
Ting Tong...
Terdengar bunyi bel apartemen Leon. Namun Leon tidak menggubrisnya.
Ting tong...
"Leon cukup. Ada tamu!" kata Viona.
"Arghhhh.. siapa sih mengganggu saja!" ucap Leon kesal.
"Sudah sana buka pintunya!" titah Viona.
Leon segera keluar kamar dan membuka pintu depan.
"Aurora?" ucap Leon terkejut, karena tidak menyangka sepagi ini Aurora bakalan datang.
"Iya kenapa? kayak liat hantu aja! ini aku bawakan bubur buatmu. Kata Abdi kamu mabuk semalam." jawab Aurora kesal.
Tanpa dipersilahkan Aurora menerobos masuk ke dalam. Ia mengernyitkan dahinya, karena melihat ada tas, jaket dan sepatu wanita di ruang tamu.
"Oh.. awas kamu Abdi!" ucap Leon dalam hatinya, ia kesal pada sahabatnya itu, kenapa dua - duanya dihubungi.
Aurora mencoba tidak memperdulikan apa yang ia lihat. Kemudian ia berjalan menuju meja makan.
"Siapa yang datang Lee?" tanya Viona sambil berjalan keluar dari kamar Leon.
"Viona?" ucap Aurora terkejut.
Prangg... mangkuk yang dibawa Aurora terjatuh, untung saja ia reflex menghindar sehingga tidak terkena pecahan mangkuk.
Kemudian Leon menyuruh Aurora untuk duduk di sofa saja.
"Sudah tidak usah dibersihkan dulu, kita duduk di sofa ruang tamu saja."
Leon menggandeng tangan Viona untuk menyusul Aurora. Setelah mereka bertiga duduk.
"Sepertinya tidak perlu aku jelaskan apapun Ra, kamu sudah lihat sendiri." kata Leon.
Aurora sudah menangis, ia tak percaya kalau Leon bakal senekat ini, "Tapi kenapa Leon? kalian setega ini padaku?" tanyanya.
"Rara.. aku minta maaf!" kata Viona.
"Sayang kamu tidak perlu minta maaf, tidak ada yang salah. Sudah sejak awal kan kamu tau Ra, aku menolak perjodohan kita, tapi kamu yang keras kepala." tegas Leon.
"Tapi kamu janji sama papamu Leon!" ujar Aurora tidak mau kalah.
"Maaf, aku sudah berusaha melupakan Viona, tapi cintaku bukan untukmu Ra, lebih baik kamu cari laki - laki lain yang bisa mencintaimu dengan tulus." jelas Leon.
Viona berdiri hendak mendekati Aurora, "Rara.."
"Jangan mendekat!" tolak Aurora, tak sengaja ia menoleh ke arah Viona dan melihat lehernya banyak tanda kemerahan. Ia semakin menangis dalam hati, Leon terlalu sulit ia gapai.
"Viona, aku kira kamu wanita baik - baik. Ternyata tak kusangka kamu murahan juga!" ucap Aurora sinis.
__ADS_1
"Jaga ucapanmu Ra! Kamu keterlaluan! Viona milikku, hanya milikku jadi kamu tidak berhak menilai dia! Lebih baik kamu pergi sekarang! Terserah kalau mau kamu laporkan silahkan!" kata Leon yang telah tersulut emosinya, ia berdiri mempersilahkan Aurora keluar.
"Baiklah kalau ini maumu Leon, kita lihat saja nanti!" ancam Aurora.
Brakkk...
Aurora membanting keras pintu apartemen Leon. Ia tak kuasa menahan tangisnya dan berlari menuju kamarnya.
Kembali ke Viona dan Leon.
"Lee.. bagaimana ini?" tanya Viona sambil terisak.
"Jangan nangis sayang, kamu percayakan sama aku, aku akan bertanggungjawab dengan apa yang telah kita lakukan. Asal kamu tetap di sampingku, dan segera putuskan Adrian!"
"Iya.. kasih aku waktu, tidak mungkin kan mendadak putus sedang kami tidak ada masalah."
"Please Vio jangan sebut kata 'kami', sakit hatiku!" pinta Leon.
"Maaf Lee... aku janji apapun halangannya kita lalui bersama."
"Siap sayangku!" janji Leon sambil mengecup dahi Viona dengan lembut.
"Sebenarnya kalau kamu tadi tidak menghentikannya akan lebih cepat selesai masalahnya.. hehee.." goda Leon.
"Leon! masih bisa kamu bercanda ya! enggak aku mau selesai kuliah dulu baru menikah dan punya anak!" tolak Viona.
"Iya sayangku..." ucap Leon gemas sambil mencubit lembut pipi Viona.
"Lee.. aku pulang dulu ya. Anterin aku ke rumah Citra." ujar Viona.
"Semalam aku pamit ke Mama kalau nginep di rumah Citra. Jadi nanti Citra yang bakalan anter aku pulang." jelas Viona.
"Wah.. wah.. licik juga kamu sayang, tapi apa kamu yakin mau pulang sekarang?"
"Emangnya kenapa?" tanya Viona kebingungan.
"Liat dulu di kaca, terus liat cara jalanmu hehehe.."
Viona baru menyadari ketika ia jalan merasakan perih di bagian bawahnya.
Ketika ia sedang berdiri di depan kaca, ia melihat bekas tanda cinta dari Leon di lehernya.
"Leooonnn!" teriak Viona.
Leon hanya tertawa melihat tingkah wanita yang sangat ia cintai itu.
Untung semalam Viona memakai jaket yang ada tudung kepalanya. Jadi ia masih bisa menyembunyikan bekas tanda merah tadi.
Tak berapa lama sampailah Leon dan Viona di rumah Citra.
"hmm.. hmmm.. wah ada yang CLBK nih!" ledek Citra.
"Apaan sih!" balas Viona tersipu malu.
__ADS_1
"Iya nih Cit.. bukan CLBK tapi CLBU alias Cinta Lama Belum Usai hehehe.."
"Bisa aja kamu Leon. Langsung semangat ya, jangan - jangan semalam terjadi hal - hal yang diinginkan ya?" tebak Citra asal.
"Huk.. huk.. huk..." Viona terbatuk.
"Minum dulu Vio.. kamu apain dia Leon? sampai Viona batuk gini hahaha..." goda Citra lagi.
"Udah ah.. aku pulang dulu, nitip Viona ya. Pokoknya antar sampai rumahnya dengan selamat dan ga boleh lecet sedikitpun!" titah Leon.
"Yang ada kamu yang bikin lecet dia Leon!" ledek Citra ga habis - habisnya.
"Sudah.. sudah.. sana Leon pulang dulu. Udah mulai siang nih, nanti mamaku khawatir." ucap Viona menengahi.
"Ya. Aku pamit dulu ya sayang, makasih ya Citra, kamu the best pokoknya!" pamit Leon.
Leon kemudian pulang. Tinggallah mereka berdua.
"Cerita dong, kok bisa kamu menginap di apartemen Leon?" tanya Citra penasaran.
"Oh itu. Semalam Leon mabuk di bar, terus Abdi hubungi aku. Ya gitulah aku ga tega ninggalin Leon karena Abdi mengancam akan memanggil Aurora buat menemani Leon. Jadi aku memilih menemani Leon. Dan parahnya tadi pagi Aurora datang ke apartemen Leon, jadi ia tau aku menginap di sana." jelas Viona.
"Wah taktik Abdi jitu juga ya. Ya mau gimana lagi pasti Aurora kecewa. Eh bentar.. kamu ga gerah itu pakai jaket rapat amat!" ledek Citra.
"Eh.. enggak kok, kaosku tipis jadi tidak panas." jawab Viona gugup.
Melihat Viona gugup, Citra semakin curiga, ia mencoba membuka resleting jaket Viona.
"Citra.. kamu mau ngapain sih? reseh deh!" ucap Viona menghindari tingkah Citra.
"Kalau ga terjadi apa - apa kenapa kamu gugup Vio.. kamu tuh lucu kalau ketahuan bohong hehehe.." goda Citra.
"Ah apaan sih.. udah yuk antar aku pulang!"
"Sebentar, jawab dulu pertanyaanku, semalam kalian ga tidur bareng kan? satu lagi, terus gimana hubunganmu dengan Kak Adrian?" tanya Citra penasaran.
"Duh susah banget ya pertanyaannya, lain kali aja aku cerita ya. Aku capek Citra.. pengen cepat mandi dan tidur."
"Hahhh.. daritadi belum mandi? untung cantik ya jadi ga keliatan, jadi kalian kembali bersama?" Citra masih tetap penasaran.
"Iya, aku tidak mau membohongi perasaanku lagi Cit. Walaupun nanti akan banyak rintangan. Kami sepakat akan menghadapi bersama."
"Ya syukurlah kalau begitu. Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik buat kalian. Sedih kalau liat kalian kemarin. PR.mu Kak Adrian lho!" saran Citra.
"Nah itu dia Citra.. pusing aku, Leon kasih waktu satu minggu buat aku putuskan Kak Adri. Kalau enggak dia yang akan bilang langsung." jelas Viona.
"Sudah konsekuennya Vio, harus dihadapi!"
"Jujur aku tidak mau menyakitinya, tapi bagaimana lagi kami telah berjanji untuk saling memiliki." ucap Viona.
"Maksudnya?" tanya Citra kebingungan.
bersambung...
__ADS_1
mohon maaf bab ini author edit kembali.