
"Giliran disuruh nemenin Aurora kamu baru noleh ke Mama, dasar bocah badung!" ucap mamanya gemas sambil mencubit hidung Leon.
"Sakit Ma... maaf ya mamaku sayang, tadi lagi fokus ngegamenya." balas Leon sambil memeluk mamanya.
"Ma, apa aku harus bareng dia pulangnya?sebenarnya aku masih ingin di sini, masih kangen Dimas juga. Memangnya naik apa Ma?" tanya Leon sambil melepaskan pelukan dan memandang mamanya.
"Katanya sih naik mobil diantar sopir. Jadi kamu lebih enak tidak perlu naik kereta." jelas Mama Audi.
"Argghhhh... tambah bikin pusing aja" protes Leon.
"Kenapa sih Leon, kamu benaran belum tertarik sama Aurora? kan cantik anaknya."
"Enggak Ma, Leon mau fokus kuliah dulu."
"Kata Papa kamu sudah punya pacar ya?" selidiknya.
"Rahasia Ma!"
"Kok gitu sih main rahasia sama Mama, kapan - kapan Mama mau bertemu seperti apa pujaan hatimu, sampai wanita yang cantiknya seperti Aurora kamu tolak."
"Udah ah Ma, Leon mau ke kamar mandi dulu." pamit Leon.
"Bentar Mama belum selesai bicara, nanti segera packing ya Leon, besok kamu dijemput jam 08:00. Dan satu lagi, sampai di sana carikan apartemen buat Aurora, kalau bisa yang satu gedung denganmu, biar kalian tambah dekat." jelas mamanya.
"Duh cobaan apalagi ini... sudahlah lihat besok ya Ma, ak mau kencing dulu."
Kemudian Leon meninggalkan mamanya ke kamar mandi, sebenarnya ia tidak mau kencing. Hanya ingin menghindari mamanya menanyakan tentang seperti apa wanita yang ia cintai.
Di dalam kamar mandi, Leon memandang wajahnya di depan cermin.
Pikirannya menerawang jauh, ia bingung alasan apa yang nanti ia katakan ketika bertemu Viona. Sedangkan ia pulang bersama Aurora. Yang Leon takutkan adalah sifat ceplas - ceplos Aurora. Kalau Viona mengetahui dahulu sebelum Leon menceritakan perjodohannya kan bisa runyam.
Mengingat Viona, Leon jadi merindukan senyum dan tawanya. Kelembutan sikapnya dan saat ia mencium Viona.
Leon jadi merasa seperti lelaki brengsek yang berani mencium wanita tanpa seizinnya padahal mereka belum ada ikatan apa - apa, baru sebatas bersahabat. Tapi kan Viona juga membalasnya, aku tidak salah dong.
Sudahlah bisa stress sendiri kalau memikirkannya. Jalani saja dulu.
**
Malam harinya, Leon mau menemani tidur Dimas, berhubung ini malam terakhir sebelum besok ia kembali ke Kota Y.
"Kak, kok cepet banget sih baliknya? kan masih liburan. Aku kesepian kalau tidak ada kakak."
__ADS_1
"Maaf ya dek, gara - gara idolamu itu tuh, kakak jadi pulang lebih cepat."
"Kak, aku kasih saran ya, kalau benci orang jangan kebangetan nanti malah bisa jatuh cinta lho!" goda Dimas.
"Ga bakalan Dimas, kakak sudah punya yang lebih segalanya." elak Leon.
"Ciee.. siapa kak? kenalin ke aku dong!"
"Kapan - kapan ya dek."
"Ahaaa.. aku punya ide!" teriak Dimas.
"Dek bikin kaget aja sih!"
"Liburan sekolahku kan masih lama, kalau aku ikut boleh tidak kak? kan nanti pulangnya aku bisa naik mobil bareng sopirnya Kak Rara."
"Cerdas juga adikku yang paling guanteng ini! yuk kita bilang Papa Mama." Leon langsung bangun dan menarik tangan Dimas untuk menemui kedua orangtuanya.
Kalau Dimas ikut kan Leon tidak berduaan saja dengan Aurora, ada adiknya yang menemaninya.
Mereka berdua melihat Papa Dirga dan Mama Audi sedang di ruang keluarga.
Dimas mendekati mamanya, "Mama.. kalau besok ak ikut Kak Leon boleh tidak? aku kan masih libur? tanyanya.
"Kalau mama sih boleh aja, gimana Mas boleh tidak?" tanya Mama Audi meminta pendapat suaminya.
"Makasih ya Papa Mama." ucap Dimas.
"Sama - sama dek. Sekarang Dimas packing dulu sana. Leon bantu adikmu. Besok biar tidak terburu - buru." titah mamanya.
"Siap! Yuk dek kita kembali ke kamar. Selamat malam papa dan mama!" jawab Leon, kemudian ia dan Dimas kembali ke kamar untuk mempersiapkan pakaian yang akan dibawa Dimas.
Leon sedikit bernafas lega, jadi ia tidak perlu menemani Aurora sendirian.
***
Keesokan harinya, Leon dan Dimas sudah siap di ruang tamu menunggu jemputan.
Tak berapa lama datanglah Aurora menjemput mereka.
Setelah berpamitan dengan Papa Dirga dan Mama Audi mereka berangkat.
Di dalam mobil, formasi duduk yang sudah diatur Mama Audi membuat Leon terjebak. Dimas duduk di depan dengan Pak Kurdi, sedangkan Leon di belakang dengan Aurora.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan yang banyak bicara adalah Dimas dan Aurora. Leon hanya sesekali menanggapi, ia sibuk dengan handphonenya.
Leon mengirim pesan ke Viona, mengabari kalau ia akan kembali ke Kota Y hari ini. Dan ia menjelaskan kalau bersama adiknya dan Aurora.
Sampai saat ini Leon belum berani bercerita apa yang sebenarnya terjadi. Niatnya untuk mengubah status sahabat jadi kekasih juga entah apakah akan berlanjut atau tidak.
Setelah perjalanan selama 12 jam sampailah mereka di apartemen Leon.
Untuk malam ini Aurora menginap di hotel, sedangkan Pak Kurdi dan Dimas di apartemen Leon.
Leon menghubungi Viona,
Viona : "Halo malam Lee, kamu sudah sampai?"
Leon : "Sudah tadi setengah jam lalu, aku langsung mandi terus telepon kamu Vio."
Viona : "Ya udah pasti capek kan, istirahat aja Lee."
Leon : "Iya nanti habis ini, kangen Vio.. besok ya aku ke rumahmu. Pengennya sekarang tapi udah malem."
Viona : "Besok aja Lee, kamu lebih baik istirahat aja. Salam ya buat adikmu!"
Leon : "Ya nanti aku sampaikan. Ya udah aku tutup dulu. Sampai jumpa besok ya!"
Viona : "Ya Lee, met istirahat."
Mendengar suara Viona meskipun hanya lewat telepon, sudah mampu menghilangkan rasa lelah dan galau hati Leon. Dan ia tak sadar tersenyum sendiri.
"Kak! senyum - senyum sendiri, awas ntar kesambet lho!" ucap Dimas yang mengamati sikan Leon sedari tadi. Kadang ia belum memahami sikap orang dewasa, ternyata efek jatuh cinta seperti itu ya.
"Ngagetin aja kamu dek! udah yuk kita tidur, Pak Kurdi udah mimpi tuh di sofa!" timpal Leon sambil melihat ke arah sofa. Berhubung apartemennya minimalis hanya ada 1 kamar, maka Pak Kurdi tidur di sofa ruang tamu.
"Namanya Kak Vio ya? hem.. hem.." goda Dimas dengan berdehem.
"Kamu nguping ya, wah bahaya ini!" ujar Leon dengan mengacak - acak rambut Dimas.
"Kenalin ya kak, kalau enggak aku laporin Papa Mama lho, eh udah kasih kabar belum kalau kita sudah sampai kak?"
"Kamu ya.. beraninya ancam kakak! iya besok ikut kakak, kita main ke rumahnya sekalian bawain oleh - oleh. Ya ini kakak mau sms Mama kalau kita sudah sampai."
"Hoaaamm.. iya kak, ngantuk nih, tidur yuk." ajak Dimas sembari menguap.
Leon mengiyakan ajakan adiknya, kemudian mereka istirahat di kamar Leon.
__ADS_1
bersambung...
makasih kakak2 sudah mampir dan baca karyaku!