
Leon mulai terbangun, "Aku dimana ini?"
Leon melihat sekeliling dan mulai mengenali kalau itu kamarnya. Ketika ia hendak bangun, ia merasakan kepalanya pusing.
"Ya ampun semalam aku mabuk. Tapi siapa yang membawaku pulang?"
Leon pelan - pelan beranjak keluar kamarnya, ia mencium aroma wangi masakan dari arah dapur.
"Lho.. kamu bro? jadi kamu yang bawa aku pulang?" tanya Leon kepada Abdi.
"Ya iyalah siapa lagi! bilang makasih dulu kek!" jawab Abdi sambil menyediakan nasi goreng dan teh hangat untuk mereka berdua.
"Maaf.. makasih Di. Tapi semalam Viona juga ada kan?" tanya Leon kembali.
"Ho..oh.. vionawan alias gua... hahaa" ledek Abdi.
"Jadi hanya halusinasiku?"
"Yoi.. udah sekarang kita sarapan aja dulu. Supaya pengar mabukmu ilang dulu." saran Abdi.
Akhirnya keduanya asyik menikmati sarapan mereka. Abdi mengamati sikap Leon yang nampak murung, rambutnya juga mulai panjang, kumis tipis mulai tumbuh. Tidak seperti biasanya Leon yang selalu berpenampilan rapi.
"Kenapa kamu sampai mabuk?" tanya Abdi.
"Entahlah.. tiba - tiba saja aku ingin minum. Melepaskan semua beban masalahku." kata Leon jujur.
"Jadi kamu sudah tau Viona jalan sama Adrian?"
"Iya.. aku kecewa sekali bro.. tak kusangka secepat itu Viona melupakanku." jelas Leon.
"Sudahlah.. kamu juga harus move on Leon! Toh Viona sudah pergi dari kehidupanmu. Kamu tidak ingin berusaha mencintai Aurora?" tanya Abdi.
"Heii broo.. aku tau kamu mencintainya kan? Silahkan saja kamu coba dapatkan hatinya, sepertinya lama kelamaan Aurora juga bakalan muak denganku!"
"Aku tidak mau memaksakan diri. Biarkanlah Aurora yang menyadari sendiri siapa yang sebenarnya mencintainya." kata Abdi bijak.
"Tunggu.. aku ada ide. Nanti deh aku coba bicara sama dia. Tidak mungkin kan kami melanjutkan perjodohan tanpa ada rasa cinta?"
"Terserah kamu. Tapi ingat, aku tidak mau kamu jadi anak durhaka. Oke!" pinta Abdi.
"Siap!" jawab Leon singkat.
**
Siang ini di dalam perpustakaan kampus fakultas pertanian. Viona nampak sedang sibuk mencari buku. Ia kesulitan mengambil sebuah buku yang berada di rak paling atas. Tiba - tiba ada seseorang dari belakangnya yang mengambilkan buku tersebut.
Viona kemudian menoleh, "Leon?"
"Hai cantik! inikah buku yang mau kau ambil?" goda Leon.
"Eh iya. Makasih." ucap Viona dengan cepatnya ia ambil buku tersebut dan segera hendak pergi, namun telat Leon memegang lengan kirinya.
"Leon tolong lepaskan." pinta Viona lirih, ia tak mau sampai membuat keributan di perpustakaan.
Tapi Leon tidak menuruti kemauan Viona, ia malah mendekat, jarak tubuh mereka hanya sekitar 10 cm.
Deg.. deg.. deg..
Suara gemuruh jantung Viona berdetak lebih cepat. Ia memutuskan menepis tangan Leon dan segera pergi dari situ.
Leon hanya menatap kecewa, ternyata sebegitukah bencinya Viona terhadapnya.
Viona segera meminjam buku tersebut dan keluar dari perpustakaan, ia menuju toilet untuk menenangkan dirinya.
Viona memandang kaca di atas wastafel, 'Ya Tuhan kenapa aku masih mencintainya?' batinnya.
__ADS_1
Andai itu bukan di kampus mungkin saat ini Viona sudah menangis. Namun ia masih ada 1 mata kuliah lagi, jadi ia memutuskan untuk menguatkan hatinya.
Dari kejauhan Adrian melihat Viona yang keluar terburu - buru dari perpustakaan. Kemudian ia mencoba menyusul Viona, dan menunggu Viona keluar dari toilet.
"Viona." sapa Adrian menyambut Viona yang keluar dari toilet putri.
"Eh kak Adri.. kok bisa ada di sini?"
"Tadi aku liat kamu keluar perpustakaan, sudah makan belum?" jelas Adrian.
"Belum." jawab Viona.
"Yuk kita ke kantin!" ajak Adrian.
Mereka berdua beriringan berjalan menuju di kantin. Ternyata di sana ada David dan Citra.
"Hai sini Vio! gabung sama kita!" ucap Citra sambil melambaikan tangan ke arah Viona dan Adrian.
Akhirnya mereka berempat makan bersama di kantin.
Leon juga menuju ke kantin, namun ketika ia melihat Viona di sana dengan Adrian, maka ia mengurungkan niatnya. Ia meninggalkan kantin dan menuju rumah Abdi.
Untung saja Abdi ada di rumah. Mereka berbincang di teras belakang rumah.
"Di ntar malam kamu ada acara tidak?" tanya Leon.
"Belum sih.. kenapa? mau kemana?" Abdi kembali bertanya.
"Temenin aku minum!" pinta Leon.
"Leon apa - apaan sih kamu! Semalam saja kamu sudah mabuk, sekarang mau lagi! ingat Leon kamu boleh patah hati tapi jangan kayak gini dong!" larang Abdi.
"Woiii... kalem brooo.. cerewet banget sih kayak emak - emak aja!" ledek Leon.
"Habisnya kamu begitu! mana Leon yang dulu bisa cuek sama yang namanya wanita? Kehilangan satu aja bisa bikin kamu kayak gini!" ledek Abdi tak kalah sengit.
"Gila kamu Leon! arghhh!"
Dan benar malamnya Leon sudah menjemput Abdi jam 8 malam.
Abdi sebenarnya enggan menemani Leon, namun bagaimana lagi kalau tidak ditemani nanti malah tambah parah.
Mereka sudah sampai di Bar Modisto.
"Janji dulu Leon, kamu hanya minum dikit aja! Ga boleh sampai mabuk!" pinta Abdi sesaat sebelum Leon memesan minuman.
"Duh mamaku cerewet banget ya!" ledek Leon.
"Enak aja emang gue cowok apaan.. hahaha!"
Leon tampak minum segelas, ketika ia hendak menambah lagi ditahan oleh Abdi.
"Cukup Leon! kita pulang!" larang Abdi.
"Bentar Di, aku ke panggung dulu ya. Kayaknya pengen nyanyi nih."
Leon sudah mulai mabuk, namun masih sadar. Ia meminta menyanyikan sebuah lagu kepada salah satu personel band. Dan akhirnya Leon menyanyikan lagu pilihannya yang bertema patah hati.
Abdi sengaja mengabadikan momen tersebut dengan kamera handphonenya. Ternyata jiwa narsis Leon muncul saat kondisi mabuk seperti itu. Leon yang biasanya cuek berbeda sekali saat mabuk.
Selesai menyanyikan sebuah lagu Leon kembali ke tempat Abdi berada.
"Kamu lucu juga ya, kalau patah hati bisa kayak gini hehehe.."
"Seneng ya liat teman sengsara!" umpat Leon.
__ADS_1
"Bukan.. sensitif amat sih broo! udah pulang yuk!"
"Bentar Di, satu jam lagi ya, aku masih ingin di sini."
"Beneran ya 1 jam lagi!"
Setelah satu jam Leon sudah meracau tidak jelas.
Abdi sengaja mengirimkan foto saat Leon mabuk ke nomor kontak Viona.
Ting..
Nada notifikasi masuk handphone Viona.
Viona membuka pesan masuk, yang ternyata dari Abdi.
"Oh My God.. kenapa Leon seperti ini?" reflex Viona menjerit.
Kemudian Viona segera menelepon Abdi.
"Halo Vio." jawab Abdi.
"Halo Di. Kamu sekarang dengan Leon?"
"Iya. Ternyata kamu masih peduli dengannya ya?" ledek Abdi.
"Jawab dulu Di? Leon di mana?"
"Ini sama aku, lagi mabuk dia." jawab Abdi.
"Bawa dia pulang Di, please.." pinta Viona.
"Iya aku tau. ini aku mau pulang. Kalau kamu masih peduli dengan Leon susul kami ke apartemennya."
"Makasih Di" kata Viona.
Viona menutup teleponnya, ia bergegas berganti baju dan memakai jaket. Kemudian ia pamit kepada mamanya, dengan alasan Citra lagi butuh bantuan. Viona terpaksa berbohong, entah mengapa ia begitu nekat menyusul Leon dan Abdi.
Viona sudah sampai terlebih dahulu di depan kamar apartemen Leon. Tak lama Abdi muncul dengan memapah Leon. Viona membantu Andi untuk memapah Leon masuk ke kamarnya.
"Kok jadi ada dua orang di sini? kamu Viona ya?" racau Leon.
Abdi dan Viona mengabaikan racauan Leon. Mereka membaringkan Leon di kasurnya. Viona membantu melepas sepatu Leon sedang Abdi mengganti kaosnya.
Setelah selesai keduanya keluar dari ruang tidur Leon.
"Vio.. udah malam, aku antar kamu pulang ya." ucap Abdi bijak.
"Leon ditinggal sendiri ga pa - pa?" tanya Viona khawatir.
"Ternyata kamu masih khawatir sama Leon ya. Sepertinya kamu pura - pura kan pacaran dengan Adrian?" selidik Abdi.
"Please Di jangan ngomong sembarangan. Aku peduli sebagai teman saja." elak Viona.
"Oke kalau sekedar teman, sekarang kita pulang. Biarkan calon istrinya saja yang menunggu Leon. Sebentar lagi Aurora akan datang menemaninya." ucap Abdi berbohong, ia sengaja membuat Viona cemburu.
"Apa? ah ya sudahlah ayuk kita pulang!" kata Viona, ia menyadari tidak punya hak lagi dengan kehidupan Leon.
Tiba - tiba terdengar suara racauan dari kamar tidur Leon: "Viona... Viona sayang.. jangan tinggalkan aku sayang!"
Reflex Viona menoleh ke arah Leon, hatinya terasa pilu melihat kondisi Leon. Ia tak menyangka Leon akan seterpuruk ini.
Viona bimbang harus bagaimana..
"Di, kamu pulang aja, aku di sini. Tolong hubungi Aurora jangan ke sini!"
__ADS_1
bersambung...
makasih kakak2 yang sudah mau membaca karyaku...