
Mencintai dalam diam itu sulit,
Mengatakannya lebih sulit,
Apalagi yang kau cintai itu sahabatmu!
^^^^^^ Viona Putri ^^^^^^
Pagi ini Viona, punya janji untuk bertemu dengan Citra. Mereka akan bertemu di salah satu Mall di Kota Y.
Sewaktu Leon mengajak bertemu, Viona menolaknya. Viona juga tidak memberitahu Leon karena ia sudah ada janji dengan Citra.
Saat ini Viona sengaja ingin menghindari Leon dahulu, selain karena pembicaraan kemarin, Viona ingin memberi waktu Leon untuk bersama adiknya Dimas.
Citra sudah sampai terlebih dahulu di dalam mall, ia menuju salah cafe 'Kopi Item'. Ia melihat dari kejauhan nampak Viona datang. Kemudian ia melambaikan tangan ke arah Viona.
"Maaf ya Cit, aku telat datangnya." ucap Viona sambil meraih bangku dan duduk di depan Citra.
"Santai aja, aku belum lama kok. Kamu sendirian? mana bodyguardmu?" balas Citra.
"Siapa bodyguardku... ah Leon ya? aku sengaja pergi sendiri, nanti kita ga bebas belanja kalau ada dia." kilah Viona yang nampak gugup.
"Kamu agak aneh Vio, kenapa gugup ketika menyebut nama Leon? kalian berantem?" tanya Citra curiga.
"Citra.. kamu beneran kan sudah ga suka sama Leon?" Viona malah ganti bertanya.
"Bener Vio. Aku udah move on. Aku sekarang lagi dekat dengan seseorang. Percaya omonganku." jawab Citra jujur.
"Aku percaya kok. Engg.. aku mau curhat boleh kan ya?" kata Viona ragu - ragu.
"Boleh banget Vio... kita kan bersahabat, kok kamu masih sungkan sih sama aku." ucap Citra bijak.
"Maaf.. aku sebenarnya bingung mau cerita ke siapa. Biasanya aku curhat dengan Leon. Tapi ini menyangkut kami." jelas Viona.
Citra memegang tangan Viona, ingin meyakinkan kalau ia bisa dipercaya.
"Kamu tau kan selama ini kami bersahabat, aku malu mau menceritakannya." lanjut Viona.
"Lanjutkan Viona..." kata Citra.
"Leon menciumku." ucap Viona lirih.
__ADS_1
"What!?" ucap Citra tak percaya.
"Dan aku membalasnya." kata Viona lagi dengan suara lirih dan malu - malu.
"Wah hebat kalian! Terus masalahnya di mana? sahabat berubah menjadi kekasih itu banyak Vio. Jadi lanjutkan saja, toh dari dulu aku kan selalu bilang kenapa kalian tidak pacaran aja. Mungkin Leon saking ga tahannya kali. Jadi cium kamu hahaha.." ucap Citra menanggapi curhatan Viona.
"Hush.. ngaco kamu! Masalahnya kemarin kami membahasnya, Leon hanya bilang minta maaf saja dengan alasan terbawa suasana. Sakit banget ga tuh!" ujar Viona agak kesal.
Citra pun juga kesal mendengarnya, "Dasar ya cowok itu hatinya terbuat dari apa sih, padahal kamu itu cewek yang paling dekat dengannya lho."
"Ada sesuatu yang Leon sembunyikan, dan dia bilang kalau belum siap mengatakannya." kata Viona.
"Memang cowok penuh misteri. Untungnya ganteng ya, udah Vio ga usah terlalu ambil pusing. Ikuti kata hatimu, yang jelas sekarang hubungan kalian sudah tidak bisa disebut murni sebuah persahabatan lagi. Tapi saranku ya, jika Leon tak kunjung memberi kejelasan lebih baik kamu tinggalkan." saran Citra.
"Aku belum siap kehilangannya Cit." balas Viona lirih.
"Ya aku mengerti, tapi ingat jangan sampai kamu yang tersakiti. Oke! Udah yuk kita mending keliling, daripada kamu sedih, mending kita shopping, sapa tau ada baju yang cocok." ajak Citra.
Viona menanggapinya, "Benar juga kamu Cit, oke! Yuk kita lanjut shopping aja!"
Akhirnya mereka meninggalkan cafe tersebut.
Biarkanlah nanti waktu yang menjawab, kalau memang Leon jodohnya pasti ada jalannya.
Tak terasa waktu menjelang sore, Viona dan Citra memutuskan pulang. Mereka puas bisa mendapatkan baju - baju cantik dengan harga yang lumayan murah. Baju itu buat persiapan nanti ketika mereka kuliah.
**
Dua hari berlalu sejak pertemuan terakhir Leon dengan Viona.
Leon merasakan kalau Viona sedikit menghindarinya, karena selama ia mengenal Viona tidak pernah menolak bertemu dengannya. Ini sudah hari ketiga Viona menghindarinya.
Tapi ia merasa ini memang salahnya, ia merasa seperti pengecut yang tidak berani mengungkapkan perasaannya.
Akhirnya Leon memutuskan malam ini harus segera menyelesaikan masalahnya dengan Viona. Ia tak ingin menyakiti Viona lebih dalam.
Sore ini ia telah selesai bersiap diri, sedangkan Dimas di suruh menunggu di apartemen.
"Dek, kakak mau ke rumah Kak Viona dulu ya. Maaf kali ini kakak tidak bisa mengajakmu." pamitnya kepada Dimas.
"Tidak apa - apa kak, aku ngerti kok."
__ADS_1
"Kamu hati - hati ya, kalau ada apa - apa segera hubungi kakak." pesan Leon sambil beranjak mengambil kunci motornya.
"Sebentar Kak, aku boleh nanya tidak?" sela Dimas.
Leon berhenti dan kembali duduk di samping adiknya.
"Boleh, selama kakak bisa menjawab akan kakak jawab."
"Kakak mencintai Kan Viona ya?" tanya Dimas dengan polosnya.
Leon sempat tertegun, "Wah pertanyaanmu to the point banget sih dek!" sambil mengacak - acak rambut Dimas.
"Kak beneran, aku nanya serius. Tenang saja aku tidak akan lapor sama papa dan mama kok! Aku janji!"
"Iya dek, kakak sangat mencintainya. Makanya kakak bingung dengan keadaan ini. Disatu sisi kakak tidak mau menjadi anak yang durhaka, disisi lain kakak mencintai Viona. Dan kakak juga merasakan kalau Aurora juga mencintai kakak. Sebenarnya kakak tidak ingin menyakiti Aurora juga, makanya kakak sengaja menghindarinya..." jelas Leon panjang lebar.
"Aku mengerti kak, kalau aku boleh kasih saran, perjuangkanlah cintamu! Aku yakin Kak Rara wanita yang baik, suatu saat pasti akan mengerti." ucap Dimas bijak.
Leon tak menyangka adiknya begitu dewasa pemikirannya, "Wah hebat ya, adekku sudah dewasa rupanya! jangan - jangan pacarmu banyak ya Dim? hahaha"
"Apaan sih kak! apa hubungannya denganku, sudah sana berangkat, nanti di ambil cowok lain nangis lagi!" ledek Dimas.
Leon tertawa mendengar ucapan Dimas, iapun bergegas segera pergi dengan mantap ke rumah Viona.
Dalam perjalanan ke rumah Viona, Leon memikirkan perkataan Dimas. Memang benar cinta harus diperjuangkan. Apapun rintangannya harus dihadapi. Aku yakin suatu saat kedua orngtuanya pasti akan mengerti kondisinya.
Sebuah pernikahan jika tidak dilandasi cinta akan seperti apa? Leon sendiri takut membayangkannya.
Sesampai di rumah Viona, ia mendapati kekecewaan. Ternyata Viona tidak ada di rumah, kata Mama Sinta, Viona sedang menginap di rumah tantenya di Kota K, yang berjarak sekitar 30 km dari Kota B.
Leon menanyakan alamat rumah tantenya Viona. Ia bertekad malam ini masalahnya harus selesai, ia memutuskan menyusul Viona.
Selama kurang lebih 1 jam perjalanan, dengan mengandalkan peta online dalam handphonenya sampailah Leon di rumah tantenya Viona.
Tok..tok.. tok..
Leon mengetuk pintu rumah tantenya Viona. Tak berapa lama ada yang membukakan pintunya.
"Lee...!"
bersambung...
__ADS_1