
"Cukup Leon jangan!" larang Viona.
Leon awalnya tidak mau mendengar, namun melihat wajah Viona mulai mengeluarkan air matanya ia tersadar.
"Maaf Vio.."
Leon menyadari perbuatannya sudah terlalu jauh, ia mengambilkan kaos Viona. Kemudian ia memakai kaosnya juga.
"Sekali lagi aku minta maaf Vio." ucap Leon lirih sambil menyentuh kepala Viona kemudian meninggalkan kamar Viona.
Viona masih menangis dengan menutupi tubuh bagian atasnya dengan selimut.
Ia juga merasa bodoh, kenapa membalasnya. Ini bukan kesalahan Leon juga, sejak awal Leon menciumnya seharusnya ia cepat menghentikannya.
Di dalam kamarnya, Leon merutuki dirinya sendiri: 'Kenapa kamu tidak bisa menahan dirimu Leon! hubungan kalian baru dimulai, arrgghhh... semoga Viona memaafkanku.'
**
Keesokan harinya mereka bertiga sedang menyantap sarapan. Nampak suasana hening. Tante Mia memperhatikan ada apa dengan keduanya. Padahal semalam mereka baik - baik saja.
"Hem.. hemm.. kok diam semua?" ucap Tante Mia memecah keheningan.
"Eh apa Tante?" jawab Viona gugup.
Leon hanya tersenyum dan melanjutkan makannya, ia tidak berani menatap ke arah Viona.
"Kalian kenapa kok pada diem aja? Viona pulang bareng Leon hari ini?" tanya Tante Mia beruntun.
"Enggak ada apa - apa Tante. Vio pulang besok aja, kan masih libur." jawab Viona, ia sengaja menghindari Leon karena masih malu dengan kejadian semalam.
"Bareng aku aja sekalian Vio, kan lebih enak kamu tidak perlu merepotkan tante mengantarmu pulang. Benar kan Tante?" ucap Leon tiba - tiba.
"Iya benar kata Leon. Tante baru ingat besok ada rapat di luar kota. Kasian kamu kalau di rumah sendiri." kata Tante Mia, karena ia paham sebenarnya Leonlah yang sudah membuat galau keponakannya. Ia ingin memberi kesempatan keduanya bersama.
"Ya sudahlah. Aku packing dulu ya Lee." balas Viona kemudian bangkit berdiri menuju kamarnya untuk packing.
Beberapa menit kemudian Viona sudah nampak siap. Leon menyambutnya dan membawakan tasnya.
Mereka berdua berpamitan dengan Tante Mia.
Dalam perjalanan keduanya masih diam dengan pikiran masing - masing.
Leon melihat pemandangan yang indah di kiri kanan jalan. Semalam tidak terlihat karena sudah gelap.
Leon mengajak Viona berhenti sejenak untuk menikmati pemandangan. Mereka berhenti pas di pinggir gubuk kosong.
Leon merentangkan tangannya kemudian menghembuskan nafasnya merasakan sejuknya udara.
__ADS_1
Rumah Tante Mia memang terletak di lereng bukit sebelum arah Kota K.
Leon mendekati Vio yang sedang duduk di gubuk.
"Vio, kamu masih marah sama aku?"
Viona memandang wajah tampan Leon, ia tak akan pernah bisa membencinya.
"Enggak kok." jawab Viona singkat.
"Senyum dong, dari tadi kamu diam saja. Aku takut kalau kamu hanya diam. Kalau mau marah mending kamu maki - maki saja aku, jangan diam." rayu Leon.
"Lee, aku tidak marah. Aku hanya malu saja." balas Viona sambil menundukkan wajahnya.
"Hei kenapa kamu malu? Kita saling mencintai kan? jadi tidak perlu malu. Soal semalam aku yang salah, harusnya aku tidak masuk kamarmu. Maaf ya Vio." ucap Leon lirih sambil memandang wajah cantik yang sekarang menjadi 'kekasih rahasianya.'
"Aku juga salah Lee.. harusnya aku menahanmu. Tapi ya sudah mau bagaimana sudah terjadi. Aku harap tidak akan terulang kembali." ucap Viona bijak.
Leon menggenggam tangan kekasihnya.
"Vio lihat aku, aku berusaha untuk tidak kelewatan lagi, mulai saat ini kita jalani hari kita bersama, dan tolong jika nanti ada masalah kita saling terbuka dan aku harap kamu jangan percaya omongan orang lain kalau bukan dari aku langsung." kata Leon meyakinkan Viona.
Viona menganggukkan kepalanya. Mereka mulai melanjutkan perjalanan.
Leon meminta Viona memeluk pinggangnya saat memboncengnya.
Selama perjalanan satu jam lamanya mereka tempuh akhirnya tiba di rumah Viona.
***
Di apartemen 'SAKURA' tampak Aurora sedang menikmati sarapan dengan Dimas.
Aurora mengetahui tak sengaja kalau Leon tidak pulang semalam. Saat ia sengaja mengantarkan sarapan berupa nasi goreng seafood hasil masakannya, ternyata Dimas sendirian.
Dimas menceritakan apa adanya kenapa Leon tidak pulang dan menginap bersama Viona di rumah tantenya Viona.
Sebenarnya Dimas kasihan melihat Aurora, andai saja usianya sudah dewasa mungkin ia akan memeluk dan menghibur Aurora.
"Maafkan Kak Leon ya Kak Rara." pinta Dimas tulus.
"Kenapa malahan kamu yang minta maaf Dim? Leon yang menyakitiku bukan kamu." balas Aurora terharu.
"Aku kasihan saja liat Kak Rara, kakak cantik pasti masih banyak lelaki yang mau. Kenapa kakak malah menunggu sesuatu hal yang belum pasti." kata Dimas mencoba menghibur Aurora.
"Tapi kakak hanya mencintai Leon. Hemm.. kamu ternyata kasihan ya sama aku. Andai Leon seperti kamu Dim, dan dia mau membuka hatinya untukku." ucap Aurora pasrah.
"Sudahlah kak, aku sebenarnya tidak ingin membela siapapun. Ini semua demi kebaikan Kak Rara, karena hanya kakak kunci semua disini." timpal Dimas.
__ADS_1
Aurora hanya diam memikirkan ucapan Dimas, yang memang benar adanya kata - kata Dimas. Ia tak menyangka ternyata anak seumuran Dimas bisa bersikap dewasa.
"Kakak akan pikirkan Dim, untuk sementara biarkan seperti ini. Toh rencana pernikahan kami masih lama. Aku juga lihat Viona wanita yang baik dan pantas buat Leon. Siapa tau juga nanti aku bisa jatuh cinta dengan lelaki lain." jelas Aurora.
"Makasih kak, aku tau Kak Rara wanita berhati wonder woman hehehe..." ucap Dimas yang membuat Aurora tertawa.
"Hahaha.. Bisa aja kamu Dim!" balas Aurora.
Mendadak handphone Aurora berdering, nampak nama Abdi memanggil. Kemudian Aurora mengangkatnya.
Aurora : "Halo Di!"
Abdi : "Halo cantik, lagi apa nih?"
Aurora : "Sarapan bareng Dimas."
Abdi : "Ya, Leon kemana?"
Aurora : "Leon lagi sama pacarnya." (nada bicaranya terdengar getir menahan sakit hati)
Abdi : "Kamu cemburu ya? Ga usah cemburu sama mereka. Kita jalan bareng aja yuk!"
Aurora : "Oke. Aku ajak Dimas ya?"
Abdi : "Jangan kita berdua aja ya. Kalau ajak Dimas kamu harus minta izin Leon dulu kan? ribet urusannya."
Aurora : "Baiklah. Nanti jam 10 jemput aku. Oke?"
Abdi : "Siap tuan putri!"
Sambungan telepon terputus.
"Dari siapa kak?" tanya Dimas.
"Abdi, dia ngajak kakak jalan, kalau kamu di sini sendirian ga pa - pa kan?" ujar Aurora.
"Santai aja kak. Paling sebentar lagi Kak Leon pulang kok." jawab Dimas.
"Oke, aku tinggal dulu ya. Bye Dimas!" kata Aurora sambil berdiri dan membawa piring - piring kotor.
Namun Dimas melarangnya, "Kak biarin nanti aku aja yang cuci piringnya. Kakak berangkat saja!"
"Oh ya sudah. Aku berangkat ya Dim. Bye!" pamit Aurora lagi.
"Bye! Hati - hati kak!" balas Dimas.
Sepeninggal Aurora, Dimas membereskan bekas sarapan dan mencuci piring.
__ADS_1
Dimas hanya bisa mendoakan semoga kakaknya Leon mendapatkan jodoh yang terbaik.
bersambung...