, karena kesibukannya hingga jarang meluangkan waktu untuk Leon dan adiknya Dimas. Sehingga secara materi Leon tak pernah kekurangan, namun secara kasih sayang ia tak mendapatkannya secara utuh. Leon memahami arti sebuah keluarga ketika mulai mengenal Viona.


Untuk itulah Leon enggan berpacaran dahulu, ia terlalu takut menyakiti wanita yang ia cintai, ia takut membuat kecewa. Leon berjanji pada dirinya sendiri untuk mencapai cita - citanya terlebih dahulu baru akan memikirkan kehidupan percintaannya.


Sebenarnya Leon sangat menyayangi Viona, namun karena idealisme itu membuat dia memutuskan untuk tidak mau mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu. Saat ini hubungan persahabatanlah yang tepat. Dengan Viona masih berada di sampingnya sudah membuatnya tenang dan bahagia.


Berbeda dengan Viona, yang namanya wanita butuh kejelasan status hubungan. Walaupun hidup di zaman modern, Viona tetap memegang prinsip kalau wanita tidak pantas mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu.

__ADS_1


Viona memilih menutupi perasaannya, sebenarnya ia juga merasakan perhatian Leon yang lebih ke dia dibanding teman wanita lainnya. Leon termasuk datar, cuek dan dingin dengan makhluk yang namanya wanita. Perlakuan spesial itu hanya dengan Viona, ia bisa bebas ngobrol dan bercanda.


Inilah kisah kehidupan Leon dan Viona berawal, setelah lulus SMA kemudian akan berganti dengan masa - masa kuliah menjadi mahasiswa sampai nanti mereka lulus sarjana. Apakah mereka akan berjodoh? Dan sampai dimana Leon akan mempertahankan status 'persahabatan' mereka?


__ADS_2