
5 tahun kemudian...
Terdengar suara tangisan bayi di sebuah rumah sakit bersalin di Kota Y.
"Selamat ya Di, kamu sudah sah jadi seorang ayah!" ucap Leon kepada Abdi.
"Terimakasih ya bro! Kamu jauh - jauh menyempatkan diri datang. Mana Viona?" balas Abdi.
"Ga repot kok, kebetulan saja aku ada urusan sejak kemarin di sini. Maaf Viona belum bisa ikut menengok." alasan Leon, padahal ia tidak yakin sekarang Viona berada di mana.
"Ya ga pa - pa, kan lain kali bisa menengok ponakannya. Eh itu ruang bersalin sudah dibuka." ucap Abdi.
"Bapak Abdi Kusuma?" tanya seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang bersalin.
"Saya dok. Bagaimana anak dan istri saya dok?" jawab Abdi.
"Selamat ya pak, putri anda lahir dengan lancar dan sehat!" kata dokter tersebut.
"Terimakasih Dok. Boleh saya menengok mereka?" tanya Abdi.
"Silahkan masuk!" jawab dokter itu.
"Ya. Ayo Leon kita liat Abdi junior!" ajak Abdi kepada Leon.
Mereka berdua menuju tempat di mana Aurora berada.
Abdi melihat istrinya masih tergolek lemah, di sampingnya ada box bayi.
Tak terasa airmata Abdi menetes, ia sangat bahagia dan terharu saat melihat putri cantiknya yang sedang tertidur.
"Ya Tuhan, terimakasih atas karuniaMu yang luar biasa, sekarang aku telah menjadi seorang ayah." ucap syukur Abdi.
"Rara sayang, terimakasih ya!" ucapnya kembali sembari mencium kening istrinya.
"Iya Mas, kita sekarang jadi orangtua Mas." jawab Aurora.
"Iya sayang, kalau kuberi nama Kirana Puteri Kusuma, bagaimana sayang?" tanya Abdi meminta pendapat istrinya.
"Bagus Mas, aku suka namanya! Oh ya Papa dan Mama Andika belum sampai?" jawab Aurora.
"Sudah aku kabari semalam sayang, mungkin sebentar lagi sampai. Ayah dan Ibu Kusuma sedang menjemput mereka ke bandara. " jelas Abdi.
"O ya sudah, kita tunggu saja para kakek dan neneknya!" balas Aurora sambil tersenyum.
"Selamat ya Rara dan Abdi! Atas kelahiran putrinya!" ucap Leon menyela perbincangan mereka.
"Makasih Leon. Mana Viona?" tanya Aurora.
__ADS_1
"Eh Vio belum bisa ke sini. Dia belum bisa pulang, katanya masih banyak tugas." alasan Leon.
Namun Aurora dapat merasakan kegelisahan dari jawaban Leon.
"Kalian baik - baik saja kan?" tanya Aurora curiga.
"Eh.. baik - baik saja kok. Cuman akhir - akhir ini Viona memang sibuk. Mungkin sedang banyak tugas kuliahnya." jelas Leon gugup.
*Flashback 1 tahun yang lalu*
Sore itu Leon sudah mempersiapkan diri dan membawa sebuah cincin yang cantik untuk melamar Viona.
Di kamarnya, Viona sedang membaca sebuah surat yang baru saja ia terima, setelah membacanya ia sangat bahagia sekali.
Tok.. tok... tok..
Pintu kamar Viona diketuk oleh mamanya.
"Vio.. ada Nak Leon datang!" ucap Mama Sinta sambil membuka pintu kamar Viona.
"Ya Ma, sebentar." jawab Viona kemudian ia melangkah menuju ruang tamu.
Melihat Viona muncul, Leon mulai gugup akan mulai darimana.
"Hai sayang, maaf membuatmu menunggu. Aku ada kabar gembira nih." ucap Viona dengan ekspresi bahagia.
"Wah apa tuh?" tanya Leon penasaran.
Leon menerima surat tersebut dan membacanya, ia mengeryitkan dahinya tanda meminta penjelasan.
"Apa maksudnya ini Vio?" tanya Leon.
"Aku diterima kuliah S2 Agribisnis ke Australia Leon!" jawab Viona sambil tersenyum bahagia.
"Apa? Kapan kamu mendaftarnya?" tanya Leon terkejut.
"Maaf sayang, awalnya aku hanya iseng saja ikut testnya dan mau kasih surprise untukmu! Kok kamu ga seneng sih aku ketrima?" ucap Viona pura - pura ngambek.
"Bukannga tidak senang sayang, tapi janji kita kalau sudah lulus kuliah bagaimana?" jawab Leon lirih.
"Maaf ya sayang, aku pengen sekali melanjutkan S2 Agribisnis itu, dan program studinya aku suka. Kamu mau kan menungguku? Aku janji paling lama 2 tahun kok. Ya? Boleh ya?" kata Viona sambil memohon.
"Ya bagaimana lagi. Kalau itu memang apa yang kau cita - citakan, aku bisa apa? Tapi janji paling lama 2 tahun!" ucap Leon pasrah, cincin yang sudah ia persiapkan terpaksa harus disimpan kembali. Ia juga tidak mungkin menghalangi keinginan Viona.
"Iya, makasih ya sayang!" balas Viona sambil memeluk Leon.
Akhirnya Leon dan Viona menjalani hubungan jarak jauh. Setelah wisuda S1, Viona berangkat ke Australia, sedangkan Leon memutuskan kembali ke kota asalnya. Ia membantu perusahaan papanya.
__ADS_1
*Flasback Off*
"Leon.. Leon.." ucap Abdi sambil menggoyangkan bahu Leon.
"Eh.. iya maaf aku melamun." jawab Leon malu.
"Viona tidak bisa pulang ya Leon? bukannya ini liburan semester." selidik Aurora.
"Entahlah Ra, kemarin aku sudah hubungi, tapi sampai sekarang belum di balas semua chat sampai emailku." jelas Leon kecewa.
"Sabar ya bro. Oh ya coba tanyakan Putra, siapa tau dia bisa mencari kabar bagaimana Viona." saran Abdi.
"Oh ya, kenapa aku tidak berpikir seperti itu ya, nanti aku hubungi Putra dulu, anak itu betah juga di Aussie ya." balas Leon.
"Dapat bule kali hahaa.." ledek Abdi.
Sebenarnya Leon agak cemburu mendengar nama Putra disebut. Karena ia tahu dulu Putra pernah mencintai Viona, kadang saat Viona susah dihubungi, tingkat kecemburuannya meningkat.
Setelah menengok kelahiran putri pertama sahabatnya Abdi dan Aurora, Leon menuju ke rumah Viona. Sekalian menengok Mama Sinta dan Papa Arga, mumpung ia sedang ada urusan bisnis di Kota Y.
Leon memencet bel rumah Viona. Tak lama kemudian Mbok Narti keluar membuka gerbang dan mempersilahkan Leon masuk.
"Eh Mas Leon.. lama ga kelihatan. Silahkan masuk mas!" sapa Mbok Narti ramah.
"Makasih Mbok, Om dan Tante ada?" tanya Leon.
"Adanya ibu saja Mas. Sebentar saya panggilkan dulu, Mas Leon silahkan duduk." jawab Mbok Narti sambil mempersilahkan Leon duduk.
Tak lama kemudian Mama Sinta keluar, wajahnya keliatan bahagia melihat Leon.
"Halo Nak Leon, kok ga kasih kabar dulu kalau mau ke sini sih. Apa kabarnya?" sapa Mama Sinta, sambil menyalami Leon.
"Kabar baik Tante!" jawab Leon sambil menjabat tangan Mama Sinta.
"Ya syukurlah, sering main ke sini Nak, walaupun Vionanya ga ada." ucap Mama Sinta.
"Pasti mampir Tante, kalau saya pas ke Kota Y, tadi sekalian nengok bayi Tan. Abdi sudah jadi seorang ayah." jelas Leon.
"Oh ya.. selamat buat Abdi dan Aurora. Nanti kalau mereka sudah di rumah saja, Tante mau melihat Abdi junior seperti apa." ucap Mama Sinta.
"Jadi Viona tidak jadi pulang Tante?" tanya Leon.
"Loh Vio belum kasih kabar?" tanya kembali Mama Sinta, beliau keheranan Leon tidak tahu.
"Belum Tan, dari kemarin pesan saya belum di balas." jawab Abdi.
"Besok kira - kira jam 10 dia sampai di bandara." kata Mama Sinta.
__ADS_1
"Owh..." balas Leon kecewa.
bersambung...