
"Kak Adrian?"
"Viona"
"Eh maaf kak aku buru - buru." ucap Viona, kemudian ia mau beranjak pergi.
Namun Adrian menahannya, "Ada apa Viona.. kenapa kamu menangis?"
"Maaf kak. Aku harus pergi." jawab Viona menghindari pertanyaan Adrian.
"Aku antar kamu pulang, kamu tidak mungkin pulang dalam keadaan seperti ini kan?" kata Adrian.
"Aku tidak apa - apa kak, nanti aku naik ojek saja." tolak Viona.
"Aku antar, Oke!" rayu Adrian.
"Ya sudahlah." ucap Viona pasrah, karena ia juga merasa lemas karena pergumulan emosinya.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju parkiran motor. Dan segera beranjak pergi dari danau itu. Dari kejauhan Leon mencari keberadaan Viona, dan ia melihat Viona sudah pergi dengan seorang lelaki naik motor.
Leon tidak mengetahui siapa lelaki itu karena memakai helm. Ia berpikir mungkin Viona naik ojek.
Kembali ke Adrian dan Viona, saat ditengah perjalanan rintik hujan mulai turun. Adrian tidak membawa jas hujan. Ia mengajak Viona untuk berteduh di sebuah warung bakso yang tak sengaja mereka lewati.
Mereka memesan dua mangkuk bakso dan 2 gelas jeruk hangat.
"Pas banget ya, pas hujan ada warung bakso." kata Adrian berusaha bercanda supaya mereka tidak canggung.
"Iya ya kak." balas Viona sambil berusaha tersenyum, namun senyum itu tidak bisa menutupi matanya yang sudah sembab.
Adrian menduga pasti Viona sedang berantem dengan Leon.
"Maaf tadi kamu di danau dengan siapa? kenapa kamu berlari sambil menangis?" tanya Adrian beruntun.
"Dengan Leon." jawab Viona singkat.
"Maaf aku tidak memaksa kamu menjawab pertanyaanku, jika kamu tidak mau menceritakan apa yang terjadi tidak apa - apa kok." ralat Adrian.
"Ga pa - pa kak, untung tadi ketemu kakak.. Sebenarnya tadi sudah lemes ga kuat lagi. Makasih ya kak." ucap Viona.
"Sama - sama. Lain kali kalau butuh bantuan telepon saja aku." tawar Adrian.
"Eh.. aku tidak mau merepotkanmu kak." tolak Viona.
"Tidak repot kok kalau untukmu Viona!" kata Adrian serius sambil menatap langsung kedua mata Viona.
Viona kemudian menunduk setelah ditatap Adrian seperti itu. 'Hadehh satu masalah belum selesai ini nambah lagi masalah yang lain,' batinnya.
Setelah hujan reda mereka melanjutkan perjalanan. Adrian mengantar sampai ke rumah Viona.
**
__ADS_1
Sejak saat itu Adrian mulai terang - terangan menunjukkan perhatian kepada Viona.
Awalnya Viona menghindar, namun ia membiarkannya toh selama Adrian tidak bersikap kurangajar dengannya maka tidak masalah.
Leon mengetahui hal itu, tapi ia tidak bisa berbuat apa - apa. Viona menghindarinya dan sudah memblokir nomor teleponnya. Apa ada daya semua karena kesalahannya, andai saja ia jujur dengan Viona mungkin tidak akan separah sekarang.
Leon mencoba segala cara untuk meraih kembali Viona. Ia meminta tolong Citra untuk membantunya. Leon menuju rumah Citra.
"Cit, tolong ya bantu aku, please.." pinta Leon penuh harap.
"Aku akan bantu Leon, tapi aku tidak bisa janji akan berhasil. Kamu tau sendiri sifat Viona bagaimana kalau sudah sakit hati." jawab Citra.
"Iya ga pa - pa.. yang penting usaha dulu. Terimakasih sebelumnya ya Cit." balas Leon.
"Sama - sama Leon." ujar Citra.
"Ya udah aku pamit pulang dulu ya." pamit Leon.
"Ya, ati - ati Leon!" ucap Citra.
Citra mengantar Leon sampai pintu depan rumahnya.
Citra ikut sedih dengan kandasnya hubungan Leon dan Viona. Apalagi ternyata Leon membohongi Viona kalau ia telah dijodohkan dengan Aurora.
Citra tak menyangka kalau Leon akan setega itu membohongi Viona. Padahal mereka sering pergi bersama dengan Aurora juga.
"Ahaaa.. aku ingat, ya Abdi. Aku harus menanyakan sesuatu dengannya. Apalagi setauku Abdi sering jalan dengan Aurora." ucap Citra bermonolog sendiri di kamarnya.
Abdi telah sampai terlebih dahulu di coffe shop itu, ia melambaikan tangannya saat melihat Citra datang.
Citra menghampirinya, "Hai Di.. apa kabar? lama ya kita tak jumpo!" sambil melakukan 'hi five' dengan Abdi.
"Kabarku baik cantik!" jawab Abdi sambil mengerlingkan mata satu.
"Apaan sih kamu! Dasar playboy cap kelinci hahaha" ledek Citra.
"Dasar kamu ya.. dibilang cantik ga mau, jarang lho seorang Abdi memuji wanita!" goda Abdi.
"Jarang sekali tapi sering.. itung tuh mantan udah berapa wek!" ledek Citra kembali.
"Udah ah jangan bahas mantan, aku lagi berusaha fokus satu wanita nih!" elak Abdi.
"Bentar sebelum kamu malahan curhat. Kita bahas dulu masalah yang mau aku omongin." kata Citra.
"Tau aja kamu Cit hahaha.. oke ada apa? kamu lagi patah hati?" tanya Abdi beruntun.
"Ngawur...! ini tentang Viona dan Leon. Kamu udah tau belum kalau mereka putus?" jelas Citra.
"Owh soal itu. Udah deh Cit, kita tidak usah ikut campur." saran Abdi.
"Begini, tadi Leon minta tolong sama aku. Buat bantuin meyakinkan Viona untuk menerima dia kembali. Sebenarnya aku juga kecewa kenapa Leon sampai tega berbohong sama Viona, yaitu tentang perjodohannya dengan Aurora. Bentar.. bentar... aku agak curiga sama kamu, bukannya kamu lagi pendekatan sama Aurora, jangan - jangan kamu tau ya?" jelas Citra panjang lebar.
__ADS_1
"Eh... enggak Cit.." elak Abdi gugup.
"Jangan bohong kamu!" tuduh Citra.
"Enggak bohong, begini sebenarnya aku udah tau" jelas Abdi sambil menundukkan kepalanya, karena sebentar lagi pasti akan ada bom meledak.
"What! kamu kok tega sih" teriak Citra kencang, yang membuat para pengunjung cafe menoleh ke arah mereka.
"Sstttt jangan kencang - kencang! liat tuh pada nengok ke kita, malu" kata Abdi.
"Habis kamu ya..!" ucap Citra sambil menatap tajam Abdi.
"Bukan gitu Citra.. aku memang mengetahuinya, namun Leon tidak mencintai Aurora. Jadi ga ada salahnya kan kalau aku masih berharap Aurora bisa jadi milikku?" jelas Abdi.
"Iya juga sih. Tapi Aurora kenapa masih bertahan sih, padahal jelas dia tidak dianggap sama Leon." kata Citra.
"Aurora mencintai Leon." ujar Abdi.
"Rumit juga ya? terus mana kekuatan playboy kamu Di? kenapa belum berhasil? hahaha " ledek Citra.
"Ada aja istilahmu Citra! justru kalau aku jatuh cinta beneran malah tidak sekuat dan seberani itu. Tapi aku yakin suatu saat Aurora pasti menyadari siapa yang sebenarnya mencintainya." jelas Abdi.
"Terus ini bagaimana Di solusinya? aku juga bingung." ucap Citra jujur.
"Ya sudah kamu coba yakinkan Viona saja dulu. Sapa tau bisa luluh setelah kamu jelaskan kondisi Leon." saran Abdi.
"Baiklah akan kucoba besok. Mudah - mudahan Viona masih mau memaafkan dan membuka hatinya untuk Leon kembali." kata Citra pada akhirnya.
"Semangat Citra!"
"Halah kamu ada maunya juga! Udah ah aku pulang dulu." balas Citra.
"Aku anter Cit. Udah malam. Kamu naik apa tadi?"
"Oke makasih ya Di! kebetulan tadi aku diantar seseorang"
"Sama - sama. Siapa tuh?" goda Abdi.
"Ada deh!"
"Tuh kan main rahasiaan ma aku, siapa Cit?"
Citra hanya tersenyum penuh arti, ia segera menarik tangan Abdi untuk segera keluar dari coffe shop itu.
"Citra.. tunggu.. siapa sih?" tanya Abdi oenasaran.
"Udah ah.. ayo pulang!" jawab Citra.
bersambung...
maaf ya author lama ga update..
__ADS_1