Cinta Lama Belum Usai

Cinta Lama Belum Usai
Hanya Milikku


__ADS_3

Mohon maaf ini bukan update, tapi berdasarkan review maka lebih baik author mengedit ulang. Terimakasih.


#####################


"Di, kamu pulang aja, aku di sini. Tolong hubungi Aurora jangan ke sini!" pinta Viona.


"Oke siap! Kamu hati - hati ya. Aku pulang dulu." jawab Abdi.


"Makasih Di!" ucap Viona.


Setelah Abdi pulang, Viona menghubungi Citra sebagai alibinya. Kemudian ia mengirim pesan kepada mamanya, kalau ia akan menginap di rumah Citra.


Viona menuju kamar Leon.


Suara dengkuran halus terdengar, Viona mendekati Leon. Ia memandang wajah Leon yang nampak lebih tirus, kumis tipis mulai tumbuh dan rambutnya acak - acakan.


"Lee.. kenapa kamu jadi seperti ini?" ucap Viona lirih.


Kemudian Viona mengambil handuk dan air hangat untuk membersihkan wajah Leon.


Dengan pelan dan berhati - hati ia membersihkan wajah Leon.


Tak terasa air mata Viona menetes dan mengenai wajah Leon.


Leon terbangun dan membuka matanya, walaupun masih dalam pengaruh alkohol, ia dapat mengenali wajah Viona.


"Viona, ini kamu sayang?" tanya Leon.


"Iya aku Leon." jawab Viona.


Ketika mendengar suara seseorang yang selama ini sangat ia rindukan, Leon terbangun.


"Vio? kamu nyata kan?" tanya Leon tak percaya.


"Iya aku di sini." jawab Viona.


Leon memeluk tubuh Viona, keduanya seperti melupakan tembok penghalang diantara mereka.


Kemudian Leon menatap mesra mata Viona, "Viona jangan tinggalkan aku lagi ya.." pintanya.


Viona tersadar kemudian ia menjaga jarak dengan Leon.


"Maaf Leon, aku ke sini sebagai teman saja yang mengkhawatirkan kondisimu." elak Viona.


"Bohong! aku tau kamu masih mencintaiku kan sayang?" tanya Leon sambil memegang kedua tangan Viona.


"Maaf Leon, sekarang sudah berbeda, sudah ada hati yang harus aku jaga." ucap Viona sambil berusaha melepaskan tangan Leon, namun kekuatan Leon lebih besar darinya.


Leon malahan menarik wajah Viona dan mulai mencium bibirnya.


Viona nampak terkejut, dan berusaha menolak, namun apa daya ia kalah kuat.

__ADS_1


Leon dengan cepat meraih pinggang Viona dengan tangan satunya, dan dengan mudahnya ia memeluk tubuh Viona dan membaringkan ke atas kasur.


Dalam kondisi mabuk seperti ini, Leon tidak bisa menahan diri, ia mulai menciumi bibir Viona dengan penuh hasrat.


Viona masih berusaha menolak dengan tidak membalasnya, namun lama - lama ia mulai terhanyut dan membalasnya.


Leon mulai meracau lagi, "Aku akan menghapus jejak lelaki lain Viona, hanya aku yang boleh memilikimu!"


Namun setelah itu tiba - tiba Leon ambruk di atas tubuh Viona, ia tak sadarkan diri lagi.


Viona bernafas lega namun ia kewalahan menyingkirkan tubuh Leon, dengan susah payah akhirnya ia bisa membaringkan Leon di sampingnya.


Setelah menyelimuti tubuh Leon, Viona keluar kamar dan mematikan lampunya. Malam ini Viona akan tidur di sofa ruang tamu.


"Hufff.. sungguh melelahkan.. hampir saja!" ucap Viona bermonolog sendiri.


**


Keesokan paginya, Viona masih tertidur pulas di sofa ruang tamu. Leon sudah bangun terlebih dahulu, ia mengingat kembali kejadian semalam.


"Apa aku mimpi ya? tapi kok serasa nyata sekali ya?" kata Leon sendiri.


Akhirnya ia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu, mudah - mudahan setelah mandi kesadarannya akan pulih normal kembali.


Selesai mandi Leon keluar dari kamarnya. Ia tampak terkejut ada yang tertidur di sofa tamunya.


"Siapa itu? apakah Abdi?" monolog Leon.


Leon memandang wajah Viona yang masih tertidur, "Kamu cantik sayang, kamu masih sama Vionaku yang dulu."


Merasa ada suara memanggil namanya, Viona terbangun. Ia masih mengumpulkan kesadarannya.


"Leon kamu mau ngapain?" tanya Viona curiga.


"Harusnya aku yang nanya sayang, kenapa kamu bisa berada di sini?" tanya Leon kembali.


"Owh iya ya.. semalam kamu mabuk dan Abdi menghubungiku." jawab Viona.


"Jadi biang keroknya Abdi nih. Tapi aku malahan senang, dengan begitu kamu ada di sini sayang." goda Leon.


Viona tidak memperdulikan ucapan Leon, ia segera beranjak bangun dan mencari tas dan jaketnya. Ia harus segera pergi.


"Kamu mau ke mana?" tanya Leon.


"Pulang!" jawab Viona singkat.


"Jangan pulang dulu sayang!" tahan Leon.


"Please Leon, jangan panggil aku seperti itu lagi. Kita sudah tidak ada hubungan apa - apa lagi." pinta Viona.


"Oke, kalau sudah tidak ada rasa apa - apa, kenapa kamu di sini Vio?" cecar Leon.

__ADS_1


"Aku hanya..."


Belum selesai ucapan Viona, Leon sudah memeluk Viona erat.


"Leon lepaskan!" teriak Viona.


"Sebentar saja biarkan aku memelukmu, aku sangat merindukanmu Vio, apakah kamu juga?" ucap Leon sambil menatap lembut wajah Viona.


Viona membuang muka dan berusaha berontak, namun ia kalah kuat. Karena Viona terus berjalan mundur hingga membentur tembok.


Situasi ini membuat Leon dengan mudahnya mengungkung tubuh Viona.


Leon menangkup wajah Viona dengan kedua tangannya, dan mulai mencium bibir Viona.


Awalnya Viona tidak membalasnya, namun ia mulai terhanyut dan membalasnya. Tangan Leon mulai bergerilya menelusuri punggung Viona.


Viona merasakan kenyamanan yang sangat ia rindukan, aroma wangi tubuh Leon membuatnya terhanyut.


Leon mulai menelusuri bagian perut Viona yang ramping. Terdengar desahan lolos dari bibir Viona yang membuat Leon semakin terpacu hasratnya.


Kemudian ia membopong tubuh Viona menuju kamarnya, dengan tetap saling berciuman.


Keduanya sudah terhanyut dalam nafsu duniawi. Jiwa dan raga yang telah lama saling merindukan tidak akan pernah bisa dibohongi.


Saat Leon mulai membuka kaosnya, Viona tersadar.


"Hentikan Leon! Please..." perintah Viona sambil menangis.


Leon pun tersadar ketika mendengar isak tangis Viona.


"Maaf... maafkan aku sayang!" ujar Leon sambil mencoba meredam hasratnya.


"Sudahlah, yang jelas aku tidak mau kamu seperti ini lagi!" pinta Viona.


"Tapi kamu janji juga, jangan pernah tinggalkan aku lagi!" balas Leon.


Viona menganggukkan kepalanya, kemudian Leon memeluk erat tubuh Viona, ia mencium pucuk kepala Viona dan mengatakan, "Kuberi waktu satu minggu, kamu harus putuskan Adrian."


"Iya.. aku akan memutuskannya, kasih aku waktu ya Lee. Kamu juga harus janji tidak akan meninggalkanku?" tanya Viona.


"Tenang sayang, sekarang aku sudah tidak peduli dengan perjodohan itu. Aku menyesal kenapa kemarin tidak memperjuangkanmu. Kamu percaya denganku kan? kita hadapi bersama, aku hanya ingin dukunganmu sayang." pinta Leon tulus.


"Enggak akan sayang, kamu hanya milikku. Kamu lihat sendiri betapa hancurnya aku melihat kamu dengan Adrian. Kita akan bersama berjuang untuk mendapat restu kedua orangtua kita. Kamu mau kan?" jelas Leon.


"Iya. Tapi kamu juga harus janji padaku, jangan pernah minum - minum lagi!" pinta Viona.


"Iya sayang, maafkan aku ya?" ucap Leon sambil menatal lembut wajah Viona.


Viona memeluk Leon erat, mereka seperti tidak ingin saling kehilangan lagi. Leon melonggarkan pelukannya, ia mulai menciumi bibir Viona lagi.


Ting tong....

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2