
Tepat jam 8 malam kereta yang membawa Leon sampai di Stasiun Kota B. Satu persatu penumpang keluar dari gerbong kereta menuju pintu keluar, termasuk Leon.
Mang Odang telah sampai juga di parkiran stasiun, mendengar pengumuman kalau kereta yang ditumpangi majikannya tiba, ia segera bergegas menuju depan pintu keluar.
Leon melambaikan tangannya ke arah Mang Odang, yang nampak sedang mencarinya.
"Halo mang, apa kabarnya?" ucap Leon sambil menyalami Mang Odang. Memang Leon sifatnya baik, dia tidak pernah merasa sok majikan.
"Baik den hahaha..." jawab Mang Odang sambil menyalami balik Leon, "sini atuh den, mamang bawakan tasnya."
"Ga usah mang, cuman tas ransel aja kok. Mamang bantuin bawain kardus ini aja."
Mereka berdua beriringan menuju mobil ke parkiran stasiun.
Tak lama kemudian sampailah Leon di rumahnya.
Papa Dirga, Mama Audi dan adiknya Dimas menyambut kedatangan Leon dengan bahagia.
Mama Audi langsung memeluk Leon, "Mama kangen banget sama kamu sayang, kamu memang bandel ya, kalau tidak disuruh pulang pasti tidak mau!"
"Ihh Mama berlebihan deh, Leon juga kangen kok." ujar Leon sambil membalas pelukan mamanya.
"Papa ga dipeluk juga nih?" protes Papa Dirga.
Leon tersenyum, ia memeluk papa dan adiknya secara bergantian.
"Leon, sana bersihkan dirimu dulu setelah itu kami tunggu di meja makan ya." titah Mama Audi.
Leon menganggukkan kepalanya dan segera menuju kamarnya. Dia juga sudah tidak tahan ingin segera mandi.
Selesai mandi, Leon menyusul keluarganya di meja makan. Mereka sudah sedari tadi menunggu Leon.
Makan malam dimulai, tak ada satupun yang bersuara. Hanya denting suara sendok dan garpu yang terdengar.
Mama Audi masak spesial kesukaan Leon, yaitu sup iga sapi. Leon pun dengan lahap memakannya. Sebenarnya dia juga sangat merindukan keluarganya. Namun berita perjodohan itu yang membuat ia enggan pulang.
Acara makan malam selesai, mereka pindah di ruang keluarga, sambil menikmati salad buah buatan Mama Audi.
"Leon besok malam kamu jangan kemana - mana. Kamu ikut ke rumah sahabat papa. Jam 6 sore kita berangkat." titah Papa Dirga.
"Ya Pa." jawab Leon singkat, Papanya merupakan tipikal orang yang tegas dan berwibawa, sehingga Leon tak berkutik melawannya.
"Dimas ikut tidak Pa?" tanya Dimas tiba - tiba.
"Ikutlah, supaya nanti kalian semua mengenal keluarga sahabat lama Papa, mereka baru saja kembali dari Jerman. Namanya Andika Sanjaya, memiliki seorang putri tunggal, Aurora namanya, ia nanti yang ingin Papa jodohkan denganmu Leon." jelas Papa Dirga.
"Hihii kayak zaman Siti Nurbaya aja ya Pa, apa kakakku yang ganteng ini sudah tidak laku?" celoteh Dimas yang langsung mendapat tatapan tajam dari Leon.
"Dimas, jangan kau goda kakakmu, ntar ngambek lagi!" goda Mama Audi.
__ADS_1
"Kenapa harus Leon sih Pa? Leon kan baru lulus SMA, belum mau menikah juga. Leon juga masih sanggup cari sendiri" protes Leon.
"Anak Papa kan cuman 2, sedang Dimas baru umur 13 tahun, masak dia? Yang jelas Aurora seumuran denganmu Leon, jangan bantah dulu, kamu nanti pasti suka, anaknya cantik dan pintar. Nanti bakalan juga kuliah sama kamu di Kota Y."
"Terserahlah, aku istirahat duluan ya, aku capek." balas Leon tak semangat, jadi beneran perjodohan ini, kemudian dia ke kamarnya.
Di kamar Leon.
'Ya ampun ak lupa kabari Viona, handphone mana ya.' batin Leon.
Leon mencari handphonenya di dalam tas. Ternyata baterenya habis. Kemudian ia mencharge handphonenya sambil membuka inbox pesannya.
Yang pertama ia buka tentunya dari Viona.
Viona : "Lee.. aku sudah sampai rumah. Kamu sampai mana?" (jam 16:35)
Viona : "Lee.. kamu tidur ya di kereta? kok pesanku belum dibalas? (jam 17:06)
Leon segera menelepon Viona, tak lama kemudian telepon diangkat.
Viona : "Halo Lee.." (dengan suara serak khas orang yang bangun tidur)
Leon : "Kamu sudah tidur ya Vio? maaf ya jadi bangun."
Viona : "Ga pa - pa, kamu udah sampai rumah? kok belum kasih kabar sih?"
Viona : "Ya syukurlah Lee kalau sudah sampai. Ya aku mau tidur lagi, ngantuk banget. Met malam Lee!"
Leon : "Met malam juga Vionaku!"
Deg... mendengar ucapan 'vionaku' membuat jantung Viona sesaat berhenti berdetak. 'Sudahlah.. ga usah dianggap, Leon paling hanya menggodaku' batinnya. Kemudian Viona melanjutkan lagi tidurnya.
**
Keesokkan paginya, Leon baru terbangun ketika matahari sudah mulai terik, dan merasakan ada tangan yang melingkar dipinggangnya.
Leon tersentak kaget, ternyata adiknya Dimas yang memeluknya dari belakang.
Dimas memang seperti itu sangat manja dengan kakaknya, apalagi mereka jarang bertemu. Dimas sudah meminta izin orangtuanya untuk ikut sekolah di Kota Y. Namun dilarang karena kedua orangtuanya tidak mau semua anaknya berjauhan. Mereka mengizinkan jika nanti Dimas sudah lulus SMA.
"Dim, bangun yuk udah siang, kakak laper nih."
Dimas hanya menggeliatkan badannya namun matanya masih terpejam.
Leon sangat gemas dengan polah adiknya, ia menggelitiki perut Dimas. Dan usahanya berhasil, Dimas terbangun dengan wajah manyun.
Kemudian mereka mandi di kamar masing - masing. Rencananya siang ini mereka akan bermain game saja, karena sorenya sudah janjian dengan kedua orangtua mereka.
Sore menjelang, nampak seluruh anggota keluarga Dirga telah siap berangkat.
__ADS_1
Mama Audi nampak cantik dan elegan di usianya dengan memakai dress berbahan satin selutut berwarna biru tua.
Sedangkan Papa Dirga tetap keliatan gagah memakai kemeja yang warnanya senada dengan istrinya.
Leon memakai kemeja kasual berwarna abu - abu dan celana jeans warna hitam.
Dimas memakai kaos polo berkerah warna merah maroon dan celana jeans warna coklat.
Penampilan keduanya memang sederhana namun tak mengurangi ketampanan wajah mereka.
Jam 6 sore mereka sekeluarga berangkat menuju rumah Pak Andika, yang berjarak sekitar 15 km dari rumah mereka.
***
Di rumah keluarga Andika Sanjaya, nampak mereka telah siap menerima kedatangan keluarga Dirga.
Aurora telah berdandan rapi dengan memakai dress putih selutut dengan hiasan pola hati merah. Penampilannya sesuai dengan kecantikan wajahnya.
Aurora sangat bersemangat dengan perjodohan ini, karena pernah melihat foto Leon, yang ganteng mirip idol KPop. Hanya dengan melihat fotonya, ia sudah jatuh cinta.
Pak Andika dan istrinya memakai pakaian serimbit yang berwarna merah maroon.
Tak lama kemudian datanglah keluarga Dirga Aditama.
"Halo Dirga, selamat datang di rumahku!" ucap Andika menyambut Dirga sekeluarga, didampingi istrinya, Lusi, sedangkan Aurora masih di kamarnya.
"Halo juga Dika, ini aku bawa sekeluargaku, ini istriku Audi, dan kedua putraku, Leon dan Dimas."
Mereka bergantian bersalaman.
"Wah putra Pak Dika ganteng semua. Oh ini ya yang namanya Leon?" ucap Mama Lusi sambil mengamati Leon dari atas ke bawah, yang menampakkan kekagumannya.
"Eh iya Tante, saya Leon." jawab Leon sambil menampilkan senyuman terpaksa. Mama Audi yang melihat itu langsung menyenggol Leon, dan berbisik, "jaga sikap ya sayang."
Leon membalas juga dengan berbisik, "iya mamaku sayang!"
"Benar Dika, ini anakku Leon yang nantinya mau dijodohkan dengan Aurora. Sedangkan yang kecil namanya Dimas." terang Papa Dirga.
"Ya... ya... ganteng sekali ya, Oh ya maaf sampai lupa, mari silahkan duduk, Ma panggilkan Rara (panggilan Aurora)." kata Papa Andika.
"Iya Mas." jawab Mama Lusi.
Tak lama kemudian nampak Aurora menuruni tangga yang berada di samping ruang tamu.
Secara reflex semuanya menoleh ke arah tangga karena mendengar suara ketukan sepatu yang menuruni tangga.
"Wow cantik sekali!" ucap Mama Audi dan Dimas spontan.
bersambung...
__ADS_1