
"Leon.. apa katamu?" tiba - tiba Papa Dirga datang.
"Papa?" balas Leon terkejut.
"Apa maksud perkataanmu tadi?" tanya Papa Dirga kembali.
"Pa sudah lanjut nanti saja, Papa dan Dimas mandi dulu sana." kata Mama Audi sambil mendekati suaminya supaya tidak marah.
"Nanti kita bicara lagi Leon!" ucap Papa Dirga, yang kemudian lebih menuruti kata istrinya untuk membersihkan diri.
Sedangkan Dimas memeluk kakaknya senang, "Kak.. aku kangen!"
"Iya dek, sama kakak juga kangen!" balas Leon sambil mengelus punggung adiknya.
"Aku mandi dulu ya kak." pamit Dimas sambil melepaskan pelukannya.
"Sama aku juga mau mandi dulu." balas Leon.
Setelah ketiganya selesai membersihkan diri, mereka menuju meja makan. Di sana Mama Audi sudah menunggu untuk makan malam bersama.
Suasana hening saat makan, hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu.
Selesai makan, "Leon, papa tunggu di ruang kerja." perintah Papa Dirga dengan tegasnya.
"Ya Pa." jawab Leon singkat.
Kemudian Leon mengikuti papanya menuju ruang kerjanya.
"Duduk." titah Papa Dirga.
Leon duduk di kursi di depan meja kerja papanya.
"Apa maksud perkataanmu tadi?" tanya Papa Dirga sambil menatap intens putra pertamanya.
"Begini Pa, kami, aku dan Aurora sepakat untuk membatalkan perjodohan kami." jawab Leon dengan berusaha setenang mungkin supaya tidak emosi menanggapi papanya.
"Kenapa kalian yang memutuskan Leon? Kita harus bertemu dengan keluarga Andika dulu. Besok papa coba hubungi. Sekarang kamu istirahat saja dulu." jelas Papa Dirga bijak.
"Terimakasih Pa. Aku pamit dulu, selamat malam Pa." ucap Leon.
"Malam juga nak." balas Papa Dirga.
Setelah kepergian anaknya, Papa Dirga merenung. Di satu sisi beliau kecewa karena anaknya tidak mau menuruti kemauannya, namun di sisi lain juga kasihan melihat Leon konsisten menolak perjodohan itu. Beliau penasaran apa kelebihan yang dimiliki seorang Viona sehingga bisa membuat putranya bertekuk lutut.
**
Keesokan paginya, Papa Dirga segera menghubungi sahabatnya Andika. Akhirnya mereka sepakat untuk bertemu malam nanti.
Leon pagi ini berencana mengajak Viona jalan - jalan menikmati kuliner di Kota B. Leon sudah tidak peduli lagi apakah ia akan mendapat restu atau tidak. Leon sudah memilih untuk memperjuangkan kebahagiaan hidupnya, yaitu bersama Viona.
Setelah memberitahu Leon kalau mereka akan janji temu dengan keluarga Aurora malam nanti, Papa Dirga berangkat ke kantor.
"Leon kamu mau ke mana?" tanya Mama Audi.
"Aku akan menjemput Viona Ma, kami akan keliling kota. Viona suka kuliner jadi ia pasti akan senang mencoba makanan khas daerah sini." jawab Leon antusias.
__ADS_1
"Ya sudah, hati - hati ya. Mau pakai mobil mama?" tawar Mama Audi.
"Boleh Ma?" balas Leon tak percaya.
"Kan mama sudah nawarin, pasti bolehlah!" jawab Mama Audi.
"Kak, aku boleh ikut?" tanya Dimas tiba - tiba.
"Ayuk!" jawab Leon singkat.
"Asyiikkk. Ma, Dimas pamit dulu ya!" balas Dimas bahagia.
"Aku juga ya Ma. Mana kuncinya?" pamit Leon.
"Kalian hati - hati ya. Ada di tempat gantungan kunci di garasi nak." jawab Mama Audi.
"Siap Ma!" jawab Leon dan Dimas bersamaan.
Leon dan Dimas bergegas menuju garasi mobil, kemudian mereka meluncur menjemput Viona di Hotel Luxury.
"Kak, selamat ya akhirnya bisa memilih wanita yang kau cintai!" ucap Dimas.
"Makasih dek. Kamu sok dewasa banget sih!" ucap Leon gemas pada adik satu - satunya itu.
"Kak Vio udah tau kita jemput?" tanya Dimas.
"Udah tadi ku sms." jawab Leon singkat.
Tak lama kemudian mereka sampai di lobi hotel, dan Viona sudah menunggu di sana. Viona kemudian masuk ke dalam mobil.
"Iya kak, pengen ketemu kakak juga hehehe.." kelakar Dimas.
"Dek kamu kok jadi genit sih! hahaha" ledek Leon.
"Kan calon kakak ipar!" balas Dimas.
"Bisa aja ngelez.nya!" ucap Leon.
"Dimas.. Dimas.. kamu tambah imut aja!" puji Viona.
"Makasih lho Kak Vio, kakak juga tambah cantik, pantesan abangku ini bisa tergila - gila!" sengaja Dimas menggoda Leon.
"Tuh kan, kamu tambah gombal banget sih! jangan - jangan kamu malahan udah punya pacar juga?" ledek Leon lagi.
"Rahasia hahaha!" jawab Dimas sambil tertawa.
"Awas kalau pacaran ya, belajar yang bener dulu!" ancam Leon kepada Dimas.
"Lee jangan galak - galak dong!" sela Viona.
"Makasih kakak belain aku" ucap Dimas, kemudian ia menjulurkan lidahnya ke arah Leon, "weeekk!"
"Sudah dong jangan berantem, kita mau ke mana nih?" tanya Viona melerai kakak adik di depannya.
"Ehmm.. kamu udah sarapan belum sayang?" tanya Leon mesra ke Viona.
__ADS_1
"Udah tadi di hotel." jawab Viona.
"Kalau begitu kita kuliner pas makan siang aja, kalau sekarang kita jalan - jalan di Kebun Megah dulu ya?" jelas Leon.
"Oke, asyikk kita bisa lihat bunga - bunga yang indah!" balas Viona dengan gembira.
Mereka telah sampai di Kebun Megah Kota B, di sana banyak terdapat beraneka macam tanaman dan bunga, terutama yang langka dan jarang ditemui di tempat umum.
Viona merasa bahagia sekali menikmati betapa indahnya bunga - bunga di sana. Mereka bergantian berfoto di depannya.
"Vio, maaf hari ini mungkin aku belum bisa mengajakmu ke rumahku. Malam nanti ada pertemuan kelurgaku dengan keluarga Rara." ucap Leon hati - hati.
"Ya ga pa - pa Lee, aku bisa istirahat di hotel. Semoga nanti acaranya lancar ya, aku tidak mau kamu sampai kebawa emosi lho." balas Viona.
"Iya, selama Papa tidak egois dan tidak memaksakan kehendaknya, aku akan berusaha menahan diri. Nanti kan Rara juga akan ikut meminta pembatalan perjodohan kami, jadi semua tergantung Rara. Mudah - mudahan Rara tidak berubah pikiran." jelas Leon.
"Ya sayang." ujar Viona.
"Tumben panggil aku sayang?" goda Leon.
"Kan memang sayang beneran." balas Viona.
"Hem.. hemm.. ada aku lho kak, aku ga di sayang juga?" ledek Dimas yang sedari tadi hanya memperhatikan dua sejoli yang sedang di mabuk asmara itu.
Reflex Leon dan Viona mencubit gemas kedua pipi Dimas.
"Auwww.. sakit kak!" teriak Dimas sambil memegang pipinya yang agak memerah.
Kemudian Dimas ganti mau membalas, namun Leon dan Viona terlanjur kabur. Terjadilah kejar - kejaran antara Dimas, Leon dan Viona.
Setelah puas menikmati suasana di Kebun Megah, mereka mulai kelelahan. Berhubung sudah waktunya makan siang, maka Leon mengajak Viona untuk makan soto dan jajanan khas dari kotanya.
Viona tampak senang sekali, ini baru pertama kalinya ia mengunjungi Kota B. Tak terasa sore menjelang, Leon dan Dimas mengantar kembali Viona ke hotel.
**
Malam hari di sebuah restoran masakan barat yang terkenal di Kota B. Kedua keluarga Leon dan Aurora berkumpul.
Mereka tampak menikmati hidangan di sana, kecuali Leon. Ia merasa gugup juga kalau sampai usahanya gagal.
"Oh ya, Dirga apa yang hendak kamu bicarakan? sepertinya ada yang serius?" tanya Papa Andika memulai obrolan.
"Begini Dika, tentang anak - anak kita. Kemarin Leon meminta aku untuk berbicara denganmu. Katanya, mereka telah sepakat untuk membatalkan perjodohan mereka. Benarkah itu Nak Rara?" jelas Papa Dirga.
Semua yang ada di situ reflex menoleh ke arah Aurora.
"Eh.. iya benar Om!" jawab Aurora gugup.
"Yakin kamu sayang?" tanya Papa Andika kepada putri tunggalnya.
"Iya Pa, kami telah sepakat. Kami sudah berusaha untuk saling mengenal selama 6 bulan ini. Tapi ternyata kami tidak bisa saling jatuh cinta." jelas Aurora.
"Betul Om, Tante, Papa dan Mama, aku mohon maaf sekali tidak bisa memenuhi keinginan kalian. Aku hanya bisa menganggap Rara sebagai teman saja." jelas Leon menimpali ucapan Aurora.
"Ohh.." ucap Papa Andika yang ambigu.
__ADS_1
bersambung..