
Waktu tes tiba, Leon sedari pagi sudah bersiap untuk menjemput Viona.
Sesampai di rumah Viona, disambut Mama Sinta dengan ramah, "Ayo masuk dulu Nak Leon, ikut sarapan sekalian, Viona sama papanya juga lagi sarapan."
"Iya tante siap, kebetulan aku juga belum sarapan." jawab Leon.
Di ruang makan sudah ada Viona dan papanya.
"Pagi Om, pagi Vio" sapa Leon sambil tersenyum.
"Pagi nak Leon, ayo ikut sarapan." jawab Papa Arga.
"Ya Om, makasih." kata Leon yang kemudian duduk di kursi bersebelahan dengan Viona.
"Aku grogi Lee, nanti gimana ya tesnya, bisa tidak ya.." celetuk Viona.
"Semangat Vio! kamu pasti bisa!" timpal Leon.
"Betul kata Nak Leon itu, yang penting yakin tidak usah grogi, kalau gagal ya coba lagi!" ucap Papa Arga.
"Ihh... papa kok gitu sih omongnya!" protes Viona.
"Bercanda sayang, nanti sebelum tes dimulai jangan lupa berdoa, terus yang teliti mengisinya. Jangan sampai terlewat. Papa yakin kalian berdua lolos semua kok!" ucap Papa Arga bijak.
"Siap...!" jawab Viona dan Leon hampir bersamaan.
Selesai sarapan mereka berdua kemudian pamit berangkat.
Kali ini lokasi tes berada di salah satu SMA, berhubung peserta tes jumlahnya sangat banyak dan serempak waktunya. Jadi pihak universitas meminjam ruang - ruang kelas di SMA se Kota Y.
Leon dan Viona mendapat lokasi di SMA 3, ruangannya sama karena nomor pendaftaran mereka berurutan.
Tibalah saat tes dimulai, seluruh peserta diminta berdoa menurut agama dan kepercayaan masing - masing. Jumlah soal 100 diberi waktu mengerjakan selama 90 menit.
Keduanya tampak sukses mengerjakan semua soal. Waktu tes selesai, seluruh peserta sudah mengumpulkan hasil pekerjaan mereka tinggal menunggu hasil tes 14 hari kemudian.
Selesai tes Leon mengajak Viona untuk jajan bakso dan es teler langganan mereka di dekat SMA 1 Nusantara.
Mereka memesan 2 bakso dan 2 es teler, kemudian memilih bangku di pojokan.
__ADS_1
"Vio gimana tadi bisa tesnya?" tanya Leon.
"Lumayanlah, yang kemarin kita pelajarin banyak yang keluar, mudah - mudahan aku lolos ya Lee." harap Viona.
"Kita pasti lolos semua Vio, amin." doa Leon.
"Amin." dan diaminin oleh Viona.
"Oh ya, berhubung ada waktu libur sebelum pengumuman hasil tes, rencana aku mau pulang dulu. Kemarin mamaku juga telepon, biasalah orangtua kangen sama anaknya yang paling ganteng sedunia ini hehe.."
"Dasar pede banget sih, kapan kamu pulangnya? berapa lama? 2 minggu ya?"
"Satu - satu nanyanya Vio," kata Leon sambil mencubit gemas kedua pipi Viona, "takut kangen ya ama aku? rencana besok, habis ini aku beli tiket kereta." ucapnya sambil mengedipkan matanya.
"Ihh lepasin Lee.. malu diliatin orang tau! duh Ge eR amat yak, palingan kamu yang kangen aku kan? Aku mah santai masih banyak cowok lain yang mau nemenin weekkk!" kilah Viona untuk menyembunyikan perasaan kehilangan karena 2 minggu bakalan ditinggal Leon.
"Berarti kalau di apartemenku ga malu kan? yuk lanjut di sana" goda Leon.
"Leon! apaan sih kamu, pacaran juga kagak sok romantis!" ucap Viona sewot.
"Ingat ya Vio, selama aku pulang kampung eh pulang ke kota B, kamu jangan macam - macam, kabari aku kemana aja kamu pergi, terus sama siapa, ok!" titah Leon sok posesif terhadap Viona.
"Kamu itu calon masa depanku Viona, masak ga ngerti?" kata Leon.
Tiba - tiba abang penjual bakso datang mengantarkan pesanan mereka. Pembicaraan mereka terhenti sesaat. Kemudian mereka mulai menikmati bakso yang maknyus itu.
Viona penasaran dengan ucapan Leon yang terakhir, "Apa maksudmu Lee? jadi aku kamu gantung gitu? sekarang sahabatan terus suruh nunggu kamu siap? ribet amat sih Lee, pacaran sekalian juga ga pa - pa!" balas Viona kesel.
"Aku tidak mau pacaran Vio, nanti malah ada masalah kita jadi putus, kalau udah putus kan susah buat normal berteman. Pokoknya tunggu aku sukses ya!" pinta Leon.
Leon tidak mau mengatakan alasan sebenarnya, karena sebenarnya mamanya telepon itu juga mau mengenalkan anak perempuan rekan bisnis papanya untuk dijodohkan dengannya.
"Terserahlah maumu Lee, daripada aku pusing, enakan menikmati bakso ini!" balas Viona sambil memakan satu bakso utuh dengan ekspresi menggoda Leon.
"Hush.. pikiranmu dibersihin dulu Vio!" ucap Leon sambil menyentil pelan dahi Viona dengan ujung jarinya.
"Hahahaha...!" Viona hanya tertawa karena berhasil membuat Leon keki.
Leon POV
__ADS_1
Maaf Viona, aku belum bisa cerita sebenarnya, suatu saat nanti aku pasti akan ceritakan semua. Saat ini aku secara finansial masih tergantung kedua orangtuaku, jadi mau tidak mau aku harus mengikuti keinginan mereka.
Aku tidak mau kehilangan kamu Viona, tunggu aku bisa selesai kuliah. Nanti setelah aku bisa lepas dari bayang - bayang orangtua, aku janji akan melamarmu dan menolak perjodohan konyol itu.
Untuk saat ini aku hanya bisa mengulur waktu supaya aku tidak dipaksa nikah muda. Semoga berhasil rencanaku, amin.
**
Keesokan harinya Leon sudah bersiap, rencana nanti jam 2 siang naik kereta menuju Kota B.
Pukul 10 pagi Viona telah sampai di depan pintu apartemen Leon, ia akan mengantar Leon ke stasiun.
Ting tong..
Suara bel apartemen berbunyi, Leon segera membukanya. Nampak wajah cantik pujaan hatinya yang sedang tersenyum.
Leon mempersilahkan masuk, Viona mengekor mengikutinya.
"Sudah sarapan belum Lee?" tanya Viona yang tetap berjalan sambil memainkan handphonenya, namun ia tidak sadar kalau Leon berhenti dan berbalik ke arahnya.
Brukk..
Viona menabrak dada bidang Leon, sehingga reflex Leon pun memegang kedua lengan Viona supaya tidak oleng.
Sesaat terhanyut suasana, tiba - tiba Leon mencium bibir Viona, yang dicium pun tidak nampak menolak. Leon semakin agresif ******* bibir Viona. Sekitar 1 menit mereka saling berciuman. Nafas keduanya mulai terengah - engah. Viona kembali ke titik sadarnya dan menghentikannya, "Cukup Leon," ucapnya lirih sembari mundur selangkah.
"Engg... maaf Vio, aku terbawa suasana. Sekali lagi maaf ya." ucap Leon sambil memohon.
Viona juga bingung dan canggung, mau marah untuk apa, toh dia juga membalas ciuman Leon.
"Ya Lee, aku juga tidak tau harus gimana, yang penting jangan diulang lagi!" akhirnya kata - kata seperti itu yang keluar dari bibir Viona yang nampak membengkak akibat ulah Leon.
Bagi keduanya ini merupakan pengalaman ciuman pertama mereka.
Suasana nampak kaku, Leon juga gugup mau gimana. Akhirnya ia memutuskan membuatkan minuman buat Viona.
Saat di dapur, nampak Leon merutuki dirinya sendiri, "Aishhh... bodoh kamu Leon, kenapa bisa nekat cium Viona sih!"
bersambung...
__ADS_1
hai kakak - kakak, terimakasih yang udah mampir baca karyaku, jangan lupa vote ya...