
"Lagi di mana Vio? jadi kan kita makan siang bareng? ketemu di lobby ya jam 12:00."
Pesan yang ditulis Leon untuk kekasihnya sudah terkirim sekitar 15 menit yang lalu. Namun Viona tak kunjung membalasnya, padahal berdasarkan jadwalnya sudah tidak ada jam kuliah.
Akhirnya Leon memutuskan menelepon Viona, tapi tak kunjung diangkat juga.
Tidak seperti biasanya Viona seperti itu.
Di dalam ruang kelas Viona.
Viona nampak masih berbincang dengan teman - temannya. Mereka sedang membahas tugas kelompok yang besok harus dikumpulkan. Setelah mendekati jam 12 mereka sepakat untuk istirahat dulu. Viona baru membuka handphonenya, ia sengaja membuat mode silent.
"Dari Leon.. waduh ****** aku!" ucapnya sendiri sambil tepok jidat.
Baru ia akan keluar kelas, nampak Leon sudah menunggu berdiri di depan pintu, rupanya Leon tidak sabar sehingga menyusul Viona.
Viona bergegas menghampiri kekasihnya yang sudah nampak kesal.
"Maaf ya Lee, tadi ada tugas dadakan, handphone juga aku silent. Kalo marah tambah ganteng lho.. hehee.." ucap Viona sambil menggandeng lengan Leon supaya tidak menarik perhatian teman - temannya.
Kehadiran Leon di sana sudah membuat banyak teman wanitanya berbisik - bisik, bahkan ada yang menyeletuk, "Ganteng juga cowokmu Vio, kenalin dong!" ucap Lani.
Viona hanya tersenyum menanggapinya, kemudian segera mengajak Leon segera pergi menuju ke kantin karena malu digodain.
Mereka berdua jalan beriringan, keduanya nampak serasi.
"Vio.. kalau ada apa - apa itu langsung kabari aku, jangan kayak gini lagi. Aku kan khawatir sayang!" ucap Leon sambil mengacak - acak gemas rambut Viona.
"Iya maaf ya Lee. Lain kali aku langsung kabari, jangan marah ya, nanti aku yang traktir makannya deh!" rayu Viona.
"Aku ga marah lagi jika kamu berhenti panggil namaku dengan Lee, tapi ganti panggilan sayang, oke!" pinta Leon.
Viona menjawab dengan imutnya, "Aku coba ya Lee.. kalau aku panggil oppa mau tidak hehee..."
"Tuh kan Lee lagi, enggak mau emangnya aku mirip oppa dari negeri ginseng? Kita udah 2 bulan pacaran lho Vionaku sayang, masak standar melulu panggilannya." jelas Leon mencoba untuk sabar.
"Duh ternyata kamu mulai romantis ya hihii.. beda banget sama Leon yang dulu kayak kulkas." ledek Viona.
"Gemes banget aku sama kamu ya, dulu kulkas salah, sekarang romantis salah lagi. Bingung jadinya, aku jadi kulkas lagi deh!" balas Leon pura - pura marah.
__ADS_1
"Duh gitu aja marah sayang, jangan dong. Aku suka kamu yang sekarang lebih lucu dan imut hehehe.." masih saja Viona menggoda Leon.
Tak terasa mereka sudah sampai kantin kampus. Suasana sudah ramai karena memang jam makan siang.
Kantin 'Mawar' namanya, di sana menyediakan beraneka ragam masakan nusantara yang penyajiannya dibuat model prasmanan.
Leon memilih menu sop ikan patin dan es jeruk, sedangkan Viona memilih pecel madiun beserta telur ceplok dan rempeyek udang, minumnya teh hangat.
Leon dan Viona tidak memperhatikan ada sepasang mata mengamati mereka dengan rasa cemburu, siapa lagi kalau bukan Adrian.
Adrian melambaikan tangannya ke arah Viona, "Vio duduk di sini!" tawarnya.
Berhubung yang nampak kosong hanya ada dua kursi semeja dengan Adrian dan David, terpaksa Leon mengikuti kemauan Viona untuk bergabung dengan mereka.
Setelah duduk Viona mengenalkan Leon kepada Adrian dan David.
Nampak suasana canggung diantara mereka, entah mengapa Leon tidak menyukai saat Adrian menatap Viona. Namun Leon berusaha menepis rasa curiganya.
"Gimana kuliahnya Vio? lancar kan?" ucap Adrian memulai perbincangan supaya suasana tidak kaku.
"Eh lancar kak. Sudah mulai adaptasi kok, apalagi teman - temanku seangkatan kompak." jawab Viona lugas.
"SMA 1 Nusantara kak. Aku dan Leon lulusan sana semua." jawab Viona.
"Bentar, kalau dari SMA 1 Nusantara, kalian kenal Citra ga?" tanya David tiba - tiba.
"Citra Kharisma ya kak?" tanya Viona kembali.
"Betul! wah dunia memang sempit ya, kebetulan temanku, Sisil, itu saudara sepupunya Citra." jelas David sambil tersenyum.
"Iya ya kok kebetulan sekali ya. Kak David udah lama kenal dengan Citra?" tanya Viona.
"Belum juga sih paling sekitar 1 tahunan yang lalu. Dia sekarang kuliah di Fakultas Ekonomi kan?" tanya David dengan semangatnya, nampak dari sinar matanya yang berbinar ketika menyebut nama Citra.
"Iya betul, kami sahabatan kak." kata Viona.
"Wah kebetulan sekali dong, eh maaf sebelumnya, Viona bisa minta nomor teleponmu?" pinta David.
Viona bingung menjawabnya, ia hanya menatap Leon meminta persetujuannya, dan tak ayal lagi Leon menatap sengit ke arah David sambil berkata, "Terserah kamu sayang!" ucapnya ketus.
__ADS_1
"Maaf.. maaf Leon tidak bermaksud apa - apa kok, aku hanya ingin menanyakan tentang Citra saja. Kalau umpama tidak boleh juga ga pa - pa." ujar David bijak.
"Ya silahkan, asal sekedar tentang Citra saja ya bang!" jawab Leon dingin, ia juga tidak bisa melarang terang - terangan di depan David dan Adrian.
"Siap, tenang aku tidak akan merebut Viona kok. Makasih ya." ujar David.
Tiba - tiba Adrian kena batuk musiman mendengar sindirin David, "Huk.. huk.. huk..!"
"Nih minum dulu Dri!" ucap David sambil tertawa dalam hati, karena berhasil menjahili sahabatnya itu.
Leon hanya mengamati sikap Adrian, ia merasa aneh saja, ketika David berbicara seperti itu, ia merasa seolah - olah sedang menyindir Adrian.
Viona merasakan Leon sudah tidak nyaman berada di situ. Sehingga setelah selesai makan Viona langsung pamit.
Leon hanya tersenyum tidak mengatakan apa - apa.
Setelah Leon dan Viona pergi, David berbicara kepada Adrian, "Kamu masih mau mengejar Viona? lihatlah Leon sebegitu posesifnya, kaliatan tadi dia seperti curiga lho."
"Curiga ke siapa? bukannya kamu tadi yang minta nomor telepon Viona." tanya Adrian kembali.
"Dasar ga peka kamu Dri! Tadi kamu kelihatan banget pas memandang Viona. Makanya aku alihkan supaya Leon tidak curiga sama kamu dodol!" jelas David.
"Masak sih.. keliatan banget ya? Entahlah.. aku juga bingung. Kenapa ya disaat aku mulai membuka hatiku pada seorang wanita, eh malah sudah punya pacar. Kalau umpama aku mendekati sebagai teman masih boleh kan Vid?" kata Adrian yang menampakkan kegalauannya.
"Dasar kamu ya, terserah kamu Dri.. aku pesan hati - hati, kalau memang mau sebagai teman ya beneran murni berteman, jangan terlalu mengharap balasan. Dan ingat satu hal, aku tidak mau kamu terluka lagi! Oke!" pesan David kepada sahabatnya.
"Makasih Vid, semoga saja ya." ucap Adrian. Memang sudah resiko yang harus ia tanggung, kalau berani mencintai seorang wanita yang memiliki kekasih.
^^^Kau begitu indah ,^^^
^^^dan sulit kugapai,^^^
^^^Biarkan aku menjadi^^^
^^^ pengagum rahasiamu,^^^
^^^#Adrian Permana#^^^
bersambung...
__ADS_1