Cinta Lama Belum Usai

Cinta Lama Belum Usai
Dua Hati Yang Terluka


__ADS_3

"Jujur aku tidak mau menyakitinya, tapi bagaimana lagi kami telah berjanji untuk saling memiliki." ucap Viona.


"Maksudnya?" tanya Citra kebingungan.


"Eh maksudku, akhirnya aku menyadari kalau aku hanya mencintai Leon." elak Viona.


"Oh... yakin semalam tidak terjadi apa - apa? itu kok ada merah - merah di lehermu?" selidik Citra pantang menyerah.


Reflex Viona berdiri menuju cermin yang ada di sudut ruang tamu. Ia mengecek apakah kelihatan tanda cinta dari Leon. Dan ternyata Citra hanya menjahilinya.


"Hahaha polos banget sih kamu Vio. Kena kan! udah ngaku aja ga usah bohong!" ledek Citra.


"Dasar kamu ya Cit.. rahasia!"


"Vio.. kita sama - sama telah dewasa. Seorang lelaki dan seorang wanita bermalam bersama, apalagi kalian saling mencintai, tidak menutup kemungkinan terjadilah apa yang diinginkan."


"Maaf Cit.. aku tidak bisa cerita, untuk hal itu biarlah menjadi rahasia antara aku dan Leon." pinta Viona.


"Oke, aku mengerti. Yuk aku antar pulang. Mamamu tadi udah nanya aku." ucap Citra bijak.


"Makasih banyak ya Citra."


**


Malam harinya Viona termenung di kamarnya. Kejadian tadi pagi masih terpatri kuat di ingatannya. Mulai saat ini kehidupannya telah berubah, keputusannya memilih Leon bukan hal yang mudah.


Tidak hanya orangtua Leon yang menentang hubungan mereka, tetapi keluarganya juga telah melarang.


Viona baru menyadari sedari tadi ia belum membuka handphonenya. Ternyata banyak pesan dan panggilan telepon dari Adrian.


Ya hampir saja ia melupakan lelaki yang sampai saat ini masih berstatus sebagai kekasihnya. Akhirnya ia membalas pesan Adrian, ia mengabarkan kalau dirinya baik - baik saja. Ia masih belum sanggup kalau harus berhadapan langsung dengan Adrian.


Kehadiran Adrian cukup berarti disaat Viona terpuruk. Walaupun ia belum bisa membuka hatinya untuk Adrian namun lelaki itu sanggup memberikan warna berbeda dalam hidupnya.


Viona memutuskan akan menemui beberapa hari kemudian, kebetulan juga saat ini menjelang ujian akhir semester, jadi jadwal kuliah dan praktikum sudah berkurang.


Tiba - tiba ada panggilan telepon masuk dari Leon.


"Halo Lee" jawab Viona.


"Malam sayangku, lagi apa?" tanya Leon.


"Lagi rebahan aja di kamar. Kamu lagi apa?" jawab Viona.


"Kangen kamu Vio, besok kita ketemu ya?" ucap Leon.


"Aku juga sama. Ketemu di mana?" kata Viona.


"Sama apanya? Kalau di apartemenku gimana?" tanya Leon.


"Dih ngarep banget dikangenin sih! Jangan ah, kita ketemu di cafe 'A' saja ya?" jawab Viona.

__ADS_1


"Apa susahnya sih bilang kangen juga? Kenapa kamu takut ya kalau ke apartemenku?" goda Leon.


"Iya aku kangen juga! Puas? Besok siang jam 11 ya ketemu di sana." kata Viona, ia sengaja menghindari bertemu di apartemen Leon, ia masih takut kalau nanti Leon bakal kebablasan lagi.


"Ya baiklah, kamu tidak usah naik motor ke sana. Nanti pulangnya ku antar." ucap Leon.


"Jangan Lee. Aku belum siap kalau ketahuan Mama." alasan Viona.


"Okelah. Selamat malam sayangku, mimpiin aku ya... sampai jumpa besok!" pamit Leon.


"Malam juga Lee. Bye!" balas Viona.


Panggilan telepon terputus. Viona semakin menyadari petualangan hubungannya dengan Leon telah dimulai. Terpaksa menjalani hubungan 'backstreet' dengan Leon.


***


Keesokkan paginya sekitar jam 9 pagi, tiba - tiba Adrian datang ke rumah Viona tanpa memberitahu terlebih dahulu.


"Hai cantik, kok kayak kaget gitu sih aku datang?" sapa Adrian ramah.


"Eh enggak, biasanya kamu ngabarin kalau mau ke sini." ucap Viona dengan sikap terkejut.


"Emangnya tidak boleh kalau aku kasih kejutan buat pacarku sendiri?" tanya Adrian.


"Huk.. huk.. huk.." Viona malahan kena batuk musiman karena mendengar istilah pacarku.


"Kenapa cantik? kamu sakit ya?" tanya Adrian khawatir.


"Enggak pa - pa Kak. Mau minum apa kak?" jawab Viona.


"Baiklah, tunggu sebentar ya." balas Viona.


Viona segera melangkah masuk menuju dapur. Saat ia sedang mengaduk kopi untuk Adrian, ia malah melamun.


"Vio..!" tegur Mama Sinta.


"Eh Mama.. bikin kaget aja!" ucap Viona gugup.


"Habisnya kamu malah melamun. Ntar kopinya keburu dingin lho." tegur Mama Sinta.


"Eh iya ma. Aku ke ruang tamu dulu ya Ma."


Mama Sinta hanya menganggukkan kepalanya, beliau melihat Viona sedang memikirkan sesuatu.


Viona telah sampai di ruang tamu, ia menyuguhkan kopi dan cemilan untuk Adrian. Suasana canggung kembali tercipta, Viona menjaga jarak dengan Adrian. Andai Leon tau Adrian ke rumahnya pasti akan marah.


Waktu sudah menunjukkan jam 10 lebih, namun tidak ada tanda - tanda Adrian akan pamit. Padahal Viona sudah memiliki janji untuk bertemu dengan Leon jam 11:00.


Akhirnya ia memberanikan diri, "Kak Adri, engg... sebenarnya aku mau pergi, ada janji dengan Citra."


"Owh jam berapa?" tanya Adrian.

__ADS_1


"Jam 11 kak. Maaf ya kak, habisnya kakak tidak kasih tau dulu kalau mau ke sini, jadi aku sudah terlanjur janjian dengan Citra." jelas Viona.


"It's oke! Berarti sebentar lagi, aku anterin ya, kalian ketemu di mana?" tawar Adrian.


"Ga usah kak, aku berangkat sendiri aja." tolak Viona.


"Enggak, aku anter aja. Nanti pulangnya kabari biar ku jemput." kata Adrian.


Terpaksa Viona menyetujui permintaan Adrian. Setelah berpamitan dengan Mama Sinta mereka segera berangkat menuju cafe 'A'.


Viona sengaja minta diturunkan di depan jalan cafe, karena ia takut kalau sampai Leon mengetahuinya.


Viona segera menuju di tempat Leon berada.


"Hai Lee.. maaf ya aku agak terlambat." ucap Viona.


"Ga pa - pa sayang, aku juga belum lama. Tadi naik apa?" tanya Leon.


"Eh ojek." jawab Viona asal.


"Baguslah jadi nanti pulangnya aku anter." balas Leon.


"Eh iya."


Dalam batin Viona berontak, belum pernah dia dalam posisi sesulit ini. Terpaksa ia membohongi Leon dan Adrian. Tapi Viona lupa untuk menghubungi Citra sebagai alibinya lagi.


Di tempat lain dalam waktu yang bersamaan, nampak Abdi sedang menemani Aurora belanja.


Sejak Aurora melihat Viona yang menginap di apartemen Leon, ia segera mencari Abdi. Karena hanyalah Abdi yang mau mendengar curhatannya. Aurora merasa sakit hati sekali.


Aurora mengerti memang sejak awal Leon tidak mencintainya. Ia mengira dengan kandasnya hubungan Leon dan Viona, maka ada kesempatan buatnya memasuki hati Leon. Namun ia tak menyangka Leon setega itu secara terang - terangan menolak kehadirannya.


Aurora bertekad untuk melupakan Leon, walaupun itu berat. Dengan kehadiran Abdi, ia berharap lambat laun bisa menerimanya.


Abdi dengan sabar menemani Aurora, dan menjadi sandaran saat Aurora menangis. Memang waktu itu ia sengaja membuat ide gila tersebut, ia sudah lelah melihat drama percintaan Leon yang tak kunjung usai. Ia juga sudah memikirkan matang - matang kalau nanti Aurora yang akan terluka. Tetapi akan lebih baik terluka sekarang daripada nanti.


****


Sore hari di rumah Adrian, ia merasa tidak tenang, kenapa Viona belum menghubunginya.


Adrian berinisiatif menghubungi David untuk menanyakan keberadaan Citra, ia sengaja tidak langsung menghubungi Viona karena ia tidak mau dianggap sebagai kekasih yang posesif.


"Halo Vid, kamu lagi di mana?" tanya Adrian.


"Lagi di luar, jalan sama Citra. Kenapa bro?" jawab David.


"Citra sama kamu?" tanya Adrian heran.


"Iya, ini baru mau pulang. Kenapa?" kata David.


"Ga pa - pa kok. Ya udah have fun ya." ucap Adrian mengakhiri panggilan teleponnya.

__ADS_1


Adrian tak menyangka ternyata Viona telah berbohong, 'berarti Viona ketemu dengan siapa?' batinnya.


bersambung...


__ADS_2