
Tak terasa ujian akhir semester telah berlalu. Keempat sahabat di tambah Aurora dan David sedang berkumpul makan bersama di rumah Viona untuk melepaskan penat setelah ujian berakhir.
Mereka sedang menikmati ikan bakar dengan nikmat. Tawa dan canda mengiringi keakraban mereka.
Viona masih canggung dengan Aurora. Tak sengaja mereka beriringan menuju dapur untuk meletakkan piring kotor.
"Ra bisa bisa bicara sebentar?" tanya Viona hati - hati.
"He em.. ada apa?" ucap Aurora.
"Maaf sejak kejadian itu kita belum sempat bertemu kembali. Sekali lagi aku minta maaf ya, aku tidak bermaksud..." ucap Viona sebelum selesai bicara Aurora sudah memotong pembicaraan mereka.
"Cukup tidak perlu dilanjutkan, kamu juga tidak perlu merasa bersalah Vio. Sekarang aku menyadari kalau cinta tidak bisa dipaksakan. Malahan aku yang hampir saja memisahkan kalian." jelas Aurora.
"Makasih atas pengertianmu Ra. Aku sangat mencintai Leon." balas Viona.
"Aku tau." kata Aurora.
"Oh ya sepertinya kalian semakin dekat." ucap Viona.
"Kalian? aku maksudnya? dengan siapa?" tanya Aurora pura - pura tidak mengerti.
"Kamu dan Abdi." jawab Viona.
"Oh, aku masih belajar mencintainya kok. Aku hanya merasa nyaman saka bersamanya." jelas Aurora jujur.
"Ya mudah - mudahan kalian berjodoh. Abdi dulu memang playboy. Tapi sejak kenal kamu entah kenapa jadi insyaf hehehe.." harap Viona.
"Bisa aja kamu Vio." balas Aurora.
"Oh ya, liburan kamu pulang Ra?" tanya Viona.
"Rencana sih gitu." jawab Aurora.
"Oke. Ya udah kita ikut gabung teman - teman yuk!" ajak Viona.
Mereka berdua kembali berkumpul dengan teman yang lain.
Ada rasa lega di hati Viona, jadi ia merasa tidak bersalah lagi.
Malam semakin larut, saat hendak berpamitan, tiba - tiba Adrian datang, "Malam semua, loh kok udah selesai?"
"Udah. Yuk pulang Dri!" jawab David sambil mendekati sahabatnya itu, karena ia melihat tanda - tanda Adrian mau membuat ulah.
"Sebentar, aku kan baru datang. Aku juga kangen sama Viona." kata Adrian sengaja memancing emosi Leon.
"Apa maksudmu?" tanya Leon sengit.
Saat itu Viona agak takut melihat Leon mulai terpancing emosinya, ia mendekati Leon dan memegang lengannya untuk meredakan emosinya.
"Ga ada maksud apa - apa, aku hanya kangen sama Viona, apa tidak boleh? iya kan Vio?" goda Adrian dengan sengaja.
Leon memegang kerah baju Adrian, "Viona milikku, kamu jangan pernah ganggu dia!" ancamnya.
David dengan sigap memegang tangan Adrian, sedangkan Abdi menahan Leon.
__ADS_1
"Sudah Dri, jangan buat masalah, ayo kita pulang! Citra kamu bareng Abdi ya pulangnya, mas mau urus Adrian dulu." kata David sambil menarik tangan Adrian untuk meninggalkan rumah Viona.
"Iya mas" jawab Citra.
Sebelum Adrian pergi ia masih sempat berucap, "Ingat Leon! Kalau kamu sampai membuat Viona menangis lagi, akan kurebut kembali Viona!" ancamnya.
"Tidak akan bang! Viona hanya milikku!" teriak Leon.
"Sudah Lee.. jangan ditanggapi!" pinta Viona dengan raut muka yang hampir menangis. Ia tak menyangka Adrian akan senekat itu.
Akhirnya Abdi, Citra dan Aurora pamit pulang. Tinggallah Leon dan Viona berdua.
"Sayang.. jangan pernah tinggalkan aku lagi ya." ucap Leon lirih.
"Iya sayang, tapi tolong lain kali kalau kamu ketemu Kak Adri lagi, jangan ditanggapi ya. Aku tidak mau kalian ribut gara - gara aku." pinta Viona.
"He..em.. aku malas kamu sebut namanya lagi." jawab Leon.
"Iya.. maaf Lee. Ya udah sudah malam, sebaiknya kamu pulang dulu." balas Viona.
"Oke, pamit ke Tante Sinta dulu." kata Leon.
Akhirnya Leon pulang setelah berpamitan dengan Mama Sinta.
**
Hari Minggu pagi, Leon bersiap - siap menjemput Viona ke stasiun. Hari ini mereka hendak ke Kota B, ke rumah Leon.
Setelah berpamitan dengan Papa Arga dan Mama Sinta, Leon dan Viona bergegas menuju di stasiun.
"Hai Ra!" sapa Viona ramah.
"Hai, kamu ikutan Vio?" tanya Aurora keheranan.
"Emm iya." jawab Viona singkat.
"Abdi ga anterin kamu Ra?" tanya Leon.
"Tadi nganterin kok, setelah aku masuk peron dia pulang." jawab Aurora.
"Gerbong brp Ra?" tanya Viona.
"Aku di gerbong 3, kalian di mana?" tanya Aurora balik.
"Kami di gerbong 1." jawab Viona.
"Ra, bisa bicara sebentar? Maaf Vio, aku mau ngobrol penting dengan Rara." ucap Leon.
"Baiklah, aku beli minuman dulu ya." pamit Viona.
"Ada apa Leon?" tanya Aurora.
"Sebelumnya aku minta maaf ya, aku tidak bermaksud menyakitimu. Tapi aku tidak bisa melanjutkan perjodohan kita." kata Leon dengan tulus.
"Iya aku ngerti Leon. Kamu tenang saja, sekarang aku menyerah. Nanti kita sama - sama menghadap kedua orangtua kita untuk membatalkannya." balas Aurora.
__ADS_1
"Beneran Ra?" tanya Leon tidak percaya.
"Iya Leon, aku menyadari kalau cinta bukan hal yang untuk dipaksakan." jelas Aurora.
"Terimakasih banyak ya Ra, aku harap kamu akan menemukan jodoh yang mencintaimu dengan tulus." ucap Leon.
"Amin. Maaf juga ya Leon, selama ini aku egois, dan hampir saja menghancurkan hubunganmu dengan Viona." balas Aurora.
"Sama - sama Rara. Gimana perkembangan hubunganmu dengan Abdi?" tanya Leon.
"Baik. Aku merasa nyaman bersamanya. Andai tidak ada Adrian mungkin aku tidak sekuat ini." jawab Aurora jujur.
"Bukalah hatimu untuknya Ra. Abdi serius denganmu." saran Leon.
"Aku akan berusaha Leon. Terimakasih saranmu. Oh ya, mana Viona? kereta sebentar lagi berangkat." kata Aurora.
"Oh ya, aku telepon dia dulu." ucap Leon.
Belum sempat Leon menelepon, Viona sudah kembali membawa minuman buat mereka.
Kemudian mereka segera naik menuju tempat kursi masing - masing. Kereta berangkat tepat jam 10 pagi.
Setelah menempuh 8 jam perjalanan sampailah mereka di Kota B.
Leon memesan taksi yang ada di parkiran stasiun Kota B.
Di dalam taksi Viona berkata, "Lee aku takut, sebaiknya aku menginap di hotel saja ya. Ga enak malam - malam begini mendadak ke rumahmu."
"Ya sudah kalau kamu belum yakin. Ada hotel yang dekat rumah kok. Aku pesankan dulu ya." balas Leon yang menyetujui ada benarnya keputusan Viona.
Leon kemudian menghubungi Hotel Luxury dan memesankan 1 kamar untuk Viona.
Setelah mengantar Viona ke hotel, Leon melanjutkan perjalanan pulang.
Mamanya terkejut melihat kehadiran Leon.
"Halo sayang! kok ga ngabarin sih, kan mama bisa jemput." ucap Mama Audi.
"Surprise Ma. Kok sepi, mana Dimas dan Papa?" tanya Leon.
"Mereka pergi mancing dari tadi pagi belum pulang, tau sendiri hobi papamu dari dulu." jelas Mama Audi.
"Owh ya ya.. Ma, aku kesini bareng Viona. Sekarang dia menginap di hotel." ucap Leon.
"Viona siapa?" tanya Mama Audi kebingungan.
"Pacarku Ma, yang dulu aku pernah cerita." jawab Leon apa adanya.
"Maaf mama agak lupa. Lah terus nanti gimana kalau papamu marah nak? kenapa kamu ga bilang mama dulu sih?" protes Mama Audi.
"Begini Ma, aku sudah sepakat dengan Aurora kalau kami akan membatalkan perjodohan ini." jelas Leon.
"Leon.. apa katamu?" tiba - tiba Papa Dirga datang.
bersambung...
__ADS_1
terimakasih buat para pembaca yang sudah mampir ke karyaku..