Cinta Lama Belum Usai

Cinta Lama Belum Usai
Layu Sebelum Mekar


__ADS_3

Leon mengikuti arah pandang matanya Viona, ia terkejut dan reflex berucap, "Aurora?!"


"Apa Lee?" timpal Viona.


"Eh itu di luar ada Aurora, cewek itu yang aku ceritakan tadi, anaknya teman papaku." jawab Leon gugup. Dia sudah menduga pasti Aurora bisa datang ke rumah Viona pasti menghubungi Dimas.


"Owh itu yang namanya Aurora, cantik ya Lee? yuk kita keluar" ajak Viona tanpa menaruh curiga sedikitpun.


Leon mengikuti Viona keluar.


Leon langsung menatap Dimas seperti meminta penjelasan. Yang ditatap hanya tersenyum penuh arti.


"Hai Leon, maaf ya aku jadi menyusul kalian. Tante perkenalkan saya Aurora." sapa ramah Aurora.


"Halo saya Mama Sinta, mamanya Viona. Kamu temannya Dimas dan Leon?" jawab Mama Sinta.


"Iya Tante, saya.." belum selesai Aurora berkata sudah di potong bicaranya sama Leon.


"Iya Tante, dia anak teman papaku yang mau kuliah di sini." kata Leon, ia takut kalau Aurora asal bicara.


"Wah nanti bisa jadi teman Viona juga ya sayang, oh ya Aurora ini anak Tante, namanya Viona. Teman SMAnya Leon."


"Hai Viona, aku Aurora!" kata Aurora dengan cerianya.


"Hai, salam kenal. Kamu kemarin bareng Lee ya? eh maksudku Leon." balas Viona sambil tersenyum ramah.


Aurora merasa ada yang janggal, kalau Viona hanya berteman, kenapa ada panggilan spesial.


"Oh ya, Tante Sinta, aku minta izin ajak Viona menemaniku mengantar Dimas dan Aurora keliling kota, boleh kan Tante?"


"Ya silahkan, terserah Viona saja mau ikut tidak, gimana sayang?" jawab Mama Sinta.


Leon menatap Viona meminta jawaban. Viona mengangguk. Mereka berempat akhirnya pergi bersama.


Di dalam perjalanan, Dimas tetap setia duduk di depan menemani Pak Kurdi, sedangkan di kursi belakang Viona duduk diantara Leon dan Aurora.


"Viona aku boleh nanya tidak?" ucap Aurora.


"Tanya apa?" balas Viona.

__ADS_1


"Tentang Leon." jawab Aurora singkat.


"Heyy.. aku ada di sini lho, masak kalian mau membicarakan aku?" timpal Leon tidak terima.


"Dihhh yang langsung besar kepala, aku cuma mau nanya bagaimana kamu di SMA, apakah punya kekasih? itu saja kok." elak Aurora.


"Sudah jangan berantem, Leon anaknya cuek dan dia belum memiliki kekasih, kamu suka ya sama dia?" jelas Viona.


"Huk..huk.." tiba - tiba Leon batuk musiman, "sudah terus aja gosipin aku!"


"Eh ga kok Vio, pengen tau aja. Jadi sikapnya emang cuek dan jutek seperti itu ya, pantesan. Oh ya, kenapa kamu bisa betah temenan sama Leon sih?" tanya Aurora lagi.


"Walaupun Leon cuek tapi kalau kita udah kenal dekat, dia tipe cowok yang perhatian kok Aurora." balas Viona.


"Owh gitu ya, termasuk sama kamu Vio hehe.. Panggil aku Rara saja, biar kita lebih kenal dekat ya Vio." ujar Aurora menimpalinya.


"Oke Rara deal!" jawab Viona.


Leon dan Dimas hanya jadi pendengar yang baik. Viona nampak langsung akrab dengan Aurora. Ternyata mereka punya hobi yang sama KPop lovers.


Setelah berkeliling dan mengenalkan beberapa tempat kepada Aurora dan Dimas, termasuk kampus Aurora nantinya. Mereka melanjutkan makan di sebuah cafe yang terkenal.


Leon dan Viona duduk bersebelahan, awalnya Aurora mau duduk di sebelahnya, namun Leon menatap tajam tanda melarangnya.


Akhirnya Aurora duduk di depan Leon dan bersebelahan dengan Dimas.


Dimas terlihat senang sekali, karena dimasa - masa usianya dia jarang pergi keluar dengan teman sebayanya. Kedua orangtuanya terlalu protektif membatasi geraknya.


Aurora nampak mengamati gesture tubuh Leon dan Viona. Nampak Leon perhatian secara sikap, dalam menatap mesra Viona, dan kadang tangannya merangkul bangku Viona. Walaupun tidak langsung merangkul bahu Viona namun terlihat sikap posesif seorang pria terhadap wanita. Berbeda kalo dengan dirinya cenderung menghindar secara halus dan cuek. Apa ini namanya cinta bertepuk sebelah tangan ya? Seperti bunga yang layu sebelum mekar.


Setelah selesai menyantap hidangan, Viona pamit ke toilet dan diikuti Dimas, hanya tinggal Leon dan Aurora.


"Jadi dia wanita yang kau cintai Leon?" tanya Aurora tiba - tiba.


Leon tersenyum, "terserah penilaianmu apa, aku harap jangan pernah kamu katakan pada Viona tentang perjodohan kita! aku tidak main - main!" ancamnya.


"Ihhh serem.. Leon apakah tidak ada sedikit saja ruang dihatimu untukmu?" tanya Aurora dengan wajah mengiba.


"Maaf.. aku tidak bisa. Aku sangat menyayanginya." jawab Leon tegas.

__ADS_1


"Aku ke toilet dulu." pamit Aurora. Ia tak kuasa menahan tangisnya.


Leon hanya mengacak - acak rambutnya. Kenapa posisinya terlalu sulit. Ia tidak bermaksud menyakiti siapapun termasuk wanita - wanita agresif yang menyukainya. Ia tidak mungkin kan pura - pura menyukai supaya tidak menyakiti. Sekarang ia di posisi yang sulit antara memilih Viona cinta sejatinya atau Aurora pilihan orangtuanya.


Di dalam toilet Aurora menumpahkan tangisnya. Viona keluar dari salah satu pintu toilet dan melihat Aurora menangis.


"Loh Rara.. kamu kenapa menangis?" tanyanya penasaran.


"Eh Vio.. ga pa - pa kok. Aku lagi galau aja, kamu beruntung Vio!" jelas Aurora.


"Maksudmu apa?" tanya Viona bingung.


"Kamu beruntung bisa punya teman seperti Leon." jawab Aurora.


"Aku juga beruntung punya sahabat seperti Leon." ucap Viona mantap.


"Sahabat? maksudnya apa Vio?" Aurora yang ganti dibuat bingung.


"Iya Leon sahabatku. Kami sampai saat ini hanya bersahabat, selama aku kenal Leon, dia belum pernah sekalipun memiliki kekasih. Kenapa? apa kamu suka ya sama dia? dia memang banyak fansnya. tapi belum ada yang nyantol." jelas Viona, padahal dalam hatinya ingin ia mengatakan kalau mereka bisa lebih dari sahabat.


"Biasa aja kok. Kami juga baru kenal." elak Aurora, 'Jadi Viona belum tau kalau Leon mencintainya. Wah masih ada kesempatan nih' batinnya.


"Udah yuk kita keluar dari toilet, masak ngobrol di sini. Bau hahaa!" ucap Viona.


"Iya ya.. kok aku baru sadar, yuk kita kembali ke sana." balas Aurora ikut tertawa.


Viona dan Aurora berjalan beriringan, nampak banyak mata memandang kagum ke arah keduanya. Mereka berdua memiliki wajah cantik yang khas.


Begitupun Leon, ia menatap Viona penuh arti. 'Maaf Vio, aku belum sanggup cerita, aku takut kehilanganmu!' batinnya.


Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan menuju supermarket terlebih dahulu sebelum mengantar Viona. Leon hendak berbelanja kebutuhan sehari - hari, karena stok di apartemennya habis.


Di dalam supermarket secara spontan Leon berduaan dengan Viona, seperti sudah terbiasa berbelanja bersama. Itulah yang membuat Aurora cemburu. Aurora masih bisa menahan dirinya, karena Dimas seperti mengetahui perasaannya. Dimas dengan setianya menemani Aurora keliling supermarket.


Selesai berbelanja, mereka menuju rumah Viona. Leon sekalian akan mengambil motornya yang dititipkan di rumah Viona.


bersambung..


*terimakasih yang sudah baca karyaku*

__ADS_1


__ADS_2