Cinta Lama Belum Usai

Cinta Lama Belum Usai
Alasan Viona


__ADS_3

Keesokan harinya Citra menghubungi Viona untuk bertemu.


"Hai Vio, apa kabar?"


"Hai Cit, kabar biasa aja."


"Cerita saja padaku Vio, apa kamu lagi ada masalah ya?" tanya Citra.


"Yahh kamu tau sendiri bagaimana." jawab Viona ketus.


"Maaf Vio, boleh aku nanya?"


"Silahkan."


"Apakah sudah tidak mungkin hubunganmu dengan Leon masih bisa berlanjut?" tanya Citra hati - hati.


"Udahlah Cit.. ga usah bahas Leon lagi! kalau kamu masih bahas dia aku mending pulang." ancam Viona.


"Duh kok gitu amat ya, kamu ga kangen sama aku?" goda Citra.


"Makanya jangan bahas Leon. Oke!" pinta Viona.


"Baiklah.. tapi aku boleh tau tidak, kenapa kamu bersikap seperti ini Vio? jujur saja padaku." pinta Citra.


"Hmmm.. sebenarnya aku malas cerita Cit. Tapi baiklah aku akan menceritakannya." kata Viona.


"Nah gitu dong, siapa tau dengan cerita padaku bisa mengurangi bebanmu."


"Makasih Citra. Sebenarnya setelah aku mengetahui perjodohan Leon dengan Aurora. Papa Leon menemuiku. Beliau menyuruh aku menjauhi Leon." tiba - tiba saja airmatanya menetes dengan sendirinya.


Citra memeluk sahabatnya, ia sangat mengerti bagaimana terlukanya hati Viona.


Viona melanjutkan perkataannya, "Hati siapa yang ga sakit Cit. Ditolak langsung dari ayah lelaki yang kamu cintai."


"Iya aku mengerti.. bahkan sangat mengerti. Tapi apakah Leon tau?"tanya Citra.


"Enggak. Aku tidak cerita sama dia. Aku sudah terlanjur sakit hati. Lebih baik sekarang kami berpisah daripada hubungan kami terlalu dalam. Aku masih punya kesempatan memulai hidup baru tanpa Leon." jelas Viona.


"Kalau memang keinginanmu seperti itu, aku akan selalu mendukungmu Vio."


"Makasih ya Cit."


"Sama - sama Viona. Kalau umpama aku kasih tahu Leon tentang papanya yang menemuimu, boleh tidak?" tanya Citra.


"Please jangan ya Cit, aku tidak mau mempunyai hubungan tanpa restu. Mungkin memang kami tidak berjodoh. Biarkanlah seperti ini." pinta Viona.


"Ya, yang sabar Vio." kata Citra bijak.


Viona menganggukkan kepalanya, ia menyadari luka yang masih menganga dalam hatinya tidak bisa dipungkiri. Tapi ia bertekad akan bangkit lagi. Ia akan lebih fokus untuk kuliahnya.


**

__ADS_1


Citra sudah melaporkan hasil perjuangannya kepada Leon, tapi ia tidak memberitahukan tentang Papa Leon yang menemui Viona. Ia tahu Leon sangat kecewa, ternyata Viona tidak mau menerima ia kembali.


Awalnya hubungan persahabatan yang indah antara Leon dan Viona telah berakhir. Mereka yang akhirnya saling jatuh cinta tidak mampu mempertahankan hubungan percintaan disaat badai datang.


Akankah takdir mempertemukan mereka kembali?


***


Hari - hari berlalu Leon dan Viona seperti orang asing. Walaupun mereka kadangkala masih kumpul bareng bersama Citra dan Abdi. Kedua sahabat mereka sudah berusaha untuk mempersatukan mereka, namun usaha mereka sia - sia.


Viona seperti sudah menutup pintu hatinya untuk Leon. Segala perhatian yang diberikan Leon selalu ditolak Viona.


Disaat itulah Adrian juga mulai terang - terangan mendekati Viona. Seperti saat siang ini di kantin. Nampak Adrian sedang makan siang dengan Viona.


"Makan yang banyak Viona, kamu kelihatan semakin kurus."


"Eh iya kak. Aku memang sengaja ngurangin porsi makanku kak."


"Tidak usah diet Vio, kamu butuh energi banyak, apalagi sekarang mulai banyak praktikum kan. Yang penting jaga kesehatan."


"Iya kak." jawab Viona singkat. Sebenarnya ia bahagia disaat kondisinya sedang terpuruk, ia mendapat perhatian Adrian yang tulus. Namun ia tidak mau menjadikan Adrian pelarian patah hatinya.


"Vio.. jangan melamun!" ucap Adrian.


"Eh hehehe. Udah yuk kak, aku mau ke perpustakaan dulu."


"Kutemani ya?"


"Kakak ga ada kuliah?"


"Oke."


Mereka berdua berjalan beriringan menuju perpustakaan. Nampak dari kejauhan Leon melihatnya. Hatinya sakit sekali, dulu ia yang selalu mendampingi Viona. Namun sekarang ia bisa apa, ia bukan siapa - siapa, bahkan untuk berteman biasa saja sangat sulit.


Leon bertekad suatu saat ia akan merebut hati Viona kembali. Untuk saat ini ia akan membiarkan semua seperti ini dahulu. Toh waktu masih banyak, ia sudah membuat kesepakatan dengan kedua orangtuanya kalau pertunangannya dengan Aurora akan diadakan 2 tahun lagi.


****


Lambat laun hubungan Adrian semakin dekat. Adrian bisa membuat Viona tersenyum kembali. Segala perhatian Adrian mampu meruntuhkan pertahanan Viona.


Dua bulan kemudian di sebuah cafe yang bernama cafe "Lemongrass", nampak Adrian dan Viona sedang makan malam bersama.


Adrian menggenggam kedua tangan Viona, "Vio.. bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu?"


"Silahkan kak." kata Viona sambil melepaskab genggaman tangan Adrian.


"Aku mencintaimu. Maukah kamu menerimaku sebagai kekasihmu?" ucap Adrian tulus.


Viona agak sedikit terkejut, tapi ia sudah menduga cepat atau lambat Adrian akan mengatakannya.


"Kak... aku.. engg..." jawab Viona terbata - bata.

__ADS_1


"Baiklah aku tau kamu pasti belum bisa jawab kan?" ujar Adrian sedikit kecewa.


"Maaf kak, kasih aku waktu memikirkannya ya." balas Viona.


"Tapi jangan lama - lama ya.. 1 minggu cukup?" pinta Adrian.


"Iya. Maaf ya kak, aku tidak mau nantinya malah menyakitimu, jadi aku mau meyakinkan hatiku dulu." jelas Viona.


"Aku mengerti Viona. Aku harap kamu mau membuka hatimu untukku." harap Adrian.


"Terimakasih kak."


Setelah pergumulan hatinya, Viona memutuskan untuk menerima cinta Adrian. Walaupun dalam hatinya yang paling dalam masih terpatri kuat nama Leon, namun Viona berharap dengan ia menjalin hubungan dengan Adrian bisa membuat ia bisa melupakan Leon.


Hubungan Leon dan Aurora masih seperti dulu. Leon belum bisa membuka hatinya, ia masih jaga jarak. Namun ia tetap menepati janji pada papanya untuk memperhatikan Aurora.


Aurora pun merasakan kalau Leon masih mencintai Viona. Walaupun raga Leon bersamanya tapi hati dan jiwa Leon tidak. Akan tetapi Aurora tetap bertahan, walaupun saat ini Abdi juga hadir dalam kehidupannya, namun masih belum bisa menggeser posisi Leon dari hatinya.


Saat Leon mengetahui Viona sudah menjadi kekasih Adrian, hatinya hancur. Ia bertekad suatu saat akan merebut kembali hati Viona. Saat ini ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengakhiri perjodohannya. Ia hanya berharap Aurora sendiri yang menyerah.


*****


"Halo selamat malam, dengan bapak Abdi?"


"Iya benar. Ini dengan siapa? kenapa handphone teman saya ada dengan anda?"


"Maaf pak, saya pegawai bar modisto, ini teman anda mabuk berat. Sewaktu saya tanya dia menyebut nama anda. Jadi saya langsung hubungi."


"Owh baiklah nanti saya ke situ. Tolong jaga teman saya jangan sampai dia kemana - mana. Terimakasih."


"Siap pak."


Tak lama kemudian Abdi sudah sampai di bar modisto, ia melihat Leon sudah posisi tiduran di salah satu sofa bar.


Abdi mendekatinya dan mencium bau alkohol, ia heran sahabatnya bisa semabuk ini. Padahal selama ini Leon tidak pernah melakukan hal - hal negatif, bahkan juga tidak merokok.


Leon meracau memanggil nama Viona berkali - kali.


Abdi hanya bisa menatap pilu penderitaan yang dirasakan Leon. Ia juga tahu sekarang Viona sudah memiliki kekasih baru.


"Sudah Leon, ayo pulang!" bentak Abdi.


"Viona sayang.. itu kamu ya?" tanya Leon.


"Iya.. ayo pulang, kamu sudah mabuk berat." jawab Abdi bohong, supaya Leon menuruti ajakannya.


"Ini benar kamu sayang, jangan tinggalin aku ya.. kenapa kamu mau sama si brengsek itu..!" kata Leon.


"Iya.. iya.. ayuk pulang!"


Akhirnya Leon mau bangkit berdiri dengan sempoyongan, Abdi memapahnya keluar bar dan membawa Leon pulang ke apartemennya.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Leon sesekali memanggil nama Viona, kemudian tertidur.


bersambung...


__ADS_2