
"Aurora i can hear you!" protes Leon ketus sambil melihat ekspresi wajah Aurora yang kesal.
Leon cukup senang dengan reaksi Aurora, mudah - mudahan rencananya berhasil.
"Apaan sih! Ya syukurlah kalo kamu dengar!" timpal Aurora cuek.
Leon hanya geleng - geleng kepala menanggapinya.
Sampailah mereka di Mall terbesar di Kota B. Mereka memilih untuk menonton film dulu di bioskop.
Saat sedang mengantri tiket, mendadak handphone Leon berbunyi, nampak nama 'Vionaku' yang muncul.
Aurora sempat melihat nama yang muncul karena ia berdiri tepat di belakang Leon, 'Apa itu pacarnya ya?' batinnya.
Leon memberi kode kepada Aurora untuk mengantri sendiri, karena Dimas sedang ke toilet.
Leon mencari tempat yang tidak terlalu ramai untuk menerima panggilan telepon.
Leon : "Yaa halo Vio?"
Viona : "Halo juga Lee, kamu lagi apa?"
Leon : "Aku lagi mau menonton film di bioskop. Kamu kangen ya hehee.."
Viona : "Duh segitunya ya pengen dikangenin, nonton sama siapa aja?"
Leon : "Sama adekku Dimas, dan anak teman papaku."
Viona : "Ya, salam kenal buat Dimas ya. Anak teman papamu cowok juga?"
Leon :"Eh.. dia cewek. Mama tadi nyuruh ngajakin, kan belum lama ini dia balik dari Jerman, jadi belum punya teman di Indo."
Viona : "Cantik ya? namanya siapa?seumuran denganmu?"
Leon : "Kalau cantik mah relatif, namanya Aurora, ntar aku kenalin ya. Masih cantikkan kamu Vio."
Viona : "Wueekkk pengen muntah haha!"
Leon : "Aku kangen kamu Vio."
Viona : "Makanya jangan kelamaan, cepat balik ke sini ya."
Tiba - tiba Aurora dan Dimas sudah berada di samping Leon.
Aurora mengetahui kalau Leon masih menelepon, maka dengan sengaja ia berkata dengan suara yang agak keras, "Leon, ini tiketnya udah dapat, nanti kamu duduk di sebelahku ya!"
Alhasil Leon melotot ke arah Aurora sambil menutup speaker handphonenya, "Diam kamu!"
Viona : "Lee.. Lee.. kamu masih di sana kan? kok tadi ada suara cewek?"
__ADS_1
Leon : "Eh.. anu.. itu ada orang ga jelas berdiri di sebelahku, ga usah di pikirin Vio, udah dulu ya teleponnya, filmnya udah mau mulai, aku masuk studio dulu. Miss u!"
Viona : "Ya sudah ga pa - pa, have fun ya Lee, bye"
Leon : "Bye Vionaku!"
kemudian Viona menutup panggilannya.
Leon memasukkan handphone ke saku celananya, "Aurora kamu sengaja kan tadi? awas kamu macam - macam lagi!" ancamnya.
"Terserah aku dong, kamu kan calon suamiku." goda Aurora.
"Dalam mimpimu!" ucap Leon ketus sambil meninggalkan Aurora dan Dimas menuju studio 1 dan merebut tiket yang dibawa Aurora.
"Udah Kak Rara, ga usah dimasukkin hati ya, Kak Leon emang seperti itu. Yuk kita masuk studio 1, filmnya udah mau mulai tayang." ajak Dimas.
Aurora merangkul bahu Dimas, tinggi mereka hampir sama, "Andaikan umur kita sama ya Dim, dan sikap kakakmu sepertimu. Mungkin lebih mudah perjodohan ini"
"Kalau Kak Rara mau nunggu aku dewasa ga pa - pa lho hahaha..." candaan Dimas yang disambut tertawa juga oleh Aurora.
"Bisa aja kamu!" ucap Aurora sambil mengacak gemas rambut Dimas.
Sesampainya di dalam studio sengaja Aurora duduk di antara Dimas dan Leon.
Leon masih cuek dan bersikap dingin dengan Aurora. Namun kebalikannya, Aurora malah sengaja menggoda Leon terus menerus. Mereka seperti tom dan jerry. Alhasil Dimaslah yang sering menjadi penengahnya.
Selesai menonton film, Leon langsung mengajak mereka pulang. Ia sudah tidak mood jalan - jalan.
**
Di Kota Y, tepatnya di rumah Viona.
Viona sedang merenung, setelah menelepon Leon, banyak pertanyaan yang timbul dikepalanya.
Siapa cewek itu? kenapa Leon tidak cerita kepadanya, kok tadi mau mengenalkan cewek itu, kapan mereka akan bertemu, sepertinya ada yang sedang disembunyikannya.
Leon biasanya juga anti dekat dengan cewek lain selain dia.
Tapi haknya apa kalau cemburu? Toh Leon sampai saat ini Leon belum mengungkapkan perasaannya.
Walaupun Leon sering bilang kangen, dan memanggil dengan sebutan 'Vionaku' tapi status hubungan mereka masih belum jelas sampai saat ini.
Saat melamun, ada pesan masuk di handphonenya. Viona membuka, ternyata ada pesan dari nomor asing.
Viona mengecek apa isinya.
No Name : "Halo tuan putri Viona apa kabar?"
Viona berpikir sebentar, yang biasa panggil dia seperti itu adalah.. Putra!
__ADS_1
Viona membalas pesannya : "Halo, ini Putra ya? bener kan?"
Ting.. pesan masuk
No name : "Betul sekali, aku senang tuan putri masih mengingat hamba hehee.."
Viona : "Haiiii.. apa kabarmu di sana? jadi keterima kuliah di mana? kabarku baik Put." (dengan cepat menamai kontak tadi dengan nama 'Putra')
Putra : "Kabarku baik. Belum tau nih Vio, masih menunggu pengumuman. Tapi aku yakin diterima karena skorku melebihi passing grade. Kamu bagaimana Vio? dan juga kabar Leon, Abdi dan Citra bagaimana?"
Viona : "Sama juga di sini belum ada pengumuman, kemungkinan 2 minggu sejak tes. Masih jadi pengangguran nih hehe.."
Putra : "Jadi kangen kalian, aku belum punya teman di sini. Sepi rasanya!"
Viona : "Sabar Put, ntar kalau sudah kuliah pasti punya teman banyak, cari pacar bule aja Put, perbaikan keturunan, peace!!"
Putra : "Maunya sih sama kamu hehehe.. tapi kamu malah milih sama Leon hiks..hiks.."
Viona : "Duh segitunya, kamu pasti dapat cewek yang lebih dari aku Put! semangat!"
Putra : "Hubunganmu dengan Leon udah naik level belum?"
Viona : "Kok pakai level - levelan.. kayak pedasnya ramen aja hahaa!"
Akhirnya mereka berbalas pesan sampai sore. Viona mengakhiri chatnya karena harus mandi dan membantu mamanya memasak untuk makan malam.
Berkat pesan - pesan yang dikirimkan oleh Putra sedikit bisa mengurangi kegalauan dihati Viona.
Sebenarnya menurut Viona, si Putra juga cowok yang menyenangkan, selain tipe cowok romantis dia juga berwajah tampan tak kalah dari Leon.
Namun entah kenapa Viona tidak memiliki perasaan apa - apa terhadap Putra, hanya menganggap teman biasa. Ia malah lebih nyaman bersama Leon yang bertipe cuek dan dingin.
Bersama Leon ia banyak belajar tentang kehidupan. Leon tipe cowok mandiri yang tidak mau terlalu tergantung bantuan dari kedua orangtuanya. Karena kecerdasannya juga, ia sering mendapat beasiswa.
Malamnya Leon menelepon Viona, ia menanyakan Viona sedang apa.
Kesempatan itu digunakan Viona untuk menanyakan siapa Aurora.
Leon pun menjelaskan bahwa Aurora adalah anak dari teman papanya, nanti juga akan kuliah di Kota Y. Berhubung Aurora sejak SMP sampai SMA sekolah di Jerman jadi belum mempunyai teman di Indo, sehingga Papanya menyuruh menemani Aurora.
Namun Leon masih menutupi kenyataan bahwa ia dijodohkan dengan Aurora. Leon tidak mau menghancurkan hubungannya dengan Viona, apalagi sekarang mereka baru memulai tahap baru.
Leon masih belum siap, ia mempunyai rencana setelah kembali lagi ke Kota Y, ia akan mengungkapkan perasaan cintanya kepada Viona. Nanti kalau Viona sudah menerimanya sebagai kekasih, baru pelan - pelan akan menjelaskan tentang perjodohannya.
Leon akan meyakinkan Viona untuk berjuang bersama dan menunggunya sampai ia bisa mandiri dan sukses. Sehingga ia bisa menolak perjodohannya.
bersambung..
silahkan kasih komentar buat karyaku ya..
__ADS_1
kasih vote juga, terimakasih readers!