
Ting.. tong..
Terdengar suara bel apartemen kamar Leon berbunyi.
Leon menyuruh Dimas membukakan pintunya. Nampaklah gadis cantik berambut panjang dan tinggi semampai, yang tak lain adalah Aurora.
"Hai calon adek iparku!" sapanya ramah ke Dimas.
"Halo Kak Rara. Ayo masuk kak, kita lagi sarapan. Kakak sudah sarapan belum?" balas Dimas ramah.
"Sudah kok tadi di hotel." jawab Aurora sambil melihat ke arah Leon. Ia sangat mengagumi penampilan Leon pagi ini, rambut hitam cepak disisir ke belakang sehingga menampakkan dahinya. 'Perfect gantengnya,' batinnya.
Kemudian Aurora bergabung duduk di meja makan.
"Leon hari ini temenin aku ya?" ucap Aurora tanpa basa basi.
"Maaf aku tidak bisa, ada janji." jawab Leon singkat.
"Kok gitu sih, kamu kan janji mau nemenin aku di sini?"
"Janji? kapan ya?"
"Kemarin pas pamit sama Om dan Tante Dirga!"
"Owh kan sekarang ga ada Papa Mamaku."
"Susah ya ngomong sama cowok sok cool kayak kamu!"
"Terserah kamu mau bilang apa, nanti aku tanyakan pengelola gedung, apa masih ada kamar kosong tidak. Cukup itu tugasku."
"Terus selama kamu pergi, aku nunggu di mana?"
"Kamu bisa nunggu di sini, atau jalan - jalan kan ada Pak Kurdi. Bener kan pak?"
"Eh iya Mas. Nanti Non Rara biar bapak antar saja kalau mau pergi." ucap Pak Kurdi spontan, sebenarnya ia ingin menengahi perdebatan Leon dan Aurora, namun ia tahu diri.
"Tuh kan Pak Kurdi aja siap."
"Dimas yang cakep, kamu ikutan sama kakak ya?" tanya Aurora pada Dimas tanpa memperhatikan ucapan Leon.
"Waduh gimana ya.. aku ngikut Kak Leon aja. Gimana Kak?" tanya Dimas ke kakaknya Leon.
"Dimas nanti ikut aku. Pokoknya hari ini jangan ganggu aku. Kalau kamu pengen aku anterin, baru bisa besok. Jelas!" ucap Leon tegas.
Aurora hanya bengong dan berkata, "Dari tadi bilang kan enak, jadi kita tidak perlu berdebat Leon!"
Tak pelak hati Aurora berbunga - bunga, ternyata Leon tak seburuk yang ia kira.
"Ayok Dimas, kita berangkat. Pak Kurdi saya pamit dulu ya. Nanti kalau mau pergi di tutup aja pintunya, nanti saya kasih tau paswordnya." pamit Leon.
__ADS_1
"Ya Mas, hati - hati." ucap Pak Kurdi.
"Kak Rara aku pergi dulu ya." pamit Dimas yang sebenarnya tidak tega, namun ia lebih takut kalau kakaknya marah.
"Ya dek! Jaga kakakmu ya, soalnya makhluk langka tuh hihii!"
Leon langsung melotot tapi beda dengan Dimas, ia hanya tertawa. Dimas tau kalau kakaknya kesal, jadi langsung menarik tangannya supaya lekas pergi.
Setelah Leon dan Dimas keluar, Aurora berdiri ingin melihat kondisi dan isi apartemen Leon. Ia jadi membayangkan kejadian pada novel - novel yang pernah ia baca, pada adegan - adegan mesra yang terjadi di apartemen. Rasanya apakah mungkin akan terjadi? Perjodohan terpaksa yang berakhir saling mencintai, akankah Leon juga mencintainya?
**
Leon dan Dimas sudah sampai di rumah Viona. Nampak di halaman depan rumah, mamanya Viona sedang menyirami tanaman. Ia melihat kedatangan mereka.
"Leon.. sini nak masuk!" sapa Mama Sinta ramah sambil membukakan pintu gerbang.
"Pagi Tante, Viona ada?" balas Leon.
"Pagi juga, duh langsung Vio yang dicari, udah kangen ya? eh ini siapa ada cowok ganteng imut?"
"Hehehe.. tante bisa aja, oh ya kenalkan ini adek saya, namanya Dimas, ayo dek salam sama Tante."
Dimas menyalami dengan mencium tangan Mama Sinta. Mereka beriringan masuk ke ruang tamu.
"Tante, ini ada oleh - oleh." kata Leon sembari menyerahkan tas parcel yang berisi beraneka ragam makanan khas Kota B.
Kemudian Leon dan Dimas duduk di sofa ruang tamu.
Tak berapa lama keluarlah Viona dengan baju kasualnya dan hiasan wajah natural.
Seperti biasanya, Dimas sangat ekspresif, "Wow cantik banget!"
Leon juga melihat ke arah Viona, baru semingguan mereka tidak bertemu, namun dimata Leon, Viona nampak lebih cantik.
"Haii Lee! eh ini siapa?" sapa Viona dengan ceria.
"Hai Vio, kok langsung nanya adekku sih!" ucap Leon dengan mimik wajah pura - pura marah.
"Duh salah omong ya, kan udah aku sapa hai Lee! masak sama adek sendiri cemburu sih." kilah Viona.
"Bercanda Vio, kenalkan ini adekku Dimas" kata Leon.
Dimas pun berdiri menyalami Viona.
"Adekmu imut banget Lee, kelas berapa kamu dek?"
"Aku kelas 2 SMP kak, memang kata mamaku juga begitu, malahan mama bilang kalau aku lebih tampan dibanding Kak Leon heheee.." jawab Dimas yang sengaja mengusili kakaknya.
"Hahaha benar kamu dek, apalagi kakakmu itu dingin dan cuek, ihh seremmm..!" ledek Viona.
__ADS_1
"Terus aja jelek - jelekin aku, ga pa - pa kok. Aku rela kalau kalian yang bicara!" balas Leon pura - pura kesal.
"Kan bener apa kataku, kakakmu ini juga kurang ekspresi, susah diajak bercanda!"
"Vio, kita baru aja bertemu lho, masak udah ribut? kurang ekspresi bagaimana lagi, kamu tidak ingat terakhir kita bertemu seperti apa?"
"Hehehe iya Lee, maaf udah dong jangan ngambek. Ada Dimas lho." jawab Viona yang menampakkan wajahnya mulai merona karena malu mengingat kejadian sewaktu tiba - tiba Leon menciumnya.
Viona kemudian memilih duduk di samping Dimas dibanding Leon. Ia ingin bersikap biasa aja mengingat saat ini tidak hanya mereka berdua.
Pembantu Viona keluar menyuguhkan teh dan pisang goreng.
"Lee, Dimas silahkan diminum tehnya, dimakan juga pisangnya, masih hangat lho" tawar Viona.
"Iya Vio, santai saja nanti pasti juga habis. Oh ya Vio, sudah ada pengumuman hasil tes belum ya?" balas Leon.
"Kemarin kubaca di koran kalau tanggal 12 Juni pengumumannya. Oh ya kamu belum cerita kenapa mendadak kembali Lee?"
"Dimas, bisa kamu keluar sebentar di teras, kakak mau bicara dengan Vio." pinta Leon kepada adeknya.
"Baiklah.." jawab Dimas kemudian ia keluar menuju taman, di sana masih ada Mama Sinta, akhirnya Dimas memilih bergabung dengannya.
Setelah Dimas keluar, Leon bergeser pindah duduk lebih dekat dengan Viona.
"Begini Vio, kan pernah aku menyebut nama anak teman papaku, Aurora, ingat kan?" tanya Leon sambil menatap wajah Viona.
"Ingat, kenapa cewek itu?"
"Nah dia mau kuliah di sini juga, jadi teman papa minta tolong aku buat nemenin cari tempat kos." jelas Leon, tapi ia belum sanggup cerita kalau mereka dijodohkan.
"Owh begitu ya, ketrima di mana kuliahnya?"
"Katanya sih di Universitas Kusuma Bangsa (merupakan salah satu universitas swasta terbaik di Kota Y)."
"Ya.. ya.. kamu mau carikan kos daerah mana Lee? apa tinggal di rumahku aja? buat teman aku."
Leon terkejut mendengar perkataan Viona, hampir saja ia menyemburkan teh yang diminumnya.
Viona nampak curiga melihat reaksi Leon, "Pelan - pelan Lee kalau minum. Kan benar, aku anak tunggal, di sini ada kamar kosong, apalagi Aurora baru di sini." jelasnya.
"Ga usah Vio, besok kemungkinan mau cari yang selokasi dengan apartemenku, aku nanti mau menanyakan pengelola gedungnya."
"Ya sudah kalau begitu." ujar Viona, tak sengaja ia melihat ke arah luar jendela, ada sesosok wanita asing yang mengobrol bareng Dimas dan mamanya.
Leon mengikuti arah pandang matanya Viona, ia terkejut dan reflex berucap, "Aurora?!"
"Apa Lee?" timpal Viona.
bersambung..
__ADS_1