Cinta Lama Belum Usai

Cinta Lama Belum Usai
Antara Papa Dirga dan Leon


__ADS_3

Telah seminggu lamanya Leon berada di kota asalnya.


Sehari - hari ia lalui bersama adik kesayangannya, Dimas. Leon serasa menebus waktu yang jarang mereka lalui bersama.


Sesekali Aurora berkunjung ke rumah mereka, dan masih sama.. dicuekin Leon. Justru Dimaslah yang sering menemani Aurora saat bermain ke rumah mereka.


Hal itu diketahui Papa Dirga yang mendapat laporan dari istrinya.


Hingga suatu malam Papa Dirga mengajak Leon hangout berdua.


Awalnya Dimas merengek ingin ikut, tetapi dilarang papanya dengan alasan urusan pria dewasa.


Tibalah ayah dan anak itu di sebuah cafe.


"Kamu pesan apa Leon?" tanya papanya.


"Aku vanila latte aja Pa, sama kentang goreng dan pisang bakar keju."


"Oke, tolong kamu panggil pelayan!" titah papanya.


Leon hanya melongo, 'Papa ga jelas banget sih, tadi kenapa nanya aku, hadehhh.' batinnya. Namun Leon tak berani membantah, karena sedari kecil Leon memang tidak terlalu dekat dengan papanya.


Tak lama kemudian pelayan datang dan mereka memesan sesuai keinginan mereka.


"Leon... kamu tau tidak kenapa papa mengajakmu saat ini? dan tadi Papa melarang adikmu ikut."


"Tidak tau Pa, tapi aku yakin Papa punya alasan tersendiri." balas Leon.


"Begini, Papa tau kamu menolak dijodohkan dengan Aurora. Apakah kamu punya kekasih?"


"Belum sih Pa, cuman aku lagi dekat dengan seorang cewek. Makanya aku tidak mau dijodohkan." jawab Leon.


"Sebelumnya Papa minta maaf, kalau kami terlalu memaksakan kehendak. Alasan sebenarnya adalah Papa berhutang budi dengan keluarga Andika. Dulu Papa hidup susah, nenekmu banting tulang buat mencari biaya sekolahku, hingga suatu hari ada seorang dermawan yang baik hati membantu kami, sehingga Papa bisa menyelesaikan sekolah sampai sarjana. Dermawan itu adalah ayah dari Andika. Dari situlah aku mengenal Andika, berhubung kami seumuran dengan mudahnya kami akrab kemudian kami bersahabat. Namun setelah lulus SMA Andika melanjutkan kuliahnya ke Jerman. Sejak itu komunikasi kami terhambat, apalagi setelah papa meraih gelar sarjana, 2 tahun kemudian ayahnya Andika meninggal."


Belum selesai bicara datanglah pelayan yang membawa pesanan mereka. Setelah pelayan itu pergi, Papa Dirga melanjutkan pembicaraannya, "Papa lanjutkan ya, beberapa bulan yang lalu tak sengaja kami bertemu dalam sebuah seminar bisnis. Akhirnya kami sepakat menjodohkan kalian. Papa harap kamu mengerti, karena Papa hanya ingin membalas budi keluarga Andika. Kamu jangan terlalu keras bersikap terhadap Aurora. Dan berusahalah menerimanya, karena dialah yang awalnya langsung setuju, dengan hanya melihat fotomu Leon. Anak itu sudah jatuh cinta padamu." jelas Papa Dirga panjang lebar.


Leon masih diam belum tau harus memberi respon seperti apa.


"Bagaimana Leon, apa kamu mengerti maksud Papa?" tanya Papa Dirga untuk meyakinkan anaknya sekali lagi.

__ADS_1


"Pa.. aku tau dan mengerti kondisinya, aku minta tolong kasih waktu aku untuk berpikir ya Pa. Aku sudah mencintai seseorang, dan dia sangat berarti juga dalam hidupku. Karena dia, aku tau apa arti sebuah keluarga buatku. Aku mohon ya Pa, kasih aku waktu." pinta Leon yang sangat menginginkan Papanya juga mengerti kondisinya.


"Papa ngerti nak. Jatuh cinta memang tidak bisa dipaksa ataupun diatur. Kamu lebih mengerti perasaaanmu. Mumpung kamu masih muda masih ada waktu untuk merubahnya. Barangkali nanti kebersamaanmu dengan Aurora di sana bisa merubah perasaanmu." ucap bijak Papa Dirga.


"Terimakasih Pa atas pengertiannya. Bagaimana kalau nanti aku tetap tidak bisa mencintai Aurora?"


"Hmmm... 4 tahun paling tidak Leon, cobalah mengenalnya lebih dekat. Semoga kamu bisa membuka hatimu. Sebenarnya siapa wanita yang kau cintai? kalau Papa boleh tau."


"Ada Pa, teman SMAku. Aku rasa itu cukup rahasiaku, maaf Papa, aku tidak bisa menyebutkan siapa namanya, aku hanya ingin menjaga perasaannya."


"Ya sudah kalau itu keputusanmu, jauhi dia pelan - pelan. Apalagi nanti ada Aurora di sana. Udah terlalu malam, yuk kita pulang nanti Mamamu ngomel kalau kita pulang telat."


Mereka berdua beranjak meninggalkan cafe tersebut dan kembali ke rumah.


**


Menjelang dini hari Leon belum bisa memejamkan matanya. Ia bingung, kecewa, sedih dan takut kehilangan Viona.


Disaat mereka berdua mulai mengetahui perasaan masing - masing, semua harus pupus dikubur.


Leon tak bisa membayangkan bagaimana nanti tanggapan Viona kalau tau ia dijodohkan.


Tapi apa aku sanggup melakukannya?


Arghhh... entahlah aku pusing, lebih baik dipikir sambil jalan. Toh masih ada waktu 4 tahun lagi. Kalau kami berjodoh sesulit apapun rintangannya pasti akan ada jalan buat kami bersatu.


Leon kemudian mencoba mendengarkan musik dengan headset siapa tau bisa tertidur.


***


Keesokan paginya di rumah Aurora.


"Rara bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Leon?" tanya Papa Andika di sela - sela waktu sarapan.


"Yahh gitu aja Pa, tidak bergerak. Leon cuek banget sama aku." keluh Aurora sambil menyibikkan bibirnya.


"Sabar ya Ra, mungkin butuh waktu. Oh ya, urusan pendaftaran kuliahmu bagaimana? udah beres?"


"Udah Pa, tinggal nanti 3 hari lagi tes. Besok aku harus berangkat ke Kota Y, sekalian mau cari tempat kos Pa."

__ADS_1


"Loh kok ga sewa apartemen saja, kan Leon juga, coba kamu tanya dia, sapa tau yang satu gedung masih ada kamar kosong, jadi kalian bisa jadi lebih dekat."


"Oh iya ya Pa, nanti aku coba nanya. Pikirku kalau apartemen sendirian terlalu besar, makanya pengen cari kost saja."


"Kamu besok berangkat jam berapa? jadi naik kereta, pesawat atau diantar Pak Kurdi saja?"


"Kayaknya enakan dianter bawa mobil sendiri deh Pa, kan sekalian bawa barang."


"Ya sudah nanti Papa suruh Pak Kurdi persiapan mobil buat besok. Ajak sekalian Leon."


"Jangan aku Pa, Papa aja yang hubungi. Kalau sama aku nanti ga mau Leonnya."


"Oke biar langsung aku hubungi om Dirga ya."


"Makasih Papa, you're the best!"


Papa Andika kemudian menghubungi sahabatnya itu. Keduanya pun setuju jika Aurora berangkat bersama Leon diantar Pak Kurdi.


Papa Dirga segera memberi tahu Mama Audi.


Mama Audi segera memberi kabar ke Leon yang sedang berada di kamarnya.


Tok..tok..tok..


"Masuk aja!" jawab Leon ketika mendengar pintu kamarnya di ketuk.


"Halo sayang lagi apa?" sapa Mama Audi sambil mendekati Leon yang sedang asyik di depan laptopnya.


"Biasa Ma main game." jawab Leon tanpa menoleh.


"Sayang, kapan rencana kamu kembali ke Kota Y?"


"Engg.. kayaknya seminggu lagi Ma, sambil nunggu kabar pengumuman hasil tes, kenapa Ma?" masih saja asyik main game.


"Kalau besok aja gimana? kamu sekalian temani Aurora."


"Apa Ma? yang bener deh!" ucap Leon yang akhirnya menoleh ke arah mamanya tidak percaya dan menutup permainannya.


bersambung..

__ADS_1


__ADS_2