
Mama Audi masuk ke dalam kamar Leon, "Leon, bisa mama bicara sebentar?"
"Silahkan masuk Ma, Papa dan Dimas kemana?" tanya Leon.
"Mereka pergi dengan Aurora. Mama sengaja tidak ikut menunggumu pulang. Kamu bisa cerita ke mama, apa yang sebenarnya terjadi kemarin?" tanya Mama Audi sambil duduk di samping Leon.
"Ma.. aku lagi kecewa dan sedih." ucap Leon dengan mata yang berkaca - kaca.
Semenjak Leon dewasa, Mama Audi belum pernah melihatnya menangis. Hati seorang ibu mana yang tidak merasa pilu melihat putranya menangis. Ingin sekali membela anaknya namun keputusan suaminya juga tidak bisa ditentang.
"Sabar ya sayang.." ucap Mama Audi sambil menatap lembut putra pertamanya.
"Aku harus bagaimana Ma? Aku mencintai Viona, aku tidak mau kehilangannya." kata Leon pada akhirnya, ia ingin mamanya mengetahui siapa wanita yang ia cintai.
"Jadi Viona namanya ya? yang bisa membuat anak mama menangis." kata Mama Audi.
"Iya Ma, dia sahabatku sejak SMA. Akhirnya kami saling jatuh cinta Ma." jelas Leon.
"Sabar dulu ya sayang, mama pelan - pelan akan membujuk papamu. Tapi untuk saat ini jangan terlalu keras menentangnya dulu. Kamu tau kan sifat papamu." kata Mama Audi.
"Beneran Ma? tolong bantu Leon ya Ma, Mama harapan Leon satu - satunya." pinta Leon.
"Mama usahakan, tapi tidak bisa janji secepat itu ya Leon." balas Mama Audi.
"Makasih ya Ma." ucap Leon sambil memeluk mamanya erat.
**
Papa Dirga, Dimas dan Aurora sedang berada di taman kota. Mereka sedang menikmati sarapan bubur ayam di salah satu warung di sekitar taman.
__ADS_1
"Dimas, Rara, kalian tau siapa kekasih Leon?" tanya Papa Dirga tiba - tiba.
Dimas dan Aurora hanya saling berpandangan.
"Engg.. gimana ya Pa?" tanya kembali Dimas seolah - olah tidak mengerti pertanyaan papanya.
"Sudah kamu tidak perlu menutup - nutupi. Papa sudah tahu. Sewaktu kamu liburan kemarin pasti kenal kan siapa pacar kakakmu!" kata Papa Dirga.
"Eh itu Pa.. iya pa.. aku tau." jawab Dimas akhirnya. Dia sebenarnya tidak enak hati dengan kakaknya.
"Jadi benar gadis yang kemarin datang itu pacar Leon. Rara kamu yang sabar ya, mungkin saat ini Leon butuh waktu untuk menerima perjodohan kalian. Om yakin kalau Leon bukan anak pembangkang."
"Eh iya Om, aku tidak apa - apa kok. Kami kan baru saling mengenal, mudah - mudahan hati Leon bisa terbuka untukku." jawab Aurora. Tetapi dalam hatinya ragu - ragu, karena sampai saat ini Leon semakin jaga jarak dengannya.
***
"Viona tunggu...!" teriak Leon saat melihat kekasihnya sedang berjalan di depan taman kampus.
Namun langkah Leon lebih cepat mendekatinya, dan akhirnya lengannya berhasil diraih Leon.
"Please.. Vio.. aku mohon kita bisa bicara sebentar?" ucap Leon sambil memohon.
Viona menatap Leon tak tega, "Baiklah tapi tidak di sini."
"Oke ikut aku!" ajak Leon.
Viona hanya mengangguk, kemudian mereka berdua pergi ke suatu tempat yang tidak terlalu banyak orang.
Mereka tiba di sebuah danau wisata di pinggir kota. Selama perjalanan mereka tidak saling berucap sepatah katapun.
__ADS_1
"Viona.. maafkan aku. Aku tidak bermaksud membohongimu. Aku terlalu takut kehilanganmu." ucap Leon sambil memegang kedua tangan Viona.
Namun Viona menepis tangan Leon, "Aku gak nyangka kamu setega ini sama aku Leon! Aku percaya sama kamu, tapi apa balasanmu!" ucap Viona dengan air mata yang mulai berlinang.
"Maaf..." balas Leon lirih. Ia hanya menunduk tidak berani menatap wajah Viona, apalagi Viona sedang menangis.
"Maaf katamu! Apa arti aku bagimu Leon? Pintar sekali kalian berdua bersandiwara, kenapa Lee?" kata Viona dengan sesenggukan menahan tangisnya.
"Aku mohon Vio, tolong mengerti keadaanku, perjodohan ini begitu mendadak, aku juga akan memberitahumu pada saat yang tepat. Tapi ternyata... aku tidak mencintai Aurora, aku hanya mencintaimu. Aku ingin kita memperjuangkan cinta kita sayang. Aku mohon tunggu aku, sampai aku lulus dan berhasil mandiri." jelas Leon.
"Enggak perlu Leon. Kita putus!" ucap Viona sambil berlari pergi meninggalkan Leon.
"Tunggu Viona! Aku tidak akan putus denganmu!" Leon berhasil memeluk Viona dari belakang, ia juga menangis.
"Terserah! Yang jelas aku tidak mau mempunyai hubungan tanpa restu orangtua. Jadi lebih baik kita putus Leon!" ucap Viona yang tetap tidak bergeming dengan permintaan Leon.
"Walaupun kamu bilang putus, tapi aku tidak sayang, sampai kapanpun kamu adalah kekasihku!" kata Leon pantang menyerah.
"Please lepaskan aku Leon, kita masih muda, masih banyak waktu. Kamu pasti lambat laun bisa melupakanku. Belajarlah mencintainya, aku yakin Rara wanita yang baik. Kita memang ditakdirkan menjadi sahabat saja Leon bukan sebagai kekasih!" ucap Viona.
"Oke.. aku anggap kamu masih butuh waktu memikirkan permintaanku. Aku tidak akan memaksa, aku tidak mau menyakitimu sayang." ujar Leon akhirnya. Ia pun melepaskan pelukannya dan membiarkan Viona berlari meninggalkannya.
Viona berlari meninggalkan Leon yang masih berdiri menatap kepergiannya.
Brukkkk...
Viona menabrak seseorang saat berlari.
"Kak Adrian?"
__ADS_1
"Viona"
bersambung..